
"Memangnya apa yang ingin kau beli?"
"Tentu saja sebuah ponsel. Aku merasa seperti manusia purba karena tak memegang benda itu sejak masuk ke dunia ini."
Jawaban tersebut terdengar seperti sindiran di telinga Kodee. Sampai hari ini ia masih tak mau membelikan Lucy sebuah ponsel. Entah apa yang akan gadis itu lakukan jika ia memberikannya ponsel untuk dimainkan. Dugaan paling besarnya adalah Lucy akan berseluncur di internet dan mengumpulkan banyak teman agar bisa kabur.
Oleh karena itu, Kodee tak menanggapi ucapan barusan dan memilih untuk menyeret Lucy ke tempat penyewaan perahu motor. Mereka diberikan pelampung kemudian duduk di kursi belakang, sementara seorang pemandu mengendarai perahu motor tersebut.
"Kau pasti belum pernah mendengar legenda tentang danau ini," celetuk Kodee yang tak mau Lucy memikirkan tentang ponsel lagi.
"Aku tidak tertarik." Lucy menyahut sambil mencebik kesal. "Kenapa kau tiba-tiba diam saat aku membicarakan tentang ponsel? Apa hatimu tak terketuk saat melihat istrimu yang sedang hamil mengidamkan ponsel baru?" lanjutnya asal-asalan.
Kodee mengumpat dalam hati saat mendengar sang pemandu berdeham seolah tengah menyindir. Tak mau suaranya didengar orang lain, ia pun mendekatkan mulutnya pada Lucy. "Mari bicarakan tentang ini di rumah. Aku tak mau berdebat denganmu sekarang."
"Kau tetap tak akan peduli bahkan jika kita membicarakannya di rumah. Apa sulit bagimu untuk mengabulkan satu permintaanku?" sahut Lucy seraya bersedekap dada.
"Permintaanmu bisa memberikan efek buruk jika dikabulkan. Jadi, minta hal lain saja."
"Kalau begitu aku ingin sebuah laptop!"
"Selain ponsel dan laptop."
Tak ada barang lain yang diinginkan Lucy untuk saat ini. Walaupun Kodee telah mengizinkannya tinggal di rumah, tapi ia masih merasa gelisah. Karena itulah dirinya harus mempunyai ponsel agar bisa menghubungi Triton dan membicarakan tentang kesepakatan mereka.
Akan tetapi, Lucy yakin Kodee akan semakin menentang permintaannya andaikan tahu hubungannya dengan Triton. Entah mengapa ia terlihat seperti seorang istri yang sedang merencanakan sebuah perselingkuhan, padahal hubungannya dan Triton bukanlah hubungan terlarang.
"Apa kau tidak akan bekerja lagi?" tanya Lucy setelah mendapatkan ide bagus.
__ADS_1
Kodee menaikkan sebelah alisnya. Tentu saja ia menaruh kecurigaan karena Lucy tiba-tiba mengubah topik pembicaraan. Meski demikian, pada akhirnya ia tetap menjawab, "Untuk sekarang aku tidak menerima proyek apa pun."
"Proyek? Kau bicara seolah dirimu adalah seorang pengusaha, padahal sebenarnya kau adalah pembunuh bayaran."
"Aduh, istriku ini pandai sekali bercanda! Apa yang kau maksud dengan pembunuh? Suamimu ini kan memang mempunyai usaha di bidang konstruksi dan memilih cuti untuk bulan madu bersamamu."
Lucy tersentak kaget saat Kodee tiba-tiba mencubit pinggangnya sambil melontarkan perkataan barusan. Sebetulnya ia ingin tertawa ketika melihat Kodee bicara sambil tersenyum manis. Pasti pria itu terpaksa bersikap seperti demikian untuk menghindari kecurigaan.
Bagaimanapun juga, ada orang lain selain mereka di perahu motor ini. Lucy tak bisa mengatakan hal sembarangan tentang pekerjaan asli Kodee. Namun, beberapa waktu lalu ia tanpa sadar mengungkapkannya karena terbawa suasana.
"Akhir-akhir ini kau menyebalkan jadi aku sengaja menyebutmu sebagai pembunuh! Sepertinya kau lupa jika aku sedang mengandung anakmu. Kau membuatku melendung dan tak bertanggung jawab saat aku mengidam!" seru Lucy sambil memukul-mukul dada Kodee.
Tawanya nyaris meledak saat mendapati kerutan jengkel muncul di kening pria itu. Lucy yakin Kodee sangat ingin memakinya, tapi hal semacam itu tak bisa dilakukan sekarang. Entah apa yang akan dipikirkan sang pemandu jika mendengar seorang suami memaki istrinya sendiri.
