
"Aku mengerti, tapi aku sudah memesan minuman untuk kita berdua. Ayo bicara sambil minum itu karena sepertinya kau haus," sahut Triton menyadari bahwa Lucy kehilangan sebagian tenaganya meski hanya menaiki taksi.
"Terima kasih." Lucy menerima minuman berenergi dari Triton dan menyeruputnya sedikit. Setelah itu, ia kembali bicara. "Jadi, apa yang ingin kau tahu tentang diriku?"
"Sebenarnya kau siapa? Aku yakin kau bukan berasal dari dunia ini. Kemarin aku sudah mengecek semua penelitian yang mungkin berhubungan dengan perubahanmu. Tapi, aku tak dapat menemukan apa pun bahkan setelah meminta bantuan pada pejabat penting."
"Harga untuk jawaban dari pertanyaan pertamamu sangat mahal. Setidaknya kau harus memberiku sebuah vila."
"Aku punya dua vila dan bisa memberikannya satu padamu."
Lucy menyipitkan mata waspada kemudian berbisik, "Jaga ucapanmu, Dokter. Aku memang berasal dari dunia lain dan punya kekuatan yang tak bisa kau bayangkan. Jika kau mempermainkanku maka dirimu lah yang akan aku permainkan selanjutnya."
"Kau bicara seolah-olah aku datang ke sini hanya untuk memberikan omong kosong. Aku sangat sibuk sampai tak punya waktu untuk berbohong padamu," ungkap Triton terdengar sedikit jengkel.
"Aku hanya ingin memastikan saja. Kalau begitu, pasang telingamu baik-baik karena aku akan mulai menjawab pertanyaanmu. Sebenarnya aku adalah—"
Penjelasan Lucy harus terinterupsi karena seseorang tiba-tiba mengetuk kaca mobil. Ia baru akan membentak orang tersebut tepat ketika matanya bertemu dengan iris gelap milik Kodee. "H-hai, Sayang...?" sapanya tersenyum kikuk begitu kaca mobil dibuka.
"Hai juga, Sayang!" Kodee membalas dengan senyum lebar, tapi itu tak berhasil menyembunyikan kerutan jengkel di dahinya. Lantas ia melirik Triton yang langsung mengalihkan tatapan. "Jadi, kenapa kalian berdua ada di sini? Apa ini yang orang-orang sebut dengan perselingkuhan?"
"B-bukan! Ini namanya pertemanan. Aku dan Dokter Triton adalah teman. Karena itulah ini disebut sebagai pertemanan," sanggah Lucy gugup setengah mati.
"Sungguh? Haruskah aku percaya pada istriku yang diam-diam keluar rumah untuk menemui pria lain?"
"Ya, kau harus percaya. Aku dan Triton hanyalah...."
Lucy tak bisa melanjutkan sekalipun ia sangat ingin membuat namanya bersih di hadapan Kodee. Alasannya berhenti bicara bukan karena kehilangan kata-kata untuk menjelaskan, melainkan karena tubuhnya terasa lemas. Entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup sangat cepat dan langsung disambut oleh nyeri di seluruh kepalanya.
__ADS_1
"Hei, apa yang terjadi padamu?" tanya Kodee menyadari bahwa Lucy terlihat pucat dari beberapa waktu lalu. Sayangnya, ia tidak mendapat jawaban karena gadis itu hilang kesadaran dan berubah menjadi Kelinci.
******
"Kodee, aku sungguh minta maaf. Jika aku tahu akan jadi seperti ini maka aku tak akan menemui Lucy."
Entah ke berapa kalinya Triton mengatakan kalimat itu dengan nada memohon, mungkin saja ia telah meminta maaf lebih dari sepuluh kali. Kodee bahkan tak mau menghitungnya karena telanjur jengkel.
Tidak. Sepertinya kata jengkel kurang tepat untuk situasi saat ini. Kodee sampai pada titik di mana ia harus mengepalkan tangannya agar tidak memukul Triton. Jika mereka bukan sedang di rumah sakit, maka sudah jelas Kodee akan memberi pelajaran pada Triton.
Itu adalah pelajaran yang tak mungkin didapatkan sang dokter dari orang lain, pelajaran yang akan membuatnya kapok dan memutuskan hubungan dengan Lucy. Sungguh disayangkan karena Kodee harus menahan diri untuk tidak memberi pelajaran itu sekarang.
