
Padahal tadi malam Kode hanya bercanda saja, tapi saat pagi tiba selera makan Lucy tetap hilang. Baru satu suap dan ia sudah memuntahkan nasi goreng yang dimasak oleh pria itu. Mungkin besok dirinya harus bangun lebih pagi sehingga Kode tak perlu menyiapkan makanan.
"Kalau tidak nafsu jangan dimakan. Buat saja makanan yang lain," usul Kode yang telah menghabiskan sarapannya.
Lucy lantas melempar sendok ke atas piring dan mengepalkan tangan kesal. Jika saja Kode adalah orang normal sudah pasti kepalan tangannya mendarat di wajah pria itu. Namun, ia takut ketika memukul malah kematian yang didapat, bukannya sebuah kepuasan.
"Aku tidak ingin menyia-nyiakan makanan yang sudah dimasak orang lain. Jadi, aku akan berusaha memakan nasi goreng buatanmu," tutur Lucy terpaksa menyumpal mulutnya dengan nasi goreng.
Ekspresi dongkol gadis itu cukup menarik untuk dilihat lebih lama. Akan tetapi, Kode tak punya waktu luang sampai bisa menatap Lucy hingga berjam-jam lamanya. Ia juga punya kesibukan sendiri yang tak mungkin dilewatkan. Masih ada hal penting lain dibanding memperhatikan Lucy makan.
Sambil beranjak keluar dari dapur Kodee berkata, "Aku akan pergi kerja dan pulang jam empat sore. Untuk makan siang kau bisa menyiapkannya sendiri, kan? Oh iya, jangan berjalan-jalan terlalu jauh dari perumahan ini."
Kata yang saat ini muncul dalam pikiran Lucy adalah membunuh. Segera saja gadis itu bangkit dari kursinya dan menyusul Kodee. "Apa kau pergi untuk membunuh seseorang? Pekerjaanmu itu, kan, pembunuh bayaran," katanya sedikit berteriak.
"Ah, benar juga. Aku lupa bilang padamu." Kodee tak jadi menarik knop pintu karena suara Lucy menginterupsinya. Lantas ia berbalik dan melanjutkan, "Sebetulnya pekerjaan utamaku adalah seorang tukang bersih-bersih."
Pantas saja pagi ini Kodee mengenakan seragam yang Lucy tak tahu. Ternyata itu adalah seragam petugas kebersihan. Sungguh di luar dugaan sampai ia tak tahu harus menanggapi seperti apa.
"Kenapa? Apa kau malu punya suami yang bekerja sebagai petugas kebersihan?" cecar Kodee menyadari perubahan ekspresi gadis di depannya.
__ADS_1
Bukan itu. Lucy tak pernah memandang rendah pekerjaan apa pun. Ia hanya terkejut oleh fakta bahwa Kodee mengambil pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih. Bukan maksud merendahkan, tapi dirinya heran karena pria seperti itu sudi membersihkan tempat orang lain.
Menurut pandangan Lucy selama membaca novel, Kodee adalah tokoh antagonis angkuh yang enggan diperintah orang lain. Tentu saja ia kaget begitu tahu jika pria tersebut mempunyai pekerjaan selain jadi pembunuh bayaran. Meski demikian tampaknya itu hal bagus.
"Kenapa kau tidak fokus pada pekerjaanmu saat ini? Jangan ambil tawaran untuk membunuh lagi," usul Lucy tersenyum kecil.
Gadis itu masih sensitif terhadap uang yang dihasilkan Kodee dari membunuh orang-orang. Aneh memang. Sepertinya ia pikir tak apa-apa memuja iblis, tapi jangan sampai memakan uang haram.
Kodee yang merasa lucu terhadap pemikiran Lucy sontak tertawa pelan, tapi ia langsung berdeham dan memasang wajah tanpa ekspresi. "Alasanku menjadi pembunuh bayaran adalah untuk menghabisi orang-orang jahat. Mereka harus mati, itu saja."
Setelah mengatakan itu Kodee berangkat kerja menggunakan motor yang entah sejak kapan ada di halaman rumah. Lucy tak ingin ambil pusing tentang dari mana motor tersebut berasal. Ia langsung kembali ke dapur untuk menghabiskan sarapannya.
