
"Kodee membunuhku waktu itu karena berpikir aku ini penyusup. Orang yang masuk ke rumahnya tanpa memberi tahu dulu akan langsung dibunuh," celetuk Lucy baru tersadar.
Memang benar menyusup bukanlah perbuatan baik. Namun, harusnya Kodee menyelidiki lebih dulu karena nyawa seseorang tidak bisa diganti. Pengaruh keluarga Hades sudah memenuhi otak pria itu hingga sulit untuk berpikir normal. Mereka menanamkan anggapan jika nyawa orang lain tidaklah penting.
"Yah, mulai sekarang aku akan bersikap baik pada Kodee. Meski perbuatannya tak bisa dibenarkan, tapi dia juga korban," lanjut Lucy kemudian meminum segelas air.
Gadis itu cukup prihatin karena keluarga Hades membuat Kodee haus akan pembunuhan. Seingatnya, dalam novel disebutkan jika Kodee harus mengonsumsi obat penenang agar tidak lepas kendali. Leonidas pun tak luput dari trauma sehingga rutin datang pada psikolog.
"Tapi, Kodee lebih kasihan karena tidak mendapat cinta dari Yuka seperti Leonidas. Melihat cerita lewat sudut pandang antagonis ternyata sangat menyedihkan," ujar Lucy tiba-tiba merasa bersalah karena pernah menghujat Kodee.
Lamunannya tentang alur novel terpaksa buyar oleh suara ketukan pintu. Dengan malas Lucy berjalan untuk melihat siapa yang datang. Sorot matanya mendadak berubah antusias begitu tahu jika tamunya adalah Arvi Reigo, aktor terkenal sekaligus suami ketiga Yuka di masa depan.
"A-Arvi ...?" panggil Lucy dengan jantung berdebar.
Pria yang dipanggil sontak melempar senyum manis, padahal tengah bingung mengenai identitas gadis di depannya. Tanpa menghilangkan senyumnya ia bertanya, "Maaf, saya dengar ini adalah rumah Kodee. Apa dia sudah berangkat kerja?"
Suara merdu Arvi membuat jantung Lucy makin berdebar-debar. Lalu entah bagaimana ceritanya ia malah berubah menjadi seekor Kelinci di hadapan pria itu.
******
"Ini pasti prank."
Hanya tiga kata itu yang muncul dalam pikiran Arvi sekarang. Lagi pula, tak ada dugaan masuk akal lain untuk menjelaskan insiden aneh yang baru saja terjadi. Ia tidak minum anggur sebelum berangkat ke rumah Kodee. Dengan kata lain, kewarasannya masih dapat diverifikasi.
Seratus persen Arvi yakin jika gadis asing di rumah temannya berubah menjadi Kelinci. Bahkan hewan itu masih ada wujudnya dan tengah berbaring di lantai. Langsung saja ia mengamankan Kelinci tersebut kemudian menghubungi Kodee.
__ADS_1
Tak menunggu lama panggilan pun segera tersambung. Sambil memandangi Kelinci di tangannya Arvi berkata, "Wow, aku tak menyangka jika kau mempunyai bakat dalam mengejutkan seseorang! Kenapa tidak membuat konten di internet saja?"
"Bicara apa kau tiba-tiba?" sahut Kodee terdengar bingung.
"Tak usah berpura-pura bodoh." Arvi memutar bola mata jengkel lalu duduk di salah satu sofa. Ia pun melanjutkan, "Aku datang ke rumahmu dan ada seorang gadis di sini. Dia tiba-tiba berubah menjadi seekor Kelinci!"
"Apa kau baru saja membunuh gadis di rumahku?!"
"Hei, aku ini tidak sableng sepertimu! Mana mungkin aku membunuh seseorang tanpa alasan. Sudahlah, mengaku saja jika kau sedang mengerjaiku. Pasti kau belajar sulap, kan?"
Pertanyaan tersebut menjadi penutup dari percakapan antara Arvi dan Kode. Tanpa menunggu tanggapan dari lawan bicaranya, Arvi langsung menutup telepon sesuka hati. Kemudian beralih menatap Kelinci dalam genggamannya yang terus memberontak dan mencicit.
"Hm, bagaimana cara Kodee mengubah gadis itu jadi Kelinci? Aku penasaran dan ingin belajar sulap darinya. Ditambah Kelinci ini sangat lucu!" oceh Arvi menggencet Kelinci di tangannya karena gemas.
