
Tak butuh waktu lama bagi Kodee untuk memutuskan tentang kematian Arvi. Pada akhirnya pria itu menyimpan kembali pistolnya ke tempat semula, kemudian menghampiri Lucy yang masih menangis kencang. Tadi ia sudah berpikir jika Arvi adalah teman baik sehingga tak boleh dibunuh.
Di samping itu, Kodee juga merasa tidak punya alasan kuat mengapa ia harus membunuh temannya sendiri. Namun, saat melihat Lucy menangisi Arvi dirinya jadi ingin pergi ke kamar untuk mengambil pistol. Beruntung hal tersebut tak dilakukan karena ia menyadari sesuatu.
"Hei, ayo mengaku jika kau sudah mengguna-gunaku," tuduh Kodee seraya menyentuh punggung Lucy dengan jempol kakinya.
Gadis yang awalnya menangis itu langsung menggeram jengkel. Dengan tampang tak bersahabat ia menoleh dan mendongak, agar bisa melihat Kodee yang berdiri di belakangnya. Lucy masih terlihat muram ketika bertanya, "Kenapa kau bisa berpikir aku mengguna-gunamu?"
"Itu karena aku merasa suka padamu," jawab Kodee enteng. "Kau ini kan pemuja iblis. Jadi, bisa saja kau meminta bantuan iblis untuk membuatku suka padamu." Penjelasan polos Kodee tanpa ekspresi.
Lucy sontak meluruskan punggungnya supaya duduk dengan tegap. Pengakuan tiba-tiba dari Lucy berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. Ini lebih merinding daripada saat ia menonton film horor sendirian. Sudah ia duga jika pria itu akan berkata seperti demikian.
Di dalam Novel alasan kenapa Kodee menyukai Yuka adalah karena kebersamaan dalam waktu lama. Mungkin hal tersebut juga akan terjadi pada orang lain sekalipun wanitanya bukanlah Yuka. Itulah yang Lucy pikirkan saat membaca novel dan terbukti benar.
Karena telah mempersiapkan diri untuk hari ini maka Lucy pun berujar, "Tidak mungkin kau suka padaku. Kita baru bertemu sebentar dan belum terlalu mengenal. Jadi, kenapa kau berpikir punya perasaan untukku?"
"Yah, ini agak membingungkan. Aku merasa kesal jika kau berdekatan dengan Arvi. Bukankah ini yang namanya cemburu? Dan kalau tidak salah, cemburu itu bisa muncul saat kita suka pada seseorang. Aku benar, kan?" tutur Kodee sedikit mengangkat bahu.
"Sekarang aku paham." Lucy berdiri dari lantai untuk menepuk bahu Kodee dengan kedua tangannya. "Karena telah sepakat bekerja sama kau jadi menganggapku sebagai teman. Sesama teman bisa cemburu juga."
"Benarkah?" tanya kode dengan polosnya.
"Aku tidak punya waktu untuk berbohong. Terkadang aku juga cemburu jika teman baikku dekat dengan orang lain. Itu hal wajar jadi jangan salah paham." ujarnya Lucy.
Penjelasan tersebut terdengar meyakinkan. Ditambah Kodee pun ragu atas perasaannya terhadap Lucy. Mungkin benar jika ia menganggap gadis itu sebagai teman saja, tak lebih seperti yang ada dalam pikirannya. Terkadang dirinya juga kesal saat Leonidas lebih memperhatikan orang lain.
__ADS_1
Suara lenguhan seseorang mencegah Kodee yang hendak angkat bicara. Pria itu sedikit mendorong tubuh Lucy agar tidak menghalangi pandangannya. Ternyata suara lesu tadi berasal dari Arvi yang telah sadar dan kini tengah duduk di sofa. Kodee agak kasihan begitu menyadari wajah temannya sangat pucat.
"Nggh ..., apa yang terjadi padaku? Di mana aku? Siapa aku?" tanya Arvi mengusap tengkuknya yang menjadi sumber dari semua rasa sakit.
Lucy melirik Kodee dan berbisik, "Apa yang kau lakukan sampai dia lupa ingatan?"
"Aku hanya memukul kepalanya dengan meja. Dia tidak apa-apa, aku jamin," balas Kodee ikut berbisik.
