Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Kesepakatan Lucy dan Triton


__ADS_3

Lucy harus mengakui bahwa Triton adalah orang yang paling peduli terhadap Kodee. Tanpa berpikir dua kali dokter itu langsung putar balik untuk membawa Kodee ke kliniknya. Bahkan setelah tiba di klinik pun ia mengalihkan semua tugasnya pada dokter lain.


Padahal Triton digambarkan sebagai dokter yang sangat mementingkan pasien. Ternyata prinsip tersebut goyah jika sudah berhubungan dengan Kodee. Hubungan mereka yang terlalu dekat sampai menimbulkan kecurigaan dalam benak Lucy.


"Apa kalian gay?" tanya gadis itu mengejutkan Triton yang sedang memasang perban. "Aku pikir kalian terlalu dekat untuk disebut sebagai teman."


Pertanyaan ngawur Lucy membuat Kodee tak bisa fokus terhadap rasa sakit di tangannya. Kini pria itu diliputi perasaan kesal yang sanggup meredam perasaan lain. "Aku bukan gay, Lucy," jawabnya tegas.


"Oh, kalau begitu yang gay di sini adalah Triton. Cintanya padamu bertepuk sebelah tangan karena kau normal," sahut Lucy menatap Triton dengan sorot menuduh.


Akan tetapi, dokter itu tak menanggapi karena ingin menyelesaikan tugasnya. Setelah berhasil memasang perban di tangan Kodee, ia pun berkata, "Aku punya beberapa pakaian ganti di sini. Kau bisa menemukannya di ruangan dekat kamar mandi."


Kodee lantas memperhatikan pakaiannya dan segera menyadari maksud dari ucapan Triton. Ternyata lengan kemejanya robek karena kejadian beberapa waktu lalu, sepertinya robekan tersebut berasal dari gesekan trotoar dengan kain kemejanya.


"Aku akan mengganti bajuku," kata Kodee seraya berdiri dari kursi. Sebelum beranjak keluar ia menyipitkan mata pada Triton dan berpesan, "Selama aku tak ada jangan coba-coba mencari perhatian pada Lucy."


Kepergian pria itu menyebabkan sedikit kecanggungan di antara Lucy dan Triton. Tadi Lucy berani mengoceh karena ada Kodee bersamanya. Namun, nyalinya mendadak hilang tepat setelah sang suami pergi. Sedangkan Triton tak berani untuk memulai pembicaraan karena takut membuat Lucy risi.


Pada akhirnya sang dokter memutuskan untuk menulis resep dan pura-pura membereskan semua peralatan di ruangannya. Sesekali Triton juga melirik Lucy yang sedang duduk tanpa melakukan hal khusus, gadis itu hanya melamun dan akan terus begitu jika ia tak bertanya.


"Apa kau mau segelas kopi?"


Lucy yang sedang melamunkan alur novel tersentak oleh suara Triton. Setelah sadar sepenuhnya, ia pun membalas, "Aku tak minum kopi, Dokter. Itu bisa membuat penyakitku kambuh."


"Oh, astaga! Aku lupa jika kau mengidap mag," sahut Triton merutuki kebodohannya dalam hati. "Kalau begitu apa kau ingin sesuatu? Aku bisa pergi ke minimarket jika kau ingin camilan," tawarnya sekali lagi.

__ADS_1


"Aku ingin sesuatu, tapi itu bukan makanan."


"Apa yang kau inginkan?"


Dengan raut wajah serius Lucy menjawab, "Aku ingin tahu apakah kau dan Kodee mempunyai hubungan spesial atau tidak. Sejak tadi Kodee bilang kalau kau berusaha caper padaku. Itu artinya dia cemburu karena kau caper pada perempuan lain."


"Dari mana kau belajar melawak? Itu tidak lucu sama sekali. Kodee berkata seperti itu karena dia cemburu jika kau didekati orang lain," sanggah Triton berusaha untuk tidak menggampar Lucy.


"Benarkah? Aku tak kepikiran jika dia punya perasaan seperti itu."


"Sebenarnya bagaimana kalian bisa menikah? Kau bahkan tidak peka terhadap perasaan Kodee yang merupakan suamimu. Apa kalian saling mencintai atau terpaksa menikah karena sesuatu?"


