
"Aku bersedia membantu," ujar Sean final, "tapi dengan syarat kau harus memberi tahu nama lengkapnya. Sulit jika kau tak punya nama lengkap perempuan itu."
Syarat yang diajukan tidaklah sulit, tapi masalahnya Kode tak tahu siapa nama lengkap Lucy. Mustahil juga ia bertanya pada Kelinci di tangannya. Hewan itu hanya akan mencicit daripada memberi jawaban. Ketika berpikir untuk kembali ke rumah Sean besok, tiba-tiba saja sebuah ide muncul.
"Tunggu sebentar. Aku akan kembali dalam lima atau sepuluh menit," titah Kode langsung beranjak dari hadapan Sean.
Ia masuk ke mobil untuk menusuk hamster di tangannya dengan pisau. Lalu sesuai dengan perkiraan, hewan tersebut berubah menjadi manusia, tepatnya menjelma kembali ke tubuh Lucy. Tak seperti yang sudah-sudah kini gadis itu mengenakan jaket, tak lagi telanjang saat berubah dari Kelinci ke wujud manusia.
"Dasar sialan! Kenapa kau tega sekali mendorongku ke jalan?" protes Lucy begitu tahu dirinya telah kembali normal.
Kode yang tak merasa bersalah sama sekali langsung bertanya, "Siapa nama lengkapmu?"
"Tidak akan kuberi tahu!" jawaban Lucy kesal
"Oh, ini berarti kau lebih ingin mati lagi ya?" Kode mengancam.
Ancaman tersebut sukses membuat Lucy menelan ludah gugup. Bayangan tentang kematian tragis merusak keberanian yang sempat membakarnya. Karena tak ingin dibunuh lagi ia pun menjawab, "Lucy Mitsury. Itu nama lengkapku."
"Nah, kalau begini kan bagus," ucap Kode tersenyum manis sebelum pergi dari mobil.
Lucy yang ditinggal sendiri hanya bisa melamun. Walau kesempatan untuk kabur terbentang luas, tapi ia terlalu takut mengingat di luar sana masih banyak hal mengerikan. Bisa saja dirinya tertangkap oleh orang-orang jahat lagi seperti tadi. Jadi, opsi terbaik memang tinggal bersama Kode sambil menyusun rencana untuk melarikan diri lagi.
"Ternyata kau yang namanya Lucy!"
__ADS_1
Seruan itu hampir membuat jantung Lucy copot. Ia segera menoleh ke sumber suara dan menemukan sosok pria dengan kulit cokelat sawo matang tengah menatapnya, sembari mengulum permen. Sekali lagi terima kasih pada penulis Novel Yukata Nari. Lewat visual novel ia bisa tahu jika pria tadi adalah Sean Kalev.
Wajah tampan Sean dan kulitnya yang eksotis terlihat menggoda hingga tanpa sadar Lucy bertanya, "Apakah aku boleh menjilatmu sekali saja? Eh, tidak, maksudku dua atau tiga kali?" ujarnya Lucy sembari cengengesan menggoda.
Seumur hidupnya Kode tak pernah menanggung rasa malu sampai ingin menghilang dari muka bumi. Namun, berkat sikap tak sopan Lucy, dirinya jadi merasakan hal tersebut. Ketika gadis itu meminta untuk menjilati kulit Sean, ia langsung berharap Tuhan mencabut nyawanya detik ini juga, agar bisa menghindari tatapan mencemooh temannya.
"Wah, gadis yang kau bawa ini cukup unik juga ya," sindir Sean menekankan kata 'unik' sambil tersenyum lebar, hingga kedua matanya terpejam.
Karena tak ingin larut dalam situasi canggung Kode pun segera mengalihkan pembicaraan dengan berkata, "Sekarang kau sudah tahu bagaimana wajahnya, kan? Kalau begitu cepat cari tahu informasi tentang si Lucy ini!"
Bagi Sean mencari informasi tentang seseorang adalah perkara mudah. Meskipun ia yakin kalau Kode masih sanggup melakukan hal tersebut tanpa meminta bantuan pada orang lain, sebab temannya juga memiliki data penduduk di Ertik setelah meretas banyak situs. Jika Kode sampai datang ke rumahnya berarti Lucy bukanlah gadis biasa.
