
"Di mana aku? Siapa nama orang tuaku?"
Lucy menyipitkan matanya selagi bertanya-tanya dengan diri sendiri dan menyusuri sekitar. Semua benda di sekililingnya tampak lebih besar, atau mungkin dirinya yang menciut sehingga berpikir seperti demikian. Ketika memikirkan kemungkinan menciut ia pun ingat apa yang terjadi.
"Sial. Kenapa aku malah tertangkap orang lain saat kabur dari Kodee? ... Ini seperti keluar dari mulut psikopat dan masuk ke-- ...."
Suara Lucy tercekat di tenggorokan begitu melihat seorang pria bertel*anjang dada berjalan mendekatinya. Lucy menelan ludah dan melanjutkan ucapannya, "Aku masuk ke kandang pria hot ternyata. Terima kasih, ya Tuhan ...."
Di sisi lain, Raibeart yang melihat tingkah aneh Kelinci dalam kardus langsung menyipitkan mata. Entah kenapa ia merasa diperhatikan oleh Kelinci mesum, sehingga buru-buru mengambil pakaian untuk menutupi tubuhnya yang tadi tela*njang.
Terkadang Raibeart juga malu sesaat sedang mandi di kamar mandi di pelototi cicak yang ada di dinding, sehingga ia harus menyiram cicak itu menggunakan air.
Setelah membersihkan diri, pria itu datang untuk memberi makan pada elang peliharaannya. Namun, Raibeart merasa aneh dengan tatapan salah satu Kelinci, hewan tersebut melempar tatapan seolah akan melahap habis dirinya. Karena berpikir ini aneh maka ia pun membuang jauh pikirannya.
"Aku harus segera memberi makan burungku. Kemarin aku sangat sibuk sampai tak bisa bermain dengannya," ujar Raibeart mengangkat kardus di atas meja dan membawanya ke tempat lain.
Sedangkan Lucy yang mendengar kata burung langsung berpikir keras dengan berkata, "Kalau burung yang kau maksud itu burungmu maka aku tidak keberatan. Tapi, kenapa kau membawaku menemui elang?!"
Raibeart mengerutkan dahi saat mendengar cicitan seekor Kelinci dalam kardus. Jika penglihatannya tak salah, itu adalah Kelinci yang sama yang melihatnya dengan tatapan cabul. Kenapa hewan tersebut mencicit seperti sekarang? Seperti tahu saja kalau ajalnya sudah dekat.
"Huhuhu, malang sekali nasibku. Apa aku akan mati dan dikorbankan untuk elang peliharaan Raibeart?" gumam Lucy histeris.
Sedangkan Raibeart tak ambil pusing dan mengambil Kelinci kec yang tadi mencicit keras. Ia hendak melempar hewan tersebut pada elang peliharaannya bertepatan dengan terdengarnya nada dering telepon. Meski sedikit terganggu, tapi pada akhirnya pria itu meletakkan si Kelinci agar bisa melihat siapa yang menelepon.
Ternyata itu Kodee.
__ADS_1
Sungguh aneh sampai-sampai Raibeart mengangkat sebelah alisnya. Pria itu yakin Kodee hanya akan menelepon jika ada masalah. Kali ini masalah seperti apa yang menimpa temannya itu? Karena telanjur penasaran ia pun segera mengangkat teleponnya.
"Halo---"
"Aku ada di depan rumahmu. Tolong buka pintunya, ya?"
Raibeart bahkan tak sempat menyapa dan Kodee sudah menyela ucapannya. Ia ingin membanting ponsel saking kesalnya, tapi tak jadi begitu mengingat berapa harga ponsel tersebut.
"Baiklah," katanya pasrah. "Tunggu sebentar di sana. Aku akan datang dalam waktu lima menit."
Tepat setelah mengatakan itu, Raibeart memasukkan kembali ponsel ke saku celananya dan beranjak pergi. Kini ia penasaran tentang alasan di balik kedatangan Kodee, sebab temannya itu jarang sekali keluar rumah, sekalinya keluar paling hanya untuk misi pembunuhan.
"Maaf karena telah kabur darimu, Kodee. Ternyata kau malaikat penyelamatku!"