Tentu saja tak ada cinta dalam pernikahan Lucy dan Kodee. Itu memang sebuah kebenaran, tapi Lucy sadar bahwa sekarang dirinya tak boleh berkata jujur. Sebelumnya ia dan Kodee telah berbohong pada Leonidas tentang bagaimana mereka bisa menikah.


Saat itu Lucy mengikuti alur kebohongan dari Kodee, sehingga Leonidas menganggap mereka telah menjalin hubungan sejak lama. Andaikan ia berkata lain pada Triton maka akan muncul ketidakserasian dalam kebohongan mereka.


Triton yang merasa curiga langsung menyahut, "Orang lain mungkin akan tertipu oleh kebohonganmu, tapi aku bukanlah mereka. Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu."


"Sayangnya kau tak tahu apa yang sedang aku sembunyikan. Karena itu, lebih baik kau pura-pura percaya saja pada ucapanku. Lagi pula kau sudah berkata tidak akan menginterogasiku lagi," tandas Lucy memutar bola mata sebal.


"Aku memang berkata seperti itu. Tetapi, kau harus tahu jika kata-kata itu hanya berlaku untuk perubahan anehmu. Ini berarti aku masih bisa bertanya tentang hubunganmu dan Kodee."


"Bagaimana jika aku tak mau menjawab pertanyaanmu?"


Suara Lucy yang terdengar menantang malah semakin menggugah rasa penasaran Triton. "Begini saja, aku akan mengabulkan satu permintaanmu setiap kau menjawab satu pertanyaanku. Apa itu pertukaran yang sepadan?" usulnya.

__ADS_1


"Apa aku boleh meminta apa pun?" Lucy mengangkat sebelah alis, merasa tertarik dengan penawaran tersebut. Tentu saja ia harus tertarik, sebab dirinya membutuhkan tempat tinggal jika Kodee mengusirnya.


"Itu tergantung pada pertanyaan yang akan aku berikan. Jika aku bertanya hal kecil maka kau hanya boleh meminta hal kecil juga. Lalu sebaliknya, kau boleh meminta hal yang lebih besar jika pertanyaanku cukup berat untuk dijawab."


"Kalau begitu aku juga punya syarat dalam negosiasi ini, yaitu kau hanya boleh mengajukan tiga pertanyaan."


Tanpa berpikir dua kali Triton langsung mengangguk setuju dan mengulurkan tangannya. Ia menatap intens pada Lucy sebelum berkata, "Mari berjabat tangan jika kau setuju dengan penawaran ini."


"Baiklah, aku terima penawaran ini. Sekarang kita sudah sepakat," pungkas Lucy menerima uluran tangan Triton.


Harusnya mereka kembali bicara setelah acara jabat tangan selesai. Sayangnya, pembicaraan tersebut harus tertunda karena Kodee tiba-tiba masuk sambil menggebrak pintu. Tak hanya itu, ia juga mendekati Triton dengan cara dramatis.


"Sudah aku duga kalau kau akan mencari perhatian pada Lucy!" seru Kodee seolah berhasil menemukan jawaban dari misteri dunia yang belum terpecahkan.


Pada saat bersamaan Triton hanya bisa mengusap wajah frustrasi karena mendapat tuduhan aneh. "Kenapa aku harus cari perhatian pada istrimu yang tidak menarik?" bantahnya emosi.


"Apa kau bilang?" Lucy langsung menanggapi sambil berkacak pinggang. Lantas ia menengok pada Kodee yang tak melakukan apa pun. "Bagaimana bisa kau diam saja saat istrimu dihina? Cepat pukul dokter gadungan ini!"


Bukannya merasa terancam, Triton malah tertawa karena ucapan Lucy terdengar seperti lelucon. Sambil tersenyum mengejek ia berujar, "Kodee adalah teman dekatku dan dia tak mungkin memukul---"


Kalimat tersebut tak dapat diselesaikan karena Kodee lebih dulu melayangkan pukulan ke mulut Triton. Tepat setelah itu terjadi keheningan yang beberapa detik kemudian teratasi oleh jeritan histeris Lucy.


Gadis itu mengguncang bahu Kodee sambil bertanya dengan panik, "Kenapa kau memukulnya?!"


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2