
Kodee hanya mendecih untuk menanggapi keangkuhan Lucy dan melepas cekalan tangannya dari jok sepeda. Ia mengikuti gadis itu dari belakang sambil melihat ke sekitar, takut bila Raibeart menyadari kebohongannya dan akan menangkap Lucy.
Bagaimanapun juga pasti Raibeart telah menyadari sesuatu sekarang, tapi belum mengambil tindakan karena tak tahu keberadaan Lucy. Yang jelas pria itu akan segera datang pada Leonidas karena tahu bahwa Kodee menipunya.
Kendati demikian, mustahil bagi Raibeart untuk mendapatkan informasi dari Leonidas. Mereka tak mempunyai hubungan dekat sampai bisa bertukar informasi semacam itu. Apalagi sejak dulu Leonidas memperlakukan Kodee sebagai keluarga dan selalu menghindari pengkhianatan.
Leonidas yang begitu loyal memberi Kodee waktu untuk bersantai. Sekarang ia hanya perlu membeli kebutuhan penting dan menunggu sampai sang kakak memberinya kunci rumah. Ketika urusan tersebut selesai maka dirinya bisa langsung pindah ke kota lain bersama Lucy.
"Heh, kita akan pergi ke mana saja? ... Kau tak memberi tahu ke mana aku harus pergi!"
Teriakan Lucy menyadarkan Kodee yang sedang merenungi tentang kebaikan kakaknya. Alih-alih menjawab, pria itu malah berhenti berjalan dan melihat ke sekitar. Saat ini dirinya sedang berada di pusat kota sehingga menemukan toko pakaian atau makanan bukanlah perkara sulit.
Akan tetapi, yang jadi masalah di sini adalah Lucy. Kodee paham gadis itu selalu mencuri kesempatan untuk membuatnya kesal di tempat ramai. Ia tak mungkin meluapkan emosinya ketika banyak mata memandang.
Fakta bahwa Lucy memanfaatkan celah tersebut mendesak Kodee untuk mencari solusi. Pada akhirnya ia mendapatkan sebuah ide ketika melihat restoran cepat saji. Lucy yang tak pernah makan enak sejak datang ke dunianya pasti tertarik untuk menyantap seloyang piza.
"Apa kau mau membeli piza?" tawar Kodee sembari mengeluarkan uang dari dompetnya. "Aku lihat di depan sana ada tempat makan. Belilah sesuatu sementara aku akan mengurus keperluan kita."
Lucy yang ditawari banyak uang tentu saja tak akan menolak. Tanpa berpikir dua kali ia berhenti mengayuh sepeda dan berdiri untuk menerima uang dari Kodee. "Kau pasti ingin membeli barang-barang tanpa diriku," tebaknya yang langsung mendapat anggukan.
Kodee kembali berkata, "Kau sangat merepotkan jadi aku tak mau membawamu bersamaku. Tolong jangan pergi ke mana-mana jika aku belum kembali."
Lucy menjawab, "Jadi, aku harus menunggu sampai kau kembali?"
__ADS_1
Kodee membalasnya, "Tepat sekali. Jangan coba-coba untuk kabur karena kau tak bisa bertahan hidup dengan uang yang kuberikan. Itu hanya cukup untuk membeli makanan."
Lucy memutar bola matanya kemudian berjanji bahwa ia tak akan kabur ke mana pun. Tampaknya janji tersebut cukup mempan karena Kodee langsung percaya dan beranjak pergi tanpa memberikan tatapan ragu.
"Ini adalah hari paling membahagiakan setelah aku datang ke Ertik," gumam Lucy menatap uang di tangannya dengan senyum lebar.
Setelah itu ia mengendarai sepedanya menuju restoran cepat saji yang diberi tahu oleh Kodee. Begitu tiba di sana otaknya langsung dipenuhi dorongan untuk pergi ke tempat lain. Ternyata hari ini restoran mempunyai banyak pelanggan dan membuatnya enggan masuk.
Padahal Lucy telah menahan lapar sejak datang ke kasino, tapi otaknya malah melupakan hal tersebut karena terlalu antusias untuk berjudi. Gadis itu baru ingat bahwa perutnya butuh asupan ketika Kodee menyinggung tentang piza.