"Katakan sejujurnya padaku," Sean melirik Kode yang kebetulan sedang menatapnya juga, "siapa gadis ini? Kau bawa dia dari mana?"
Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah membuat kebohongan, tapi lawan bicara Lucy kali ini adalah Sean. Karena telah mengenal sejak lama mereka jadi mengerti satu sama lain. Kode akan tahu bila seandainya Sean berbohong, begitu pun sebaliknya. Dengan kata lain ia tidak memiliki kesempatan untuk beralibi.
"Kalau aku berkata jujur pasti kau tidak akan percaya," ujar Kode tak langsung menjelaskan.
Perasaan Sean sedikit terluka oleh kata-kata tersebut, ia mengingat selama ini dirinya selalu percaya pada Kode. Tanpa menyembunyikan nada kecewanya ia berseru, "Memang kapan aku tidak percaya padamu? Aku akan selalu percaya meski semua orang di dunia menentang Kode Yinkey!"
"Baiklah, aku akan berkata jujur. Gadis yang kubawa adalah seekor Kelinci. Maksudku, dia berubah jadi Kelinci ketika aku membunuhnya. Bukankah itu gila?"
"Aku rasa kau yang gila." tutur Sean.
__ADS_1
"Siapa tadi yang berkata akan percaya meski semua orang di dunia ini menentangku?" Kode bertanya.
"Entahlah, aku lupa, tiba-tiba saja aku mengalami amnesia." Sean berdalih.
Kode membuang napas kasar seraya mengusap wajahnya dan menggeram jengkel. Bahkan Sean yang merupakan teman dekatnya pun tidak percaya. Tetapi, setelah dipikir lagi perubahan Lucy memang tidak masuk akal, harus ada bukti konkret untuk fenomena tersebut.
Bukti?
Sekarang Kode tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa basa-basi ia mengeluarkan pistol dan menembakkannya tepat ke kepala Lucy yang masih sedang ngiler terpesona dengan keindahan Sean. Lalu sesuai dengan harapan, Lucy berubah menjadi Kelinci sama seperti ketika didorong ke jalan raya. Tampaknya pemicu untuk perubahan tersebut memanglah harus kematian yang di dapatkan Lucy. Sungguh malang nasibmu nak lusy baru aja hidup kembali dan menikmati pemandangan eeee harus menikmati rasa kematian lagi.
"Bagaimana? Sekarang kau percaya padaku, kan?" tanya Kode menatap temannya disertai senyum bangga, seolah baru saja melakukan pertunjukan hebat.
Di saat yang sama Sean tak bisa menjawab karena masih terkejut. Otaknya berusaha mencerna kejadian aneh barusan. Usai berpikir lama ia pun mendapat kesimpulan logis atas perubahan Lucy. Sean mengatakan, "Aku tidak tahu jika kau belajar sulap. Bagaimana caramu mengubah manusia menjadi hewan?"
"Ini bukan sulap ku bodoh! Dia benar-benar berubah jadi Kelinci saat aku tembak." Kode sedikit kesal.
"Kalau bukan sulap berarti kita ini sedang mabuk, Kode. Tadi aku memang menghabiskan satu botol anggur. Mungkinkah aku sedang berhalusinasi karena mabuk ya?" Sean nampak tidak percaya.
Sepertinya datang ke rumah Sean bukan keputusan tepat. Kode bertaruh pasti temannya akan terus berdebat tentang perubahan aneh Lucy. Ia hafal betul jika Sean menjunjung tinggi yang namanya kelogisan, pria itu hidup dengan mengharamkan kata 'tidak masuk akal'.
Kode ingat sekali dulu mereka pernah berdebat perihal eksistensi hantu di dunia ini. Waktu itu Sean berkukuh atas pendapatnya yang mengatakan bahwa hantu itu tidak ada, makhluk astral tersebut tercipta dari pikiran bawah sadar manusia sehingga berkhayal melihat hantu.
...****************...
__ADS_1
...To Be Continue...