Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
24) Melarikan Diri


__ADS_3

"Tunggu. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan alur novel!" jerit Lucy berhenti mengingat tentang novel dan buru-buru keluar dari mal lewat pintu lain.


Sementara di sisi lain, Kodee baru sampai di depan Sean dan langsung bertanya pada temannya itu. "Hei, apa kau lihat ke mana Lucy pergi?"


"Entahlah, aku tak tahu ke mana gadis itu pergi," jawab Sean terlihat kesal. "Tapi, kenapa kau terlihat marah sekali?"


"Langsung saja ke intinya, aku ingin membunuh Lucy sekarang."


"Ternyata tujuan kita sama!"


Kerutan bingung muncul di dahi Kodee usai mendengar seruan tersebut. Dengan nada heran yang tak dapat ditahan ia bertanya, "Kenapa kau juga ingin membunuh Lucy?"


"Pertama karena saat tidur di rumahku dia membuat pulau di bantalku."


"Lalu?"


"Kedua karena tadi dia menipuku dengan menyebut jika Yuka sedang memakai bikini."


Sean mengepalkan tangan kuat-kuat lalu berlari kencang, sedangkan Kodee langsung mengikuti dari belakang. Jujur saja penjelasan terakhir membuatnya ingin mengumpat. Bagaimana bisa teman dekatnya yang pintar itu termakan oleh tipuan aneh?


Meski demikian, Kodee tak berminat untuk mengejek Sean karena percaya temannya bisa membantu. "Apa kau yakin Lucy berlari ke arah sini?" tanyanya memastikan.


"Hah, kau bilang apa? Aku tak mengerti maksud ucapanmu," sahut Sean terdengar bingung.


"Maksudku, sekarang kan kau sedang berlari menyusul Lucy. Aku hanya ingin memastikan apa ini arah yang benar," ulang Kodee sedikit mengeraskan suaranya.


Tiba-tiba saja Sean berhenti berlari, menengok ke belakang dan menggaruk dahinya. Dengan wajah tanpa dosa ia berkata, "Aku sedang berlari ke arah toko pakaian. Katanya mereka akan memberi diskon 50% untuk sepuluh pembeli pertama."

__ADS_1


"Jadi, apa maksudnya?" Kodee menyipitkan mata.


"Tadi aku berlari karena tak ingin kehabisan diskon. Kau salah paham, Kodee. Aku tidak sedang mengejar Lucy. Kenapa juga aku harus membuang waktu dengan mengejar gadis sialan itu?"


Tak ada balasan dari Kodee karena ia menanggapi ucapan tersebut dengan sebuah pukulan. Pria itu menghunjamkan bogem mentah tepat ke wajah Sean. Aksinya ini menimbulkan keributan di mall, tapi ia tak peduli dan segera berlari agar tidak kehilangan jejak.


Seingatnya Lucy berlari menuju pintu keluar mall yang berada di dekat pangkas rambut. Tanpa menunggu lama Kodee pergi ke sana dan tak menemukan apa pun. Matanya memicing jengkel ketika melihat deretan mobil terparkir dengan rapi di sana.


Kodee yakin sekali jika Lucy menumpang pada salah satu pemilik mobil, sebab gadis itu tak mempunyai uang untuk membayar ongkos taksi. Kini masalahnya bertambah rumit. Tak mungkin ia menerka-nerka siapa orang yang dimintai pertolongan karena itu tidak berguna.


Dengan demikian, Kodee kembali ke dalam mal dan menghampiri Sean yang dibantu berdiri oleh tiga pria berpakaian hitam. Tampaknya mereka adalah bodyguard keluarga Kalev, keluarga temannya sekaligus pemilik dari mall ini.


"Hai, Sean! Bolehkah aku memintamu untuk mengecek CCTV di tempat parkir?" tanya Kodee melambaikan tangan dan tersenyum ringan, seolah tangannya tak pernah melakukan kejahatan beberapa waktu lalu.


Sean yang kepalang emosi sontak mengacungkan jari tengah. "Dasar sinting! Lima menit lalu kau baru saja memukul wajahku, dan sekarang kau meminta bantuanku dengan begitu santai. Apa kau waras?"


