Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
Debat tak berfaedah di pagi hari


__ADS_3

Kemarin malam, Lucy tiba-tiba menangis setelah menghabiskan telur dadar buatan Kodee. Hal tersebut membuat Kodee khawatir dan berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan yang bahkan tak diingatnya. Namun, Lucy meracau bahwa ia merindukan orang tuanya di dunia lain.


Kodee tak tahu berapa tisu yang diberikan olehnya saat Lucy menangis. Sepanjang malam ia terpaksa memasang telinga untuk mendengar keluhan gadis itu. Jika ia menyinggung hari telah malam maka Lucy akan melabelinya sebagai manusia paling kejam di alam semesta.


Akibatnya, mereka berdua baru bisa terlelap ketika hari hampir pagi. Meski demikian, Kodee masih bisa bangun di jam enam pagi seperti biasanya. Ia mengetuk kamar Lucy dan tak mendapat jawaban. Karena itulah ia memutuskan untuk membuat sarapan sebelum gadis itu bangun.


"Apa Lucy suka roti panggang? Aku lupa bertanya tentang makanan kesukaannya tadi malam. Dia kan berasal dari dunia lain dan mungkin merasa aneh jika memakan roti panggang untuk sarapan."


Kodee yang baru selesai membuat roti panggang isian telur menjadi bimbang sendiri. Tetapi, ia tak mau membangunkan Lucy hanya untuk bertanya tentang masalah tersebut. Ia lebih memilih menyiapkan sarapan lain agar gadis itu mempunyai banyak alternatif.


Dua jam kemudian, Kodee berhasil mengisi meja makan dengan masakannya. Tak ada tempat kosong di meja makan. Pemandangan aneh itu sontak mengejutkan Lucy yang baru saja keluar dari kamar. Awalnya ia pergi ke dapur untuk membuat nasi goreng, tapi ternyata Kodee telah menyiapkan banyak makanan.


"Emmm, apa akan ada tamu yang datang?" Lucy bertanya sambil menghampiri Kodee yang sedang meletakkan yoghurt.


Pria itu menoleh sebentar lalu menarik sebuah kursi untuk diduduki oleh Lucy. "Tak ada yang akan datang ke sini. Aku sengaja memasak semua ini agar kau bisa memilihnya."


"Apa? Kau memasak semua ini hanya untukku?" tanya Lucy tak bisa menahan keterkejutan dalam suaranya.


"Aku tak mau kau menggila seperti tadi malam karena aku salah membuat sarapan." Kodee menjawab seraya duduk di samping Lucy. Ia mengangkat piring berisi roti panggang dan bertanya, "Kau mau ini?"


"Memangnya siapa yang makan roti untuk sarapan? Aneh sekali."


"Tapi, orang-orang di Ertik biasa memakan roti panggang untuk sarapan. Itu tidak aneh bagi kami."


Lucy hanya mengangguk, mengerti bahwa Ertik bukanlah tempat di mana ia dibesarkan. Kemudian ia menatap satu per satu makanan di meja makan dan mengernyit heran. "Kenapa tak ada nasi goreng di sini?" tanyanya.


"Aku rasa nasi goreng tidak bagus untuk sarapan kita. Bukankah semalam kau sudah memintaku membuat nasi goreng? Sebaiknya kau tidak menjadikan itu sebagai sarapan juga tidak baik untuk kesehatan," jelas Kodee hendak melahap roti panggangnya berhasil Lucy tak bertanya lagi.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Aku sering makan nasi goreng untuk sarapan di dunia asliku. Tak terjadi hal buruk seperti yang kau bayangkan."


"Jika kau mengonsumsinya lebih banyak lagi setiap hari pagi siang malam, maka kau bisa merasakan efeknya."


Lucy memutar bola mata malas sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapannya terlihat menantang saat berujar, "Kalau begitu, tolong beri tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku masih ingin makan nasi goreng."


"Hah, kau benar-benar keras kepala, Lucy. Jika kau terlalu sering memakan nasi goreng maka kau bisa terkena sakit diabetes, kolesterol, dan radang tenggorokan, karena banyak mengandung minyak dan bercampur glukosa dan karbohidrat tinggi."


