
Namun, pria itu malah berkata, "Tenang saja. Aku ini menguasai banyak bela diri, Lucy. Jika ada yang melihat pahamu tinggal aku pukul."
Lucy membalas, "Itu tidak baik. Jadi, tolong izinkan aku berganti pakaian. Ini tak akan lama, aku jamin."
"Kenapa kau keras kepala sekali? Seperti ada yang kau rencanakan."
Tebakan Kodee tepat sasaran. Lucy berteriak dalam hati saat Kodee melempar tatapan curiga. Jika sudah begini maka ia tak akan diberi kesempatan untuk berganti pakaian. Dengan kata lain, pasrah saja terhadap keadaan. Gadis itu pun menghela napas berat lalu kembali berjalan.
"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku tadi!" seru Kodee cepat-cepat meraih tangan Lucy dan memutar tubuh gadis itu. "Apa kau sungguh merencanakan sesuatu?"
"Mana mungkin aku berani. Barusan aku memang ingin ganti pakaian saja, tapi karena kau tak setuju maka aku mengalah. Jadi, berhenti mencurigaiku dan ayo pergi ke apotek," tutur Lucy menarik tangannya dari genggaman Kodee.
Karena telanjur kesal maka gadis itu tak membuka mulut sepanjang perjalanan. Ia hanya bersandar di kursi mobil sembari memandangi langit. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul saat matanya menangkap bangunan bertuliskan Toko Es Krim. Mungkin ini bisa dijadikan kesempatan untuk kabur, pikirnya.
"Kodee," sahutan Lucy membuat orang yang dipanggil menoleh. Ia memasang tampang memohon ketika bertanya, "Apa aku boleh membeli es krim? Sudah lama sekali aku tidak makan itu. Hanya kali ini saja dan aku akan berhenti merepotkanmu."
Sementara itu, Kodee yang merasa curiga tak langsung menjawab. Hanya saja di sisi lain ia juga harus mengakhiri ketegangan yang terjadi antara dirinya dan Lucy. Oleh karena itu, ia mengangguk lalu menepikan mobil ke tempat sepi. Karena belum percaya sepenuhnya maka Kodee keluar sambil menggenggam tangan Lucy.
"Di mana kita akan membeli es krimnya?" tanya Kodee menoleh ke sana kemari.
Lucy segera menunjuk toko es krim yang barusan ia lihat. "Kita hanya perlu berjalan untuk sampai ke sana."
__ADS_1
Setelah mengetahui di mana letak toko es krim, Kodee pun mendesak Lucy agar berjalan mengimbangi langkahnya yang lebar. Perasaannya jadi berantakan saat melihat banyak pelanggan di toko tersebut. Ia paling benci jika harus berdesakan seperti sekarang. Namun, demi membuat suasana kembali hangat, dirinya tidak boleh marah.
"Tolong pegang ini!" pinta Lucy menyodorkan beberapa es krim pada Kodee. Kemudian ia mengambil es krim lain dan berseru, "Ini juga pegang!"
"Jangan tambah lagi. Tanganku sudah penuh jika kau tidak tahu." Kodee mati-matian menahan agar suaranya tidak naik beberapa oktaf.
Mendengar sindiran tersebut, Lucy pun menatap Kodee dan menyadari bahwa tangan pria itu telah penuh. Ia buru-buru mengambil sebagian es krim untuk dipegang. "Tadi aku senang sekali sampai mengambil banyak es krim. Sekarang kita bayar dulu dan pergi ke apotek setelah ini!"
Tak ada lagi senyum lebar di wajah Lucy ketika Kodee berjalan mendekati kasir. Ia menghitung dalam hati dan ketika sampai pada hitungan ketiga, kakinya langsung berlari kencang seperti kuda yang sedang berlomba. Gadis itu buru-buru melempar es krim di tangannya ke sembarang arah.
