Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Benarkah Tak Akan Jatuh Cinta ....?


__ADS_3

Sedangkan Lucy yang merasa ambigu terhadap ucapan Kodee segera membalas, "Kau berkata seolah kau Kodee Yinkey berpacaran dengan Raibeart lalu berselingkuh denganku."


"Apa kau tidak bisa mendengar keseriusan dalam ucapanku? Berani sekali kau bercanda di situasi sekarang."


"Baiklah, aku menyerah. Tolong maafkan aku karena sudah banyak tingkah. Lalu terima kasih atas kebaikan hatimu yang tiada tara."


Kodee menghela napas panjang begitu mendengar nada bicara Lucy. Telinganya tak mungkin salah dengar ketika menangkap kekesalan dalam suara gadis itu. Ia sungguh tak habis pikir karena Lucy masih belum melakukan introspeksi diri.


"Sepertinya otakmu kesulitan mencerna ucapanku," tandas Kodee yang tanpa aba-aba menginjak pedal rem.


Mobil pun berhenti di tempat sepi dan mengundang rasa ngeri ke dalam benak Lucy. Tiba-tiba saja otaknya mengirim ingatan tentang ancaman Kodee beberapa waktu lalu, di mana pria itu berkata akan menghabisinya dengan cara mengerikan.


"A-apa kau berencana membunuhku di sini?" selidik Lucy mencengkeram erat sabuk pengamannya.


Alih-alih menjawab, Kodee malah mengulas senyum tipis dan mencopot paksa sabuk pengaman Lucy. Lantas pria itu membuka pintu mobil dan berkata, "Aku tak mempunyai minat untuk melakukan pembunuhan. Silakan keluar dari sini sekarang juga."


"Kau serius ingin melepaskanku begitu saja?" Lucy bertanya curiga.


"Ya, aku serius. Setelah berpikir panjang aku mengerti alasanmu kabur dariku ada hubungannya dengan si iblis. Kalau memang begitu maka kau sudah tak berguna lagi. Mari akhiri perjanjian kita tanpa pertikaian."


Lucy mengerjap beberapa kali dan kehilangan kata-kata saking terkejutnya. Mana mungkin ia keluar dengan senang hati ketika menyimpan firasat buruk. Entah kenapa gadis itu mempunyai kepercayaan bahwa Kodee sedang merencanakan sesuatu.


"Kenapa kau diam saja? Bukankah kau sangat ingin kabur dariku?"


Pertanyaan yang penuh sarkasme itu membangunkan Lucy dari segala pemikiran buruknya. Usai mengumpulkan keberanian ia pun menengok ke samping untuk menatap wajah Kodee, berharap bisa menemukan sesuatu dari ekspresi datar sang pria.


Pada akhirnya Lucy menyerah karena tak mendapatkan satu pun petunjuk. Ia menggigit jempol gelisah lalu berujar, "Kau pasti sedang merencanakan sesuatu, kan? Padahal beberapa waktu lalu kau mengancam akan membunuhku jika aku kabur lagi."


"Ancaman itu keluar karena aku sedang emosi, Lucy," ungkap Kodee memberikan tatapan tajam pada lawan bicaranya. "Sekarang aku malas berurusan dengan seseorang yang tak bisa diatur. Jadi, silakan pergi keluar dan lanjutkan rencanamu."


"Hah? Rencana apa?"


"Aku masih ingat jika kau masuk ke dunia ini karena ingin bertemu pria-pria hot."

__ADS_1


Lucy yang awalnya linglung sontak membuka mulut setelah mendengar jawaban tersebut. Baru sekarang ia kepikiran tentang tujuannya datang ke dunia novel. Akhir-akhir ini dirinya melupakan hal tersebut karena terjebak bersama Kodee.


"Jujur saja aku belum bisa mencerna perubahan situasi yang mendadak ini. Kau terlalu mencurigakan," ucap Lucy memicingkan matanya.


Sedangkan Kodee hanya bisa membuang napas kasar karena dirinya telah dituduh sejak tadi. "Baiklah, aku akan berkata jujur padamu. Sebenarnya aku membiarkanmu pergi karena yakin kau tidak bisa bertahan hidup di luar sana."


"Apa maksudmu?" Lucy bingung


"Lagi-lagi otakmu mengalami korsleting." Kodee melempar ejekan sambil menyeringai lebar. Kemudian ia melanjutkan kembali ucapannya, "Yang aku maksud adalah uang, Lucy. Memangnya kau bisa bertahan hidup tanpa uang?"


Untuk kedua kalinya Lucy kehilangan kata-kata akibat ucapan Kodee. Mari pikirkan lebih dalam tentang kalimat tadi. Setiap kata yang Kodee lontarkan tak mengandung kesalahan sedikit pun.