Meskipun sangat lapar, Lucy masih harus mempertimbangkan ulang tentang pergi ke tempat lain. Bisa gawat jika Kodee tak menemukannya di restoran yang mereka janjikan. Hanya saja asam lambungnya telah naik ke tenggorokan dan membuat mulutnya pahit.
"Sial. Kalau terus berpikir maka aku akan muntah di sini," umpat Lucy hampir menjerit frustrasi karena isi perutnya seperti dikocok.
Namun, sebelum rencana itu terwujud Lucy malah tak bisa menahan gejolak di perutnya. Bahkan tubuhnya langsung ambruk ke trotoar karena merasa lemas. Ia yang kehilangan tenaga hanya bisa mengumpat dalam hati setelah sadar penyakitnya kambuh.
"Permisi, apa sesuatu terjadi padamu?"
Lucy segera mendongak dan mendapati seorang pria berdiri di hadapannya. Sesaat kemudian ia menyadari bahwa pria itu adalah Triton alias dokter yang merupakan teman Kodee. Entah keberuntungan atau kesialan, tapi yang pasti Triton dapat memberikan pertolongan.
"Sepertinya lambungku sakit karena terlambat makan. Apa kau bisa membantuku untuk berjalan ke minimarket? Aku harus membeli makanan dan obat," pinta Lucy berusaha untuk tidak muntah di jalanan.
Sedangkan Triton yang merasa tak asing dengan wajah Lucy sontak berkata, "Aku merasa pernah melihatmu sebelumnya. Pernahkah kita bertemu di suatu tempat?"
__ADS_1
Lucy menjawab, "Aku akan menjawab pertanyaan itu setelah kau menolongku."
"Oh, maafkan aku! Biarkan aku membantumu berjalan sekarang. Apa kau mau beristirahat di mobilku? Mungkin ini terdengar mencurigakan, tapi aku bukan orang aneh." ujarnya Triton.
"Kau adalah seorang dokter dan aku tahu tentang itu. Jadi, cepat bantu aku berjalan sekarang!" seruan Lucy memohon.
Triton yang sebenarnya terkejut dengan perilaku Lucy tak bisa melakukan apa-apa selain membantu gadis itu. Ia segera membawanya ke mobil lalu berkata akan mengurus tentang obat dan makanan. Setelah membeli semua itu baru dirinya bisa tenang dan mulai menginterogasi Lucy.
Sedangkan di sisi lain, ternyata Kodee memutuskan untuk tidak membeli pakaian sendirian. Ia merasa kekurangan sesuatu dan belum mengetahui tentang selera Lucy dalam berpakaian. Karena itulah ia segera mengubah tujuannya ke restoran cepat saji.
Harusnya setelah tiba di sana Kodee menemani Lucy menghabiskan makanan, kemudian pergi bersama ke toko pakaian. Namun, di antara banyaknya pelanggan restoran ia tak dapat menemukan sosok yang sedang dicarinya.
"Dasar bajing...!"
Kodee tak jadi mengumpat dan memilih pergi dari restoran tanpa membuat keributan. Lagi pula ia merasa tak perlu menyalahkan Lucy karena belum tahu kebenarannya. Bisa saja Raibeart berhasil menemukan posisi mereka dan menculik gadis itu.
Dugaan Kodee mengenai penculikan tersebut semakin kuat ketika melihat sepeda di dekat pintu restoran. Jelas sekali itu adalah sepeda milik Lucy dan pemiliknya pergi entah ke mana. Namun, apakah istrinya benar-benar diculik atau berjalan-jalan ke tempat lain?
"Hah, ini benar-benar merepotkan!" keluh Kodee menahan untuk tidak menendang sepeda di dekatnya. "Kalau benar Raibeart menculik Lucy maka aku akan membunuh si keparat itu!"
Di sisi lain, Raibeart yang ternyata sedang mandi kembang tujuh rupa tiba-tiba terbatuk dan merasakan hawa tak enak. Saat ini ia tengah melakukan perawatan pada tubuhnya agar tetap bersinar sebelum mencari informasi tentang Lucy. Namun, entah mengapa dirinya malah mempunyai firasat buruk.
...****************...
__ADS_1
...To Be Continue...