Lucy, yang masih dalam wujud Kelinci, berseru senang begitu tahu Kodee datang kemari. Ia yakin sekali jika pria itu, yang entah bagaimana caranya, sadar bahwa dirinya dibawa oleh Raibeart. Setelah diselamatkan ia hanya perlu bersujud minta maaf dan Kodee akan mengampuninya, mungkin.
Suara asing tersebut menyentak Lucy dari kebahagiaan. Lantas gadis itu menganga karena tahu yang bicara tadi adalah salah satu Kelinci dalam kardus. Dari kemarin-kemarin ia selalu berubah menjadi Kelinci tanpa ditemani hewan lain, sehingga terkejut begitu sadar sesama Kelinci bisa saling memahami.
"Apa kalian mengerti ucapanku?" tanya Lucy memastikan.
Semua Kelinci kecil dalam kardus itu mengangguk dan mengejutkan gadis itu sekali lagi. Ternyata dugaannya benar jika mereka bisa memahami satu sama lain. Entah ini kabar baik atau buruk, tapi yang terpenting dirinya harus bertahan sampai Kodee tiba.
Di satu sisi, salah satu Kelinci melihat ada hal berbeda dalam diri Lucy sehingga langsung bertanya, "Siapa malaikat penyelamat yang tadi kau bicarakan? Meski kau terlihat seperti Kelinci, tapi entah kenapa kau terasa berbeda."
"Tentu saja! Itu karena dulunya aku adalah seorang manusia dan berubah jadi Kelinci karena kutukan iblis. Lalu malaikat yang aku maksud itu Kodee, dia akan datang ke sini untuk menyelamatkanku."
__ADS_1
Lucy menjawab dengan nada sombong dan refleks membekap mulut ketika sadar telah membongkar rahasianya sendiri. Ia tak punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya karena terdengar bunyi langkah kaki. Sudah jelas jika itu langkah kaki milik Raibeart dan Kodee.
Saat melihat Kodee berdiri di depan kardus Lucy pun langsung mencicit, guna menunjukkan bahwa dirinya adalah Kelinci yang dicari pria itu. Namun, sedetik kemudian semua Kelinci dalam kardus ikut mencicit dan menggerakkan tangan mereka.
"Apa yang kalian lakukan, hah?!" bentak Lucy tak terima.
Sedangkan semua Kelinci menunjukkan sikap masa bodoh dan salah satu dari mereka membalas, "Kau pikir hanya kau saja yang mau bebas dari tempat ini? Kami juga tak mau dijadikan makanan elang!"
"Dasar Kelinci sialan!"
"Kau juga Kelinci."
Lucy menggeram kesal sebab tidak tahu harus melakukan apa. Lebih sialnya lagi semua Kelinci dalam kardus memiliki ukuran dan corak yang sama. Dengan begini maka akan sulit bagi Kodee untuk menemukannya. Mungkin ia memang ditakdirkan untuk mati hari ini.
Gadis itu semakin yakin dengan takdirnya setelah melihat Kodee mengambil Kelinci lain. "Dasar Kodee pengkhianat!" serunya berapi-api.
Sedangkan Kodee yang kebingungan hanya bisa menatap Kelinci di tangannya dan Kelinci dalam kardus secara bergantian. Walaupun tidak yakin, tapi pria itu berusaha berpikir positif dan menganggap pilihannya sudah benar.
"Aku akan mengambil Kelinci ini. Terima kasih karena berbaik hati mengizinkanku mengambil Kelincimu," tutur Kodee pada Raibeart yang langsung mengangguk.
"Tak usah berterima kasih. Jika tak ada urusan lagi maka pergilah! Aku harus mengurus elang tersayangku."
Karena mendapat balasan seperti itu, maka Kodee pun terpaksa pergi dari rumah Raibeart. Ia mengendarai mobil dengan perasaan campur aduk. Namun, perasaan yang paling menonjol dalam ekspresinya adalah kemarahan. Pria itu sampai menginjak gas dan membuat kecepatan mobilnya bersahabat dengan malaikat maut.
Kodee membawa kendaraannya menuju tempat sepi kemudian mengeluarkan pistol. Dengan kening yang mengernyit akibat emosi ia mengambil Kelinci yang berada di kursi lain, lalu melemparnya ke tanah tanpa belas kasihan. Bahkan ia tak peduli ketika tahu Kelinci tersebut tampak kesakitan.
__ADS_1
...****************...
...To Be Continue...