"Karena aku tidak waras jadi tak masalah melakukan ini," jawab Kodee mengangkat bahu tak peduli.


"Karena kau berbaik hati maka aku akan membantumu lain kali."


"Karena kau akan membantuku lain kali maka aku juga akan membantumu lagi."


"Karena kau banyak bacot aku akan menyumpal mulutmu dengan tanganku."


Tanpa aba-aba Kodee mengepalkan tangan dan nyaris meninju wajah Sean andaikan para bodyguard tidak ikut campur. Mereka dengan kompak menahan pukulannya sehingga ia hanya bisa mendengkus sebal. Suka tak suka pria itu harus bersikap tenang dan mengikuti Sean yang berjalan menuju ruang CCTV.


Sementara itu, beberapa menit sebelumnya Lucy tiba di tempat parkir dan kelimpungan sendiri. Ada beberapa orang di sana, tapi masalahnya mereka adalah orang asing yang pasti tak bersedia memberi bantuan. Di satu sisi jika ia tak mengemis pertolongan maka Kodee akan berhasil menangkapnya.

__ADS_1


"Aku akan memuja siapa saja yang mau menolongku," gumam Lucy merapatkan kedua tangan seolah tengah berdoa.


Tepat setelah itu matanya menangkap sosok pria tampan dengan jas putih berjalan medekati salah satu mobil.


Jika ingatannya tak salah pria itu adalah Triton Waltteri, seorang dokter hebat yang baik hati dan akan menjadi suami keempat Yuka di masa depan. Triton terkenal sebagai dokter mulia karena sering menolong siapa pun, meski tidak dibayar.


Sebuah ide pun muncul di pikiran Lucy. Dengan cepat ia melangkah ke arah Triton, kemudian pura-pura jatuh pingsan. Dan sesuai dugaan. Dokter tersebut langsung merangkulnya sambil mengatakan pada semua orang di tempat parkir bahwa dirinya adalah dokter.


Begitulah cara Lucy melarikan diri dari mal. Sepertinya dewi keberuntungan sedikit kasihan dan mengirim Triton Waltteri untuknya. Namun, keberuntungan tersebut hanya bertahan sebentar, karena setelah tiba di rumah sakit seseorang menelepon Triton.


"Woy, dokter gadungan! Kenapa kau menculik istriku?"


Triton mengaktifkan mode speaker sehingga Lucy dapat mendengar teriakan Kodee dari seberang telepon. Entah bagaimana caranya pria itu tahu jika ia sedang bersama Triton. Tetapi, ini bukan saat yang tepat bagi Lucy untuk memikirkan kenapa Kodee bisa tahu. Dirinya harus segera kabur sebelum ditangkap kembali.


Dalam hati Lucy meminta maaf karena langsung memberi pukulan ke tengkuk Triton yang duduk di depannya. Pukulan keras tersebut berhasil membuat sang dokter hilang kesadaran. Tak ingin membuang kesempatan, Lucy pun buru-buru keluar dari mobil.


"Syukurlah aku selamat," gumamnya sembari mengusap dada.


Sedetik kemudian rasa bersyukur itu lenyap karena begitu menoleh, Lucy bisa melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ia tak sempat menghindar dan insiden tabrakan pun terjadi. Karena terlampau kaget jantungnya berdetak lebih keras, sampai terasa nyeri.


Di sisi lain, si pengendara mobil terhenyak kaget dan cepat-cepat keluar untuk melihat siapa yang ditabraknya. Hanya saja tak ada orang lain di jalan.


"Apa aku berkhayal karena mengemudi sambil mabuk?" bisiknya heran.


Raibeart Mihails, yang baru saja keluar dari mobil, memutuskan untuk kembali menyetir. Namun, tatapannya lebih dulu terpaku pada seekor Kelinci kecil di jalanan. Tentu saja ia bingung kenapa hewan kecil itu bisa ada di sini. Meski demikian, pada akhirnya pria tersebut memindahkan si Kelinci imut dan ke dalam genggaman tangan.


"Lumayan untuk elang peliharaanku," ujar Raibeart bersiul senang dan masuk ke mobilnya, membawa pulang hamster tersebut sebagai pakan elang.

__ADS_1


...****************...


...To Be Continue...


__ADS_2