Di dunia ini Lucy hanyalah orang asing yang datang secara tiba-tiba. Gadis itu muncul ke dunia ini menggunakan identitas aslinya, bukan meminjam tubuh salah satu tokoh dalam novel. Dengan demikian ia tidak memiliki tempat atau seseorang untuk kembali.


Lucy yang juga tak mengantongi kartu identitas resmi Ertik akan diinterogasi jika berurusan dengan polisi. Selama ini ia bisa berpergian di Ertik berkat bantuan Kodee, sebab pria itu berhasil memanipulasi data miliknya saat mendaftarkan pernikahan.


Ketika dipikirkan semakin dalam yang Lucy temukan hanyalah kesengsaraan. Jelas sekali gadis itu akan hidup menderita seandainya berpisah dari Kodee. Lagi pula ia tak yakin bisa menemukan seseorang yang sudi membantunya.


"Jadi, apa kau sudah memutuskan?"


Lucy tersentak oleh suara Kodee yang terdengar sangat jelas tengah mengejeknya. Ia pun mengusap wajah frustrasi saat berkata, "Kau benar-benar licik, Kodee."


"Licik? Aku merasa terhormat bisa mendapat titel seperti itu darimu," sahut Kodee tertawa pelan.


Lucy sebal dan berkata, "Sekarang aku paham kenapa kau bisa menjadi tokoh antagonis dalam novel. Ternyata kau benar-benar bisa menekan orang lain."


"Kalau boleh jujur sebenarnya bukan aku yang antagonis atau licik, tapi kau yang lemot. Bagaimana bisa kau tidak sadar dengan masalahmu sendiri? Aku heran kenapa kau berani datang ke dunia ini bersama kebodohanmu." Kodeee mengulas senyum datar.


Lucy mendelik pada Kodee lalu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tak bisa membantah pria itu saat mengingat bagaimana kelakuannya dulu. Walaupun agak jengkel, tapi ia harus mengakui bahwa dirinya hanya mempunyai keberanian tanpa kecerdasan.


"Apa kau masih mau menerima gadis bodoh ini?" tanya Lucy mengubur dalam-dalam harga dirinya.


Sedangkan Kodee yang telah menduga akhirnya segera mengangguk. "Aku masih penasaran bagaimana respons si iblis terhadap permintaanku. Jika responsnya buruk maka aku akan mengusirmu."

__ADS_1


"Oh, itu terdengar seperti menjilat ludah sendiri." ujarnya Lucy.


Kodee membalasnya, "Bagaimana bisa kau mempunyai pemikiran yang aneh?"


Lucy mengangkat bahunya kemudian menjawab, "Itu yang selalu terjadi dalam novel bergenre transmigrasi. Tokoh utama perempuan masuk ke dalam novel dan terikat pernikahan kontrak dengan tokoh utama laki-laki."


"Lalu apa yang terjadi? Apa si laki-laki membunuh istrinya ketika pernikahan kontrak mereka berakhir?" sela Kodee mengerutkan dahi bingung.


"Tidak, bodoh. Awalnya tokoh utama laki-laki berkata tak akan jatuh cinta. Namun, pada akhirnya dia menjadi hipokrit dan mencintai tokoh utama perempuan."


"Jadi, kau berpikir aku akan jatuh cinta dan tak berani mengusirmu?" ujarnya Kodee


"Tepat sekali." jawaban Lucy.


Jawaban percaya diri dari Lucy membuat tawa Kodee meledak. "Sayangnya ucapanmu tidak akan menjadi kenyataan."


"Mengapa tidak?" sahut Lucy yang tersenyum karena candaannya sendiri.


Kodee menjawab, "Karena aku adalah tokoh Antagonis, sedangkan kau adalah tokoh Jadi-jadian. Kita sama-sama bukan tokoh utama dan tak bisa mendapat kisah romantis."


"Lalu apa yang akan terjadi seandainya kita jatuh cinta?" Lucy bertanya.


Kodee menjawab, "Yang akan terjadi adalah akhir menyedihkan."


"Kenapa?" Lucy bertanya sambil mengulas senyum.


Kodee menjawab, "Tentu saja karena kau akan kembali ke dunia asalmu. Setelah itu kita harus berpisah dan tenggelam dalam kesedihan masing-masing. Kita pasti menderita jika saling jatuh cinta, hahaha."


Suasana yang tadinya mulai menghangat langsung kembali menekan. Lucy harusnya berkata sesuatu untuk mengubah suasana, akan tetapi mulutnya malah terkunci rapat karena merasa tak nyaman. Sedangkan Kodee yang mendapat perasaan aneh memilih untuk menjalankan mobilnya.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2