
Akting pria itu sungguh bukan main. Kedua alisnya menukik tajam hingga menciptakan kerutan jengkel di keningnya. Lalu embusan napas kasar yang keluar dari mulut Kode menjadi pelengkap sandiwaranya. Sekarang ia terlihat benar-benar tersinggung atas tuduhan Lucy.
"Memang benar aku sering membunuh orang, tapi bukan berarti aku akan menghabisi nyawa orang lain tanpa alasan," elak Kode sekali lagi.
Lucy bersedekap dada sementara bola matanya berputar. "Apa kau lupa pernah membunuhku tanpa alasan jelas?"
Kode menjawab, "Tanpa alasan? Waktu itu kau tiba-tiba berubah dari Kelinci menjadi manusia dan sangat mencurigakan itu aneh kan go*blok! Tentu saja aku langsung membunuhmu karena cari aman."
"Aku rasa tidak begitu." ujarnya Lucy sambil melihat tirai jendela.
"Dan aku tidak bisa memaksamu untuk percaya. Terserah kau saja!"
Tepat setelah mengatakan itu Kode pergi dari hadapan Lucy, kemudian masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Di sana ia langsung berdiri di depan cermin sambil menahan tawa. Pria itu sungguh tak kuat jika harus berbohong pada orang lain.
Rasanya mulut Kode ingin terbuka untuk membeberkan fakta yang ada. Ia selalu menikmati di saat orang terkejut atas perbuatan kejinya. Tiba-tiba saja semangat pria itu memuncak karena membayangkan dirinya berada di kerumunan, sambil berpidato siapa dalang dari pembunuhan Andreas dan Samuel.
"Pasti ekspresi mereka sangat lucu," gumam Kode seraya memegang dada, merasakan jantungnya yang telah berpacu cepat.
Sementara di sisi lain Lucy masih berada di ruang tamu, mondar-mandir dengan pikiran yang tertuju pada kasus pembunuhan. Dari sini ia bisa mendengar suara orang-orang. Ternyata mereka belum kembali ke rumah dan tetap asyik bergosip, amat berbeda dengan dirinya yang gelisah.
Penghuni perumahan ini tampak santai meski terjadi pembunuhan. Mereka berkata kasus tersebut membuat takut, tapi tidak kembali ke rumah masing-masing dan malah bergosip di luar. Lucy sangat ingin bergabung bersama mereka. Hanya saja ia terlampau takut untuk keluar rumah.
"Bagaimana jika pelakunya bukan Kode melainkan orang lain?" tanya Lucy pada dirinya sendiri. "Kalau itu benar maka tempat ini tidak aman!"
Hanya satu pertanyaan dan berhasil membuat mata Lucy sulit terpejam. Ketika membaringkan tubuhnya di atas ranjang ia terus berpikir negatif, berandai-andai jika Kode bukanlah pelaku dari kematian Andreas dan Samuel.
Pikir Lucy mungkin saja pelaku aslinya adalah seorang pembunuh berantai lalu menargetkan dia sebagai korban berikutnya. Tak ada dugaan yang lebih mengerikan daripada itu. Karena tidak bisa tidur maka Lucy pun memutuskan pergi ke dapur, untuk memanjakan perutnya yang terasa kosong.
"Gara-gara pembunuhan itu aku jadi tak sempat makan malam," gerutu Lucy setelah tiba di dapur.
__ADS_1
Tepat saat gadis itu meminum segelas air terdengar ketukan pintu yang amat keras, seperti memaksa tuan rumah agar segera membukakan pintu. Lucy yang sudah takut sejak tadi langsung mengacir dari dapur dan berlari menuju kamar Kode lalu menggedor pintunya.
Sementara tangannya memukul-mukul pintu, Lucy berteriak, "Woy, cepat bangun! Seseorang datang ke rumah kita!"
Kode yang memang belum tidur sontak membuka pintu. Namun, karena tidak memberi tahu terlebih dulu, Lucy jadi tersungkur ke lantai, tak mengira jika pintu akan dibuka sekarang juga. Apa yang terjadi pada gadis itu membuatnya tertawa penuh ejekan.
"Kenapa kau malah datang ke kamarku? Jika ada tamu buka saja pintunya," ucap Kode setelah berhenti tertawa.
"Itu karena aku sedikit paranoid. Kasus pembunuhan yang terjadi di perumahan ini membuatku takut." Lucy menjawab sambil berdiri dari lantai.
"Ah, ini berarti kau berpikir jika pembunuhnya bukanlah diriku?" Kode mengulas senyum.
"Bisa dibilang begitu." jawaban Lucy.