Pada saat bersamaan, Kodee yang mendengar suara ribut di belakang segera menoleh. Kemudian ia mendapati jika Lucy sudah berlari keluar dari toko es krim. Pria itu hendak mengejar jika saja tangannya tidak ditahan oleh kasir di sana. Tampaknya kasir tersebut menganggap jika Lucy dan Kodee adalah komplotan pencuri.
"I-iya, kau boleh pergi," sahut si kasir sedikit gemetar karena raut wajah pelanggannya sangat tak bersahabat.
Tanpa menunggu lama Kodee langsung berlari untuk menyusul Lucy. Karena harus membayar es krimnya terlebih dulu ia jadi tertinggal jauh. Jarak antara mereka berdua tak mungkin bisa dicapai hanya dengan berlari. Kodee yang menyadari fakta tersebut segera masuk ke mobilnya.
"Dasar keparat! Aku benar-benar akan menghabisimu kali ini," hardik Kodee mencengkeram erat stir mobil hingga kuku-kuku jarinya memutih.
Ada banyak kata kasar yang dapat Lucy gumamkan sebagai makian. Namun, yang gadis itu sebut selalu saja sial, sial, dan sial. Ketika menengok ke belakang dan melihat mobil Kodee melaju kencang pun ia bergumam kata sial beberapa kali. Lupakan sejenak tentang makian tersebut karena mobil tadi makin mendekat.
"Ke mana aku harus pergi?"
__ADS_1
Tepat setelah bertanya pada dirinya sendiri, Lucy menemukan bangunan besar di seberang jalan. Ia pun nekat menyebrang meski kendaraan masih melaju. Untungnya yang didapat gadis itu bukanlah kematian, melainkan suara ban berdecit dengan aspal dan makian dari para pengendara.
Lucy pun berhasil sampai di depan mall tanpa terluka sedikit pun. Senyum mengejek terpatri di wajahnya begitu tahu Kodee tak bisa menyebrang ke sini. Tetapi, kesenangan ini langsung berakhir karena pria itu keluar dari mobil dan mengejarnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung berlari masuk ke mall.
Setidaknya di sana banyak orang dan ini membuat Lucy tak mudah ditemukan. Harusnya memang begitu. Namun, apesnya ia malah menabrak seseorang yang ternyata adalah Sean. Mungkin dewi keberuntungan sedang tak ingin berpihak padanya, sehingga mereka berdua bertemu di saat yang salah.
"Lucy? Kau Lucy, kan? Gadis yang waktu itu datang bersama Kodee," celetuk Sean mengerutkan dahi, berusaha mengingat kejadian beberapa hari lalu.
Andai tidak sedang dalam bahaya, sudah pasti Lucy akan menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum centil. Sayangnya di belakang sana sudah ada Kodee yang terlihat seperti malaikat maut.
Oleh karenanya, gadis itu pun menunjuk ke sembarang arah dan berteriak, "Lihat di sana ada Yuka yang sedang memakai bikini!"
Lucy langsung kabur tepat setelah Sean menoleh ke arah yang ditunjuknya. Diam-diam ia mentertawakan kebodohan pria itu karena percaya dengan tipuan barusan. Sepertinya di masa depan nama Yuka bisa digunakan untuk menipu beberapa orang, contohnya Sean atau Arvi yang menyukai Yuka dari lama.
Omong-omong semua tokoh pria dalam novel bisa jatuh cinta pada Yuka karena mereka mengenal sejak kecil. Wanita itu berasal dari keluarga kaya sehingga mereka saling mengenal, kecuali Kodee yang baru kenal saat datang ke acara pernikahan kakaknya. Selain cantik Yuka juga mempunyai kepribadian berani yang menarik perhatian.
Misalnya sewaktu menyelundupkan narkoba. Cinta Yuka untuk Leonidas itu buta sampai-sampai tak peduli apa yang akan terjadi nanti. Ia selalu membantu menemukan modus penyelundupan baru bahkan mencobanya sendiri. Itu membuat tokoh lain bertanya-tanya, apakah Yuka juga bersedia melakukan hal nekat untuk mereka?
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1