Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Tentang Hadiah - (2)


__ADS_3

"Merepotkanku lagi? Apa yang sedang kau bicarakan? Aku minta maaf karena tak bisa memahami perkataanmu."


Kerutan bingung di dahi Yuka berhasil membuat Lucy ikut kebingungan. Meski demikian, ia segera menjelaskan, "Bukankah beberapa hari lalu kau memberiku banyak barang sebagai hadiah? Kau memberikannya saat aku dan Kodee pindah ke kota Morten."


"Aku yakin belum pernah memberikan apa pun padamu. Sebenarnya aku dan Leonidas datang ke sini karena sekalian ingin memberimu hadiah pernikahan. Akhir-akhir ini kami sibuk dan tak sempat memberikannya padamu," bantah Yuka bertepatan dengan tibanya Leonidas.


Pria itu telah menguping pembicaraan istrinya dan Lucy sebab suara mereka masih bisa terdengar ketika ia berjalan. Usai memahami situasinya, ia pun menyodorkan kotak hadiah yang dibawanya pada Lucy. Isi dari kotak tersebut adalah sepasang jam tangan dari merek terkenal.


Awalnya Lucy merasa ragu untuk menerima hadiah dari Leonidas. Tetapi, pada akhirnya ia menerima hadiah tersebut karena teringat bahwa Leonidas pernah membantunya dan Kodee. "Kalian tak perlu memberiku hadiah sebenarnya. Meski begitu, aku sangat berterima kasih."


"Kau adalah adik iparku jadi kau berhak mendapatkannya. Aku minta maaf karena belum sempat mengunjungimu dan Kodee setelah kalian menikah," tutur Leonidas mengintip ke ruangan demi melihat kondisi Kodee.


Ternyata adiknya itu sedang tertidur pulas di atas kursi. Leonidas sangat yakin jika Kodee akan terbangun dengan tubuh kaku, mengingat adiknya tertidur dalam posisi duduk. Ia tak tahu bagaimana caranya Kodee bisa terlelap dalam posisi yang menurutnya cukup menyiksa.


"Omong-omong kau akan pergi ke mana? Tadi aku melihatmu keluar dari ruangan. Jika kau ingin pergi ke kamar mandi, maka aku akan mengantarmu," ujar Yuka, menyadari bahwa gadis di depannya terlihat ragu-ragu untuk bicara.


Sedangkan Lucy yang sudah kebelet buang air kecil langsung mengangguk. Dalam hati ia berterima kasih karena Yuka dapat memahami keadaannya. "Aku memang ingin pergi ke toilet, tapi aku akan pergi sendiri. Sebaiknya kau menunggu di sini saja bersama Leonidas."


"Aku bertemu dan bicara dengan Leonidas setiap hari. Namun, aku belum pernah mengobrol lama denganmu. Bisakah kau memberiku kesempatan untuk melakukan itu?"


"Tentu saja. Kau boleh mengantarku jika itu memang tidak merepotkan. Sebelumnya aku menolakmu karena menghargaimu yang telah datang jauh-jauh. Kau pasti merasa lelah dan butuh istirahat."


Yuka tersenyum manis, berpikir jika istri Kodee sangat pandai merangkai kata. Ia memang belum begitu mengenal Lucy. Hanya saja sikap gadis itu membuat perasaannya tenang. Mungkin saja Lucy memang pasangan yang tepat untuk Kodee.


Sementara di sisi lain, Lucy menelan ludah gugup karena khawatir Yuka mencurigai gerak-geriknya. Kedatangan Yuka dan Leonidas sangat di luar dugaan. Itulah alasan mengapa ia merasa waswas. Dirinya belum mempersiapkan apa pun untuk bersandiwara di depan mereka.


Lucy tak lagi memikirkan hal buruk ketika Yuka memberi isyarat padanya agar segera berjalan. Mereka berjalan menuju kamar mandi tanpa adanya pembicaraan. Itu membuat Lucy kembali berpikir negatif dan berasumsi jika Yuka menangkap sesuatu yang mencurigakan darinya.


"Aku masih penasaran tentang ucapanmu beberapa waktu lalu," ungkap Yuka membuat gadis di sampingnya tersentak kaget. Ia yang mengetahui hal tersebut langsung bertanya, "Apa suaraku mengejutkanmu?"

__ADS_1


"K-kau benar. Tadi aku sedang melamun dan suaramu mengagetkanku. Jangan meminta maaf karena aku yang salah. Seharusnya aku tidak melamun saat ini." Lucy menjawab dengan suara terputus-putus.


"Baiklah, aku tak akan membahasnya lagi."


"Terima kasih. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan tadi?"


Yuka melirik sejenak kotak hadiah di tangan Lucy kemudian menjawab, "Aku penasaran dengan ucapanmu tentang hadiah. Beberapa waktu lalu kau berkata jika aku memberimu hadiah, padahal aku belum sempat memberikannya. Aku penasaran kenapa kau bisa berpikir barang-barang itu hadiah dariku."