"Triton," panggil Kodee berhasil menghentikan Triton yang sedang mondar-mandir. "Bisakah kau berhenti berjalan ke sana kemari? Itu membuat beban pikiranku bertambah."
"Aku tak akan melakukannya lagi." Triton menjawab dengan canggung karena Kodee bahkan enggan meliriknya.
Kodee harus menggunakan berbagai cara hingga pada akhirnya ia berhasil mengubah Lucy menjadi normal. Tak mungkin membawa gadis itu ke rumah sakit saat masih dalam wujud Kelinci. Andaikan hal tersebut dilakukan maka dokter di sana pasti akan menyuruhnya datang ke dokter hewan.
"Dokter bilang Lucy keracunan," ucap Kodee memecah keheningan dengan suara dinginnya. Kali ini ia melempar tatapan tajam pada Triton yang terlihat tak punya pembelaan. "Menurutmu siapa pelakunya? Aku tahu kau tak akan melakukan hal semacam itu," lanjutnya.
Triton tidak langsung menjawab karena dirinya memang belum sempat menyiapkan jawaban. Pikirannya telah kusut sejak Kodee membawa Lucy ke rumah sakit. Walaupun ia bukan orang yang meracuni gadis itu, tapi dirinya tetap merasa ikut andil.
Andaikan waktu bisa diputar maka Triton tak akan meladeni Lucy. Ketika sedang menyesali keputusannya, sebuah ingatan penting tiba-tiba muncul di kepalanya dan membuatnya berseru, "Minuman! Pasti ada yang salah dengan minumannya!"
"Oh, aku baru ingat tentang itu sekarang," sahut Kodee mulai terlihat tenang.
"Aku membeli minuman itu dari seorang pedagang asongan di trotoar dan memberikannya pada Lucy."
__ADS_1
"Itu berarti kau tak mengecek segel pada botol minuman itu. Bukankah kau terlalu ceroboh?"
Sebetulnya Triton ingin menyanggah dengan mengatakan bahwa orang terkadang tak memperhatikan segel tutup botol. Namun, ia memilih menutup mulutnya ketimbang adu mulut dengan Kodee yang sedang marah. Ia tak mau dihajar saat ini juga.
"Kenapa kau masih diam di sini seperti orang idiot?" Kodee bertanya sambil menginjak kaki Triton. Ia terlihat masa bodoh ketika dokter itu mengaduh kesakitan dan menarik perhatian orang-orang di lorong rumah sakit.
Pada saat yang sama, Triton berusaha menekan rasa sakit di kakinya agar suasana hati Kodee tak bertambah buruk. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Hah, aku benar-benar lelah. Menurutmu apa yang harus kau lakukan sekarang?"
"Mengemis maaf darimu agar tidak dipukuli...?"
Kodee menggeram kesal dan mendelik tajam pada Triton. "Kau menyimpan otakmu di mana, sih? Cepat pergi dan ambil botol minuman yang kau maksud! Kita tak boleh sampai kehilangan bukti."
Dalam sekejap Triton langsung menghilang dari pandangan Kodee. Ia menghela napas panjang sambil menatap ruangan di mana Lucy dirawat. Degup jantungnya tetap tak bisa tenang meski dokter menjelaskan bahwa gadis itu telah selamat.
Beberapa saat kemudian, Triton kembali dengan tangan kosong dan wajah pucat. Dua hal itu lebih dari cukup untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Jelas sekali bahwa sang dokter kehilangan botol minuman karena seseorang telah mengambilnya terlebih dulu.
"Kaca mobilku pecah. Sepertinya orang itu tahu bahwa kau akan mengambil botolnya untuk dijadikan bukti," ujar Triton terdengar gelisah.
Sedangkan Kodee yang telah menduga kejadian tersebut hanya bisa membuang napas kasar. "Aku dan Lucy terlibat masalah dengan Raibeart akhir-akhir ini. Keluargaku juga mengirim seseorang untuk mengawasi Lucy."
"Jika pelakunya adalah mereka maka aku tak akan terkejut. Memang siapa lagi yang berani cari masalah denganmu?"
...****************...
...To Be Continue...
__ADS_1