Sementara itu, Lucy yang masih belum paham sepenuhnya hanya bisa diam, tak berani bergerak lagi. Kini di matanya Arvi tampak lebih menyeramkan ketimbang Kodee. Pria itu benar-benar menekan tubuhnya sampai ia sesak napas.
"Wow, hewan ini sungguh diam setelah aku ancam!" seru Arvi kaget sendiri. "Apa aku berbakat menjadi pawang Kelinci?"
Jawabannya adalah tidak. Lucy memaklumi pemikiran absurd Arvi karena dalam novel pria itu yang paling kekanak-kanakan di antara tokoh lain. Sejujurnya raut wajah Arvi terlihat lucu dan menghibur, tapi Lucy tak ingin melihat itu sekarang.
"Aku akan menyimpanmu di sini dulu. Jangan kabur ke mana-mana, oke?"
Arvi tiba-tiba melepas Kelinci dari tangannya dan meletakkanya ke atas meja. Jika saja tidak haus maka ia tak mau meninggalkan hewan tersebut. Namun, karena berpikir Kelinci tadi akan menurut pria itu pun beranjak ke dapur tanpa khawatir.
Pada saat bersamaan, Lucy yang masih dalam wujud Kelinci buru-buru meloncat dari meja. Untung saja di bawah sana terdapat karpet berbulu sehingga ia mendarat tanpa rasa sakit. Dirinya harus kabur selagi Arvi berada di dapur, atau lebih tepatnya bersembunyi sampai Kodee tiba.
__ADS_1
"Huhuhu, sial sekali aku malah berubah jadi Kelinci saat bertemu Arvi," gumam Lucy menangis dalam hati.
Ia berhenti menggerutu dan cepat-cepat merayap ke kamarnya begitu mendengar suara langkah kaki. Sekali lagi keberuntungan berpihak padanya. Pintu kamar tidak dikunci dan membuat Lucy bisa masuk dengan leluasa. Lantas ia menjadikan lemari buku sebagai tempat persembunyian.
Sementara Arvi uring-uringan karena Kelinci menghilang dari meja. Kodee yang sedang bekerja memutuskan untuk pulang ke rumah. Masa bodoh dengan lantai kotor serta noda membandel di kaca. Pria itu harus segera mengamankan Lucy agar tak menimbulkan masalah besar.
"Hei, kau ingin pergi ke mana?" tegur seseorang dari tim kebersihan setelah melihat Kodee membanting alat pel dan berlari keluar. "Kita harus membersihkan kantor sebelum jam istirahat tiba!"
Kodee tak mengacuhkan teriakan dari rekan kerjanya. Mungkin besok ia akan mendengar ceramah panjang dari atasan atau malah dipecat karena lalai dalam bekerja. Apa pun yang terjadi besok dirinya tidak peduli. Toh, perusahaan tempatnya bekerja adalah milik keluarga Hades.
Keluarga yang mengadopsinya itu pasti bisa membereskan masalah hari ini. Sekalipun Kodee dipecat dirinya tinggal mencari pekerjaan di tempat lain. Ia harus bekerja hanya untuk mengusir rasa jenuh, sebab tugas membunuh seseorang tidak selalu datang tiap hari.
"Apa dugaanku tentang perubahan Lucy itu salah? Sepertinya alasan dia berubah bukan karena kematia??" ucap Kodee yang sudah mengendarai motornya.
Pria itu menyalip kendaraan lain dengan kecepatan tinggi hingga mendapat teriakan protes. Namun, ia tak peduli mengingat polisi tak sedang berpatroli saat ini. Dirinya harus segera sampai di rumah sebelum hal yang lebih gawat terjadi.
Dan sepertinya Arvi tak melakukan hal aneh karena Kodee tidak melihat mayat Kelinci setelah tiba di rumahnya. Tanpa menyapa temannya terlebih dulu ia langsung bertanya, "Di mana Kelinci yang kau bicarakan?"
"Sebenarnya kau belajar sulap dari mana sampai bisa mengubah manusia jadi Kelinci?" sahut Arvi mengabaikan pertanyaan barusan.
"Aku tidak ingin bercanda sekarang. Cepat katakan di mana Kelinci itu!"
"Ke-Kelinci nya menghilang saat aku pergi ke dapur. Aku pikir itu bagian dari sulapmu."
...****************...
__ADS_1
...To Be Continue...