
Durasi kesepakatan yang Lucy buat dengan Kodee hanyalah satu jam. Selama waktu itu Lucy bisa tidur tanpa gangguan dan bangun untuk bergantian menjaga Kodee. Namun, setelah membuka mata yang dilihatnya bukanlah atap mobil, melainkan langit-langit rumah.
Lucy juga merasakan tubuhnya sedang terbaring dengan nyaman di atas kasur yang sangat empuk. Ia segera bangkit dari posisi nyamannya karena khawatir telah diculik seseorang. Sesaat kemudian, ia tahu bahwa yang menculiknya ke rumah ini adalah Kodee.
Pria itu masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu, lalu menyilangkan kedua tangannya di perut sambil memperlihatkan ekspresi muram. "Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya bernadakan sindiran.
"Sangat nyenyak." Lucy menjawab dengan santai dan berjalan mendekati Kodee. Ia menguap sebentar sebelum melanjutkan, "Aku sangat berterima kasih karena kau tak membangunkanku."
"Kau tidur seperti orang mati. Jadi, aku tidak punya pilihan lain dan harus menggendongmu sampai ke sini."
"Padahal kau bisa menyiramku dengan air jika aku susah dibangunkan."
Kodee berdecak sebal mendengar kata-kata yang terdengar mustahil di telinganya. "Kau akan terkejut dan berubah jadi hamster jika aku melakukan itu. Ah iya, tolong bereskan barang-barangmu."
"Barang-barangku?" ulang Lucy mengernyit heran, sangat yakin bahwa dirinya tak membawa apa pun saat pindah ke kota Morten.
Keyakinan tersebut segera musnah ketika Kodee menarik tangannya dan membawanya ke ruang tamu. Di sana terlihat beberapa koper yang masih belum jelas apa isinya. Merasa penasaran, Lucy pun buru-buru membuka salah satu koper dan dikejutkan dengan banyaknya setelan pakaian.
"Wow, ini benar-benar bagus! Dari mana koper-koper ini berasal? Aku yakin kita tak memasukkan barang bawaan ke bagasi mobil," seru Lucy, mengangkat beberapa pakaian dengan sumringah.
Kodee yang bersandar di tembok sambil memperhatikan gadis itu lantas menjelaskan, "Semua barangmu dipilih dan dibelikan oleh Yuka. Dia bilang anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan. Juga, dia meminta maaf karena belum sempat mengobrol denganmu secara langsung."
"Andai aku punya waktu untuk bicara dengannya, maka aku akan mengucapkan terima kasih. Sayang sekali karena sepertinya kami tak bisa bertemu lagi."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Kodee bertanya.
Jawaban aslinya adalah karena Lucy percaya bahwa dirinya akan mengalami kegagalan dalam mewujudkan keinginan Kodee. Malam ini adalah waktu di mana ia bisa bertemu sang iblis dan tak punya jaminan jika iblis itu bersedia menuruti kata-katanya.
__ADS_1
Biarpun menanggung banyak keraguan, tapi Lucy pantang mengatakannya pada Kodee yang berkemungkinan mengusirnya setelah tahu fakta tersebut. Oleh karena itu, mulutnya harus mengutarakan sebuah kebohongan, demi mendapat tempat bernaung untuk malam ini.
"Sekarang aku sudah pindah ke kota lain dan akan sulit untuk bertemu Yuka," dusta Lucy yang semakin gugup karena dipandangi oleh Kodee. "S-selain itu, aku juga tak punya ponsel untuk menghubunginya."
Kodee yang merasa tersinggung dengan kalimat terakhir menjadi kesal sendiri. Ia berpikir Lucy sedang menyindirnya karena tak membelikan gadis itu sebuah ponsel. Lalu tanpa mengatakan apa pun, ia beranjak dari ruang tamu untuk pergi menyendiri di kamarnya.
Pada saat bersamaan Lucy memandangi kepergian Kodee disertai perasaan bingung sekaligus lega. Sepertinya pria itu tidak menyadari kebohongannya karena langsung pergi. Namun, ini bukan berarti dirinya telah bebas dari kegelisahan.
"Ugh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Ayo berpikir, Lucy! Jika kau tak berpikir maka kau harus kehilangan tempat tinggal besok," gerutu Lucy setengah putus asa.
Pada akhirnya gadis itu menemui kebuntuan setelah berpikir cukup lama. Tanpa berusaha lebih keras lagi, ia langsung memutuskan untuk menyerah andaikan Kodee mengusirnya. Paling-paling dirinya akan berakhir sebagai gelandangan dan harus mengamen demi sesuap nasi.