Kodee paham mengenai hal tersebut sehingga ia terpaksa mengikuti sandiwara Elea. Ia mencekal tangan gadis itu lalu berujar, "Aku sangat minta maaf, Sayang. Tapi aku tak bisa membelikanmu ponsel baru. Semua tabunganku habis untuk bulan madu kita. Suami tercintamu ini tak punya uang sekarang."
"Bagaimana mungkin seseorang yang mempunyai usaha konstruksi tak punya uang? Kau pasti berbohong. Cepat mengaku kalau kau punya selingkuhan!" hardik Lucy melepaskan tangannya dari cekalan Kodee, kemudian mulai meneteskan air mata palsu.
"Tenangkan dulu istrimu."
Sang pemandu yang dari tadi diam mulai bicara. Ia menengok sebentar ke belakang untuk melotot pada Kodee. "Anak muda zaman sekarang hanya tahu cara membuat anak, tapi tak tahu caranya bertanggung jawab. Sepertinya kau tak tahu jika ibu hamil itu sangat sensitif."
Kodee sudah mengetahui hal tersebut sejak lama. Yang tidak tahu apa pun di sini adalah si pemandu. Namun, mana mungkin ia membeberkan kebenaran tentang Lucy yang tak hamil. Apalagi sejak awal pernikahan mereka telah sepakat untuk menyembunyikan fakta tersebut.
"Terima kasih atas pengertianmu. Aku hanya khawatir saja karena istriku sangat kecanduan ponsel. Dia pernah bermain ponsel dan lupa mematikan kompor sehingga rumah kami kebakaran," dusta Kodee membuat Lucy menghentikan tangisannya.
Gadis itu mengernyit sebal dan menginjak pelan kaki Kodee. "Itu tidak benar. Kau memutarbalikkan fakta karena kau sudah memberikan semua uangmu pada selingkuhanmu iya kan ayo mengaku."
__ADS_1
"Pak, kau bisa melihatnya sendiri, bukan? Istriku sangat kecanduan ponsel sampai menuduhku yang aneh-aneh. Padahal aku sudah bekerja keras untuk menafkahinya."
"Dasar pembohong! Kau sengaja mengatakan hal buruk tentangku demi menutupi perselingkuhanmu, kan?"
Sang pemandu menarik napas panjang, berusaha menekan emosi yang nyaris menguasai dirinya. Ini bukan pertama kalinya ia melihat sepasang kekasih bertengkar.
"Aku tidak tahu siapa yang benar atau salah di antara kalian," ucap si pemandu berhasil menghentikan perdebatan antara Lucy dan Kodee. "Tapi, aku tahu jika ibu hamil sensitif dan punya banyak kekhawatiran. Aku juga tahu rasanya menjadi seorang suami."
Lucy dan Kodee pura-pura mendengarkan ucapan tersebut dengan khidmat, padahal kenyataannya mereka sedang menahan tawa. Itu terlihat lucu ketika seseorang benar-benar menganggap mereka sebagai suami istri.
Sesaat kemudian, si pemandu kembali memberi nasihat. "Aku selalu memeluk istriku setelah kami bertengkar. Itu membuat perasaan kami lebih baik. Mungkin kalian bisa mencobanya juga."
"Terima kasih atas sarannya, tapi kami tak akan melakukan itu," tolak Kodee sambil tersenyum paksa.
"Cepat berpelukan atau aku lempar kalian ke danau?"
"Apa?"
"Ah, maaf. Aku sering menghadapi pasangan yang bertengkar dan menjadi kesal sendiri. Tapi, aku serius dengan ancamanku barusan."
Lucy dan Kodee saling bertatapan karena mereka sama-sama tak ingin berpelukan. Hanya saja si pemandu terus mengoceh sehingga mereka menjadi muak. Tak ingin mendengarkan ocehan tersebut lebih lama lagi, Lucy pun meraih tangan Kodee lalu memeluknya.
"Aku hanya bisa memeluk lengan suamiku karena kami sedang memakai pelampung. Tak masalah, kan?" ungkap Lucy yang langsung mendapat anggukan dari sang pemandu.
Pada akhirnya, Lucy harus menghabiskan waktu sambil memeluk lengan Kodee. Lama-lama ia jadi mengantuk karena bosan mendengarkan penjelasan sang pemandu tentang sejarah Danau Anelli. Kepalanya nyaris terjatuh andaikan Kodee tak menahannya.
"Kau pasti mengantuk karena bergadang semalam. Tidur saja di bahu atau pahaku jika kau mau," ujar Kodee yang tidak mendapat jawaban karena Lucy sudah terlelap di bahunya.
__ADS_1
...****************...
...To Be Continue ...