"Sialan. Aku tidak tahu penyakit yang kau sebutkan. Karena aku tidak tahu maka aku akan memasak nasi goreng!"


Ketika melihat Lucy hendak berdiri dari kursi, Kodee langsung memaksa gadis itu agar kembali duduk. Ia mencekal tangan gadis itu sembari mengembuskan napas kasar. "Jika kau sakit maka aku juga akan direpotkan. Aku malas jika harus mengantarmu ke dokter," keluhnya.


"Yah, aku tinggal pergi sendiri ke dokter, kan?" sahut Lucy berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Kodee meskipun terus mengalami kegagalan. "Hey, lepaskan tanganku! Ini namanya pelecehan! Pe. Le. Ce. Han!"


Kodee terpaksa melepaskan tangan Lucy karena teriakan gadis itu seolah bisa menghancurkan gendang telinganya. Sesaat kemudian, ia mendapat ide usil karena mendengar kata-kata barusan. Secara tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya pada Lucy sehingga jarak di antara mereka hanya tinggal sejengkal.


"K-kau...! Apa yang akan kau lakukan?" jerit Lucy panik, menggerakkan tangannya ke sana kemari dengan harapan Kodee akan mengambil langkah mundur.


Lucy menghentikan aliran napasnya untuk sejenak. Entah mengapa ia merasa bahwa Kodee yang rakus telah mengambil semua oksigen di sekitar mereka. "Aku sudah gosok gigi, nafasku juga sudah wangi" ujarnya lucy antusias


"Lalu...?" Kode bertanya heran.


Lucy menjawab santai, "Aku sudah siap. Ayo cium aku!"


Padahal sejak awal Kodee lah yang berniat untuk menggoda Lucy. Namun, ia malah menemukan dirinya tertegun saat melihat Lucy memanyunkan bibir padanya. Dengan cepat ia menggaplok wajah gadis itu karena merasa aneh.


"Cih, kenapa kau malah menamparku? Di mana ciuman pertamaku? Cepat berikan padaku sekarang!" Lucy menggerutu sambil memukul-mukul tangan Kodee.

__ADS_1


"Kau harus melakukan ciuman pertamamu dengan orang yang kau cintai," jawab Kodee langsung mengangkat tangannya karena Lucy sengaja menjilat telapak tangannya.


"Tanganmu rasanya aneh," ucap Lucy sambil berdecak sebal. "Kau makan apa, sih?"


"Tadi aku habis membuang sampah. Mungkin kau tak sengaja memakan cairan yang keluar dari tumpukan sampah."


"Apa? Katakan padaku bahwa ucapanmu tidak benar!"


Kata-kata Kodee memanglah tidak benar karena ia berbohong tentang membuang sampah. Pada kenyataannya ia baru saja mencuci tangan dan sepertinya gadis itu tak sengaja menelan jejak sabun di tangannya.


Namun, Kodee yang masih ingin mengusili Lucy tak mengungkapkan kebenarannya dan malah menunjukkan wajah serius. "Aku tak punya waktu untuk berbohong. Jika kau tak percaya maka kau bisa mengecek rekaman CCTV."


"Eh, ada CCTV di sini?" sela Lucy sedikit terkejut.


"Tenang saja. Aku tak menyimpan CCTV di kamarmu."


"Itu bagus. ... Jadi, tadi kau benar-benar baru membuang sampah?"


"Sayangnya iya. Itu adalah kenyataannya."


Lucy menyipitkan mata curiga dan menjerit frustrasi ketika mendapati bahwa Kodee masih memperlihatkan ekspresi serius. Dengan kesal ia menarik kaos pria itu, tapi ia tak pernah menyangka bahwa tarikannya begitu kuat sampai bisa merobek kaos tersebut.


Kata maaf tak sempat keluar dari mulut Lucy karena dada bidang Kodee lebih dulu mengambil perhatiannya. Ia pernah melihat pria itu tela*njang dada saat mereka pertama kali bertemu. Tetapi, ingatannya sedikit pudar mengingat pertemuan mereka penuh dengan ketegangan.


"Anak kecil tidak boleh melihat," tegur Kodee berekspresi datar sambil memblokir pandangan Lucy menggunakan telapak tangannya.


Gadis itu berdeham dengan canggung dan berