Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Bertemu Triton Lagi - (2)


__ADS_3

Ada banyak hal yang tersimpan di otak Triton sehingga ia cenderung melupakan hal tak penting. Ia menganggap Lucy sebagai orang aneh dan malas untuk mengingat wajah gadis itu. Namun, setelah bertemu lagi dirinya malah menjadi penasaran.


Triton berani bersumpah demi apa pun jika beberapa jam lalu ia memang bertemu dengan Lucy. Itu adalah pertemuan tak menyenangkan yang sempat dilupakannya karena terlampau kesal. Orang lain juga pasti akan merasa demikian saat gadis asing tiba-tiba melakukan kekerasan.


"Kau orang yang memukulku sampai pingsan, kan?" selidik Triton langsung memulai interogasi setelah membeli roti dan obat.


Namun, ia malah meletakkan jarinya di mulut Lucy saat gadis itu hendak menjawab. Sambil masuk ke mobil ia berkata, "Makanlah dulu dan baru jawab pertanyaanku setelah semuanya beres. Aku tak akan menginterogasi orang yang sakit."


Lucy pun tertawa pelan setelah mendengar perkataan tersebut. Sebelumnya ia memang tahu dari novel bahwa Triton adalah dokter baik hati, tapi tak pernah menyangka jika pria itu akan sangat perhatian.


"Aku bisa makan sambil menjawab pertanyaanmu. Pasti kau sangat kesal sekaligus penasaran dengan kejadian waktu itu," ujar Lucy sembari menyobek bungkus roti.


Sejak tadi otaknya sudah menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin akan diajukan oleh Triton. Sayangnya pria itu malah terdiam dengan tatapan datar bahkan ketika ia hampir menghabiskan rotinya.


Merasa canggung, Lucy pun menyodorkan sisa roti pada Triton dan bertanya, "Apa kau mau ini?"


"Aku tidak menerima makanan sisa, Nona," tolak Triton berdecak sebal.


"Suatu hari nanti kau akan terpaksa menerima makanan sisa."


"Apa kau sedang mendoakan hal buruk untukku?"


"Tidak," sahut Lucy menggigit sisa rotinya kemudian melanjutkan, "tadi aku bicara tentang serangan zombi. Jika itu terjadi maka kau terpaksa memakan makanan sisa, kan?"


Triton menanggapi lelucon tersebut dengan tawa kikuk dan kembali memasang wajah tanpa ekspresi. Beberapa kali matanya melirik ke arah jam tangan karena takut jika waktu telah berlalu lama. Ia harus segera pulang untuk mengurus klinik pribadinya.


Jadwal praktik Triton di rumah sakit telah selesai ketika menolong Lucy beberapa jam lalu. Harusnya ia segera melanjutkan jadwal lain setelah memastikan gadis itu baik-baik saja. Namun, Lucy malah membalas kebaikannya dengan memberikan sebuah pukulan.

__ADS_1


Untung saja ada pejalan kaki yang menyadari Triton pingsan di dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Setelah sadarkan diri pria itu pun memutuskan untuk mengurus klinik pribadinya yang akan buka sebentar lagi.


Sayangnya Triton malah berpapasan dengan Lucy untuk kedua kalinya. Tetapi, kali ini gadis itu terlihat benar-benar dalam kondisi gawat dan butuh pertolongan. Pada akhirnya ia harus menolong Lucy meski merasa jengkel.


"Jadi, kenapa waktu itu kau berbohong dan memukulku?" tanya Triton tepat setelah Lucy menghabiskan rotinya.


Sejak awal ia telah mempunyai firasat bahwa gadis itu akan memberikan jawaban mengejutkan. Hanya saja dirinya belum siap ketika mendapat jawaban yang tak pernah dibayangkan olehnya.


"Aku memukulmu karena harus kabur dari Kodee Yinkey. Dia adalah suamiku dan kau pasti sudah tahu siapa dia."


Itu adalah jawaban yang dilontarkan Lucy dengan ekspresi santai, padahal di pihak lain Triton sedang terkaget-kaget oleh pengakuan barusan. Bahkan dokter itu sampai tertawa karena berpikir gadis di sampingnya sedang bergurau.


Namun, ekspresi serius Lucy memaksa Triton untuk berhenti tertawa. Pria itu melongo selama beberapa saat sebelum bertanya, "Kapan kau dan Kodee menikah? Aku tak diberi tahu tentang ini."


"Sebenarnya pernikahan kami terlalu mendadak jadi wajar kalau Kodee lupa memberi tahumu," jelas Lucy sedikit kasihan saat melihat kesedihan dalam tatapan Triton.


Pria itu pasti merasa diperlakukan seperti orang asing oleh teman dekatnya. Meski sering bersikap serius, tapi sebetulnya Triton menyimpan banyak kepedulian. Bahkan ia menjadi satu-satunya tokoh yang diam-diam menangisi kematian Kodee dalam novel.


"Emm..., waktu itu aku dan Kodee mempunyai masalah. Aku yang kekanak-kanakan malah kabur darinya," dusta Lucy mulai bersuara lagi karena Triton tak kunjung bicara. "Intinya aku minta maaf karena membuatmu terluka. Apa tengkukmu masih sakit?"


Pertanyaan itu membuat Triton mengusap tengkuknya. Sambil tersenyum tipis ia menjawab, "Rasa sakitnya sudah hilang sekarang."


"Baguslah kalau begitu. A-apa aku boleh pergi sekarang?" Lucy bertanya dengan ragu mengingat situasinya sedang tak bagus.


"Biar aku antar," sahut Triton seraya membukakan pintu mobil untuk Lucy.


"Beberapa waktu lalu Kodee berjanji untuk menemuiku di restoran cepat saji. Karena jaraknya dekat maka kau tak perlu mengantarku."

__ADS_1


"Sayangnya aku tak bisa membiarkan istri temanku menunggu sendirian, apalagi perutmu sedang sakit."


Lucy hendak menolak tawaran Triton dengan berkata bahwa rasa sakit di perutnya telah reda. Hanya saja ia tak tega jika harus menolak ketulusan pria itu. Pada akhirnya ia menyerah dan membiarkan Triton berjalan bersamanya ke restoran cepat saji.


Dua orang itu hampir memulai pembicaraan tepat ketika seseorang berlari ke arah mereka sambil melambaikan tangan. Orang tersebut adalah Kodee yang beberapa saat kemudian tiba dengan wajah muram dan memelototi Lucy.


"Apa kau tidak tahu seberapa gawatnya situasi saat ini? Beraninya kau pergi ke tempat lain tanpa memberi tahuku!" sungut Kodee hendak menarik tangan Lucy, tapi malah ditepis oleh Triton.


Ia yang terlalu emosi baru menyadari keberadaan orang lain dan menjadi kaget sendiri. "Triton? Mengapa kau ada di sini? Sepertinya kau sangat senang menculik istriku."


"Aku tak pernah menculik istrimu. Kami hanya kebetulan bertemu di sini," sanggah Triton yang jengkel karena dituduh tanpa alasan jelas.


"Apa kau lupa jika beberapa jam lalu kau juga menculik istriku?"


"Waktu itu Lucy pingsan dan aku ingin membawanya untuk diperiksa. Aku tak tahu kalau dia adalah istrimu."


Kodee mengangguk singkat lalu menatap Triton yang masih mencengkeram tangannya. "Jadi, kapan kau akan melepaskan tanganmu? Hari ini aku tak punya banyak waktu karena harus mengurus hal penting dengan Lucy."


"Ah, maaf tentang itu!" seru Triton buru-buru melepas cekalan tangannya. Ia menatap Lucy dan Kodee secara bergantian sebelum berujar, "Aku turut bahagia dengan pernikahan kalian. Sayang sekali kita tak bisa mengobrol lama karena mempunyai urusan masing-masing."


"Apa kau juga akan pergi, Dokter?" Lucy yang dari tadi diam akhirnya mengajukan pertanyaan.


"Aku harus pulang untuk mengurus klinik pribadiku."


"Padahal aku ingin bicara lebih lama denganmu."


Triton mengerutkan dahinya saat melihat raut kecewa di wajah Lucy. "Mengapa kau ingin bicara denganku?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


...****************...


...To Be Continue...


__ADS_2