Sedangkan Arvi yang berangsur-angsur pulih langsung melotot saat melihat Lucy. Ingatannya masih segar dan yakin jika gadis itu telah berubah jadi Kelinci. "Wow, bagaimana bisa kau menjadi manusia lagi? Apa sulap Kodee telah selesai?" tanyanya spontan.
"Iya, sulapku telah beres. Yang tadi itu konten sulap untuk prank," dusta Kodee memaksakan senyum kecil.
"Kau akan mengunggah video prank-nya ke internet?" Arvi bertanya.
"Jujur ini pertama kalinya aku di-prank dengan sangat baik. Aku sampai tidak sadar sedang di-prank," komentar Arvi lalu membekap mulutnya sendiri karena kagum.
Melihat itu Kodee pun menaruh kembali ponselnya dan menghela napas lega. Untung saja yang datang adalah Arvi sehingga ia tak perlu susah-susah mencari alasan. Tinggal berkata prank dan temannya langsung percaya. Itu bisa terjadi karena Arvi adalah seorang aktor yang sering terkena konten prank.
"Oh iya," kata Arvi mengakhiri kekagumannya tentang prank yang dibuat Kodee. Ia menatap Lucy lekat-lekat kemudian bertanya, "Siapa perempuan tepos ini? Aku baru pertama kali melihatnya."
Lucy cepat-cepat mengulurkan tangan dan menjawab pertanyaan yang tidak diajukan untuknya. "Aku adalah Lucy Mitsury , temannya Kodee."
"Temannya Kodee?" Arvi mengulang dua kalimat terakhir dengan alis terangkat.
"Iya, aku teman--" ucapan Lucy yang langsung di potong Kodee.
__ADS_1
"Teman sehidup," sela Kodee menyambung ucapan Lucy. "Maaf terlambat memberi tahu ini, tapi aku sudah menikah. Gadis yang kau lihat sekarang adalah istriku."
Arvi tak mampu mengeluarkan suara lagi saking terkejutnya. Pernikahan bukanlah ajang percobaan di Ertik. Tak ada seorang pun yang menikah untuk main-main mengingat sedikitnya populasi perempuan.
Dahulu pemerintah pernah mencoba program bayi tabung untuk mengatasi masalah populasi tersebut, tapi bayi yang lahir selalu berjenis kelamin laki-laki.
Setelah dilakukan penelitian, ternyata bayi perempuan hanya bisa lahir dari kehamilan yang normal. Oleh karena itu, pemerintah tidak terlalu memberi tekanan tentang masalah pernikahan. Selama pernikahan tersebut bisa memberi peluang lahirnya anak perempuan maka tak masalah.
Biarpun terkesan mudah, tapi sebetulnya ada persyaratan lain agar bisa cepat menikah, yaitu kesiapan mental, finansial, umur, dan lainnya. Jika semua telah terpenuhi maka bukan hal sulit untuk mewujudkan rumah tangga. Hanya saja semua syarat tak diperlukan untuk satu kondisi.
"Benar. Istriku hamil duluan," ucap Kodee yang seolah sudah tahu isi kepala Lucy. "Itulah kenapa kami bisa menikah walaupun belum cukup umur."
Lucy yang mendengarnya tak bisa menyangkal karena telah sepakat untuk berbohong. Ia hanya mampu menangis dalam hati ketika sadar reputasinya hancur di hadapan Arvi. Padahal dirinya sempat berencana menjadikan pria itu sebagai suami kedua.
"I-ini adalah kabar yang mengejutkan!" jerit Arvi langsung mengambil ponsel.
Tadinya Kodee berpikir mungkin Arvi dihubungi oleh manajernya untuk segera pulang. Namun, karena temannya tak kunjung pergi ia jadi bingung sendiri. "Apa yang kau mainkan di ponselmu?" tanyanya.
"Aku baru saja menyebarkan informasi tentang pernikahanmu ke keluarga Hades. Oh iya, aku juga memberi tahu teman-teman yang lain. Sepertinya mereka belum tahu karena kalian menikah dengan terburu-buru. Aku bisa paham tentang itu."
Lucy dan Kodee kompak berteriak frustrasi sambil menjambak rambut masing-masing. Padahal mereka sengaja pindah ke tempat jauh untuk menutupi pernikahan ini. Akan tetapi, Arvi malah menyebarkannya tanpa meminta persetujuan. Kini usaha mereka untuk pindah rumah menjadi sia-sia.
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1