Ketika asyik mengunyah tiba-tiba saja Lucy teringat sesuatu. Karena tak suka dengan tokoh antagonis ia jadi kurang memperhatikan Kodee. Namun, otaknya masih menyimpan beberapa ingatan tentang pria itu. Sekarang ia ingat alasan kenapa Kodee menjadi seorang pembunuh bayaran.
Namun, psikopat dan sosiopat sama-sama masuk dalam kategori gangguan kepribadian antisosial. Meski penyebabnya belum pasti, beberapa penelitian menyatakan bahwa sosiopat sering dipicu oleh faktor genetik dan lingkungan. Sementara itu, selain karena faktor genetik, seorang psikopat diketahui memiliki gangguan di otak.
"Yah, peduli amat tentang hal itu. Aku akan tetap menyebutnya psikopat," gumam Kodee sembari menaruh piring kotor ke wastafel.
Awalnya gadis itu berencana untuk bersantai tanpa memikirkan Kodee. Tetapi, sekarang otaknya malah tak berhenti merenungkan tentang pria itu. Lucy kembali duduk dan berkata, "Dipikir-pikir hidup Kodee dalam novel kasihan juga ya. Keluarganya itu kan sangat gila."
__ADS_1
Leonidas dan Kodee sesungguhnya berasal dari panti asuhan yang kemudian diadopsi oleh keluarga kaya. Hades, itulah nama keluarga tersebut. Mereka selalu mengadopsi anak dari panti asuhan lalu membesarkannya dengan cara ekstrem. Tujuan mereka adalah untuk mendapat anak yang kuat.
Begitu diadopsi Leonidas dan Kodee harus berkelahi dengan anak-anak lain yang lama kelamaan berubah jadi misi pembunuhan. Namun, Leonidas tak harus membunuh karena mendapat nilai tinggi dalam tes IQ. Ia hanya belajar bela diri lalu dibawa oleh sebuah kelompok mafia untuk dibesarkan.
"Kalau ingin bertemu kakakmu maka kau harus membunuh orang-orang di sini. Mereka itu jahat dan menahanmu agar tidak bertemu Leonidas."
Itulah kalimat yang selalu diucapkan keluarga Hades dan sukses memberi sugesti pada Kodee. Pada akhirnya anak tersebut berjuang keras untuk membunuh anak lain yang juga diadopsi. Setelah berhasil, Kodee dipertemukan dengan Leonidas dan menganggap benar ucapan keluarga Hades.
"Kami tidak akan berbohong. Oleh karena itu, tinggallah bersama kami. Kau bisa bertemu kakakmu di sini. Lalu masih banyak orang jahat di dunia ini. Apa kau mau menghabisi mereka semua?"
Kodee mengangguk dan berakhir menjadi sosiopat gila. Awalnya ia sering bersikap sembrono dengan membunuh orang yang dianggap jahat olehnya, terkadang sampai meninggalkan bukti. Namun, keluarga Hades selalu membereskan kekacauan yang dibuat Kodee.
Kemudian mereka mendidik anak itu hingga mendapat label profesional dalam membunuh seseorang. Walaupun demikian sampai sekarang Kodee masih bersikap sama. Anak yang telah beranjak dewasa itu kerap salah paham ketika memutuskan apa yang baik dan buruk.
Julukan Anjing Gila disematkan pada Kodee karena ia seperti anjing yang hilang kendali dan menggigit siapa pun tanpa pandang bulu. Siapa saja yang dianggap jahat akan dihabisi olehnya. Itu juga terjadi saat Lucy pertama kali berubah dari Kelinci menjadi manusia.
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1
Gabisa jelasin piskopet sama sosiopat karena bakal panjang. Searching aja sendiri di google ya :v kalo penasaran. Intinya psikopat itu kek udah bawaan, kebanyakan pembunuhan yg dilakuin psikopat udah terencana.
Beda sama sosiopat yg sembrono. Kadang main bunuh gara-gara emosi dan ga rencanain apa pun. Dan yg ngidap dua gangguan ini ga semuanya jadi pembunuh, kok.