"Oh, itu karena Kodee yang mengatakannya. Dia berkata jika kau yang mengirim barang-barang itu padaku."


"Begitu ternyata. Memangnya apa saja barang-barang tersebut?"


"Aku agak lupa. Tapi, kebanyakan isinya adalah pakaian."


Jawaban tersebut membuat Yuka tak kuasa menahan tawanya. Sejak tadi ia berusaha untuk tidak tertawa karena takut menyinggung perasaan Lucy. Pada akhirnya ia meledak ketika mengetahui bahwa gadis itu belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.


"Maafkan aku," ucap Yuka begitu melihat ekspresi bingung Lucy. "Aku tertawa karena kau sangat lucu. Bagaimana bisa kau tidak sadar jika Kodee adalah orang yang memberimu semua barang itu?"


"Kata-katamu sangat aneh. Aku rasa wajar saja seorang suami memberikan sesuatu pada istrinya. Leonidas juga sering memberiku hadiah. Itu adalah salah satu bentuk cinta."


Ketika mendengar kata cinta, Lucy langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia terbatuk-batuk sembari mengutuk kecerobohannya. Walaupun perkataan Yuka terdengar tidak masuk akal, ia seharusnya jangan mengungkapkan isi pikirannya secara langsung.


Lucy diserang oleh kepanikan. Bagaimana jika Yuka menyadari hubungannya dan Kodee bukanlah hubungan yang normal? Itu pasti bisa menyebabkan sedikit, atau banyak, kekacauan. Ia belum siap menghadapi interogasi dari keluarga Kodee dan Leonidas.


Sedangkan Yuka yang terkejut dengan respons Lucy segera mengelus punggung gadis itu. "A-apa kau baik-baik saja? Haruskah aku membeli air minum?" tawarnya.


Yuka tambah kalang kabut karena tidak mendapat balasan. Ia takut jika ternyata Lucy masih belum pulih dari sakitnya. Tepat di saat ia ingin bicara lagi, seseorang mencekal pergelangan tangannya.


"Apa yang terjadi di sini? Kenapa kau menepuk-nepuk punggung Lucy?"

__ADS_1


Seseorang itu adalah Kodee yang melempar tatapan tajam pada Yuka. Beberapa waktu lalu ia terbangun dengan resah karena Lucy tak ada di ruangan. Untungnya ia bertemu Leonidas di luar dan mendapat informasi bahwa gadis itu pergi ke kamar mandi bersama Yuka.


"Aku juga tak tahu apa yang terjadi. Istrimu tiba-tiba batuk saat kami bicara," jelas Yuka sedikit kesal karena Kodee kerap menuduh orang lain saat marah.


Kodee mengabaikan ekspresi sebal kakak iparnya dan segera memaksa Lucy untuk berbalik padanya. Kemudian ia memutar-mutar tubuh gadis itu sambil bertanya, "Apa yang kau rasakan sekarang? Apa kau masih merasa sakit?"


"Aku sudah merasa lebih baik sekarang," jawab Lucy sambil menahan kakinya agar tidak berputar sesuai paksaan Kodee.


"Sungguh? Jangan berbohong jika kau memang masih sakit. Aku tak mau direpotkan lagi seandainya kau belum benar-benar pulih."


"Aku tidak berbohong. Rasa sakit di perut dan kepalaku memang telah hilang. Hanya saja aku merasa--"


"Merasa apa?!" Kodee langsung menginterupsi dan mencengkeram bahu Lucy. "Apa perutmu masih terasa sakit? Jika iya, maka aku harus membunuh dokternya karena tidak becus mengurusmu."


"Heh, jangan bicara seperti itu! Aku hanya merasa tidak nyaman karena kebelet pipis. Sudah dari tadi aku menahannya. Bisakah kau melepaskanku? Jika kau tak melakukannya maka aku akan pipis di sini," keluh Lucy, merapatkan kedua kakinya karena merasa sudah di ujung tanduk.


Kemudian tanpa protes Kodee melepaskan tangannya dari bahu Lucy. Ia merasa malu pada dirinya sendiri setelah mendengar penuturan gadis itu. "A-aku akan mengantarmu ke kamar mandi," katanya.


"Tidak boleh!" Lucy menjawab.


Kodee membalas, "Aku tak sedang menawarkan sesuatu padamu jadi penolakanmu tidak valid."


"Itu namanya pemaksaan." Lucy menimpali.


"Benar sekali." Kodee menjawab santai dan bermuka datar.


Yuka memutar bola matanya saat melihat Kodee menyeret paksa Lucy ke kamar mandi. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaannya. Oleh karena itu, ia segera sadar diri dan memilih untuk kembali pada Leonidas.


...****************...

__ADS_1


...To Be Continue...


__ADS_2