Lucy tersenyum pahit sambil berpikir suaranya tak terlalu buruk, mungkin hanya akan mengakibatkan gangguan telinga bagi para pendengarnya. Karena itulah mulai hari ini ia harus menyiapkan mental untuk bernyanyi di lampu merah.
"Sebaiknya aku menikmati hidup mewah ini sebelum menjadi gelandangan," bisik Lucy sambil beranjak menuju dapur.
Lucy paham dirinya harus mendapat izin sebelum mengambil camilan dari lemari pendingin. Namun, masa bodoh dengan tanggapan Kodee karena pria itu akan segera mengusirnya. Yang perlu ia lakukan sekarang adalah bersenang-senang sebelum ditendang keluar.
Lalu secara tak terduga, Lucy mendapatkan kembali semangatnya hanya karena melihat sebotol minuman bersoda. Tiba-tiba saja otaknya memutar ingatan tentang kenangan bersama teman-temannya di dunia nyata. Waktu itu mereka pernah bermain truth or dare menggunakan sebuah botol.
"Bagaimana kalau aku mencoba permainan ini bersama Kodee? Jika dia memilih dare maka aku akan menyuruhnya untuk mengizinkanku tinggal di sini," celetuk Lucy merasa jadi titisan Albert Einstein karena idenya tersebut.
Kali ini gadis itu tak berpikir lama untuk mengeksekusi idenya dan langsung bergegas menuju kamar Kodee, sambil membawa sebotol minuman bersoda. Ia mengetuk pintu dengan tergesa-gesa sampai sang pemilik kamar keluar disertai raut wajah terganggu.
"Ada masalah apa?" tanya Kodee masih memegang kenop pintu, bersiap untuk menutupnya jika mendapat sebuah omong kosong.
Lucy yang mengetahui hal tersebut segera menjawab, "Ayo bermain truth or dare! Kau pasti bosan karena tak punya pekerjaan."
__ADS_1
"Apa kau menyindirku yang sedang jadi pengangguran?"
"Mana mungkin! Aku hanya mengajakmu bermain karena takut kalau kau bosan."
Awalnya Kodee ingin menolak karena masih menganggap Lucy menyindirnya saat mengobrol di ruang tamu. Namun, anggapan tersebut berangsur-angsur hilang karena ditelan oleh rasa penasaran. Ia yang tak pernah tertarik bermain truth or dare malah tertantang untuk memainkannya bersama Lucy.
"Baiklah, aku setuju," ujar Kodee sembari melangkah keluar dari kamar dan menutup pintunya. "Lagi pula aku memang bosan karena tak punya data internet dan rumah ini belum dipasangi wi-fi."
Lucy yang telah menunggu dalam ketidakpastian akhirnya bisa mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, ayo pergi ke ruang tamu! Kita akan memainkannya di sana," ajaknya seraya menarik tangan Kodee.
Setibanya di sana, Lucy segera duduk dan meletakkan botol minuman yang dibawanya ke atas meja. Ia menatap Kodee kemudian bertanya, "Nah, apa kita bisa bermain sekarang?"
Alih-alih menjawab, Kodee malah balik bertanya dengan tatapan tajam. Koper-koper yang masih tergeletak di lantai ruang tamu sungguh mengusik perasaannya. Padahal ia hanya meminta Lucy untuk membereskan barang di dalam koper tersebut, bukan menyuruh gadis itu untuk melakukan hal buruk.
"Mengapa kau tidak menuruti kata-kataku? Tadi aku sudah bilang untuk membereskan semua barang di ruang tamu ke kamarmu."
"Maaf karena sudah membuat kekacauan. Aku akan membereskannya sekarang," ucap Lucy bergegas mengambil salah satu koper karena tak mau memperkeruh keadaan.
Namun, Kodee malah mencekal tangan Lucy lalu berkata, "Tak usah. Kita mulai saja permainannya sekarang. Saat giliranmu tiba, kau harus memilih dare dan aku akan menyuruhmu untuk membereskan kopet-koper ini. Bagaimana?"
"Aku setuju!" Lucy membalas dalam sekejap dan memaksa Kodee untuk duduk di depannya. Saat ini mereka duduk bersila di atas lantai agar bisa mendengar suara satu sama lain dengan jelas.
Sebelum memulai permainan, Lucy menatap Kodee dan bertanya, "Apa kau sudah paham aturan permainannya?"
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1