Ternyata usaha Kode dalam mendistorsi Lucy tidak gagal. Ia bersyukur karena gadis itu berhenti mencurigainya. Namun, sekarang ada halangan lain yang harus segera dihadapi. Rumah ini dilengkapi oleh CCTV dan dari rekaman ia melihat jika dua polisi datang bertamu.
"Aku akan membuka pintunya. Ikutlah bersamaku," tandas Kode menarik tangan Lucy tanpa permisi.
"Selamat malam, Tuan dan Nona sekalian. Maaf telah mengganggu waktu kalian. Saya datang kemari karena masalah penyelidikan tentang kasus yang menimpa Andreas dan Samuel. Apakah kalian bersedia untuk diinterogasi?" tutur salah satu polisi terdengar ramah sekaligus tegas.
Lucy tak menyangka jika ini adalah gilirannya dan Kode untuk diinterogasi. Ia pikir polisi akan bertanya besok pagi, tapi mereka malah datang saat tengah malam. Sungguh di luar dugaan. Gadis itu tidak tahu bila jam kerja polisi di Ertik sampai bisa mengganggu tidur orang lain.
Padahal ini hanya interogasi yang dapat dilakukan nanti. Meski sedikit kesal Lucy tak mungkin membantah. Jadi, ia melempar senyum manis pada dua polisi tadi ketika Kode mengizinkan mereka masuk. Karena ruang tamu adalah tempat terdekat yang bisa dicapai maka interogasi pun dilakukan di sana.
"Jadi, apa yang ingin kalian tahu dari kami?" tanya Kode setelah duduk bersampingan dengan Lucy.
Polisi dengan rambut hitam kecokelatan memberi kode pada rekannya agar merekam interogasi. Setelah itu ia menatap Lucy dan Kode bergantian. "Apa hubungan kalian? Yang saya tahu perempuan tak bisa tinggal lama dengan pria asing."
"Ah, kami adalah suami istri." Kode langsung menjawab dan merangkul bahu Lucy. "Benar, kan, Sayang?" lanjutnya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Iya, itu benar. Kami menikah karena sesuatu. Jika tak percaya kami bisa memperlihatkan surat nikah kami," timpal Lucy ikutan tersenyum.
"Tunjukkan saja itu nanti. Saya ingin bertanya, kalian berada di mana saat pagi dan siang hari? Nanti saya akan mengumpulkan bukti tentang keberadaan kalian saat itu. Jadi, jangan coba-coba berbohong pada kami."
"Saya pergi keluar untuk belanja sesuatu. Saya pergi ke toko sembako yang ada di dekat sini, nama pemilik tokonya adalah Viktor. Lalu saat itu istri saya sedang berada di rumah," jelas Kode lancar.
Kemudian beberapa pertanyaan diajukan dan Kodee dapat menjawab dengan baik. Polisi yang tak merasa curiga segera pergi setelah melihat surat nikah milik Kodee dan Lucy. Kepergian mereka memberi angin segar untuk dua sejoli tersebut.
"Ugh, aku hampir mati karena gugup!" seru Lucy yang lega karena bisa menjawab tanpa kesalahan.
"Kau ingin makan apa?" Kode mengajukan pertanyaan yang tak ada hubungannya dengan situasi saat ini.
Namun, karena perut Lucy sudah keroncongan ia refleks menjawab, "Rasanya aku ingin makan daging."
"Baiklah, tunggu di sini. Aku akan menggoreng daging untukmu," Seruan Kodee
"Eh, benarkah?" Lucy bertanya.
Dan ia tak mendapat jawaban karena Kodee langsung beranjak ke dapur. Ia pun mengikuti pria itu dan menarik kursi untuk diduduki. Selama beberapa waktu dirinya melihat bagaimana Kode memasak. Ternyata ucapan tentang menggoreng daging benar-benar terjadi.
"Makanlah," titah Kodee yang sudah menyajikan masakannya ke atas piring. Lantas ia duduk di depan Lucy. "Ini adalah keuntungan jika bekerja sama denganku. Aku bisa memasak untukmu."
"Wah, rasanya cukup enak! Dari mana kau belajar memasak daging?" puji Lucy dengan mulut yang masih mengunyah.
Lalu tanpa perasaan Kode menjawab, "Selama ini aku hanya memasak daging manusia. Aku senang karena ternyata aku juga pandai memasak daging ayam."
Tanpa bisa dicegah Lucy berlari ke tong sampah dan muntah-muntah, sedangkan Kode langsung tergelak keras karena gadis itu memberi respons bagus terhadap candaannya.
...****************...
__ADS_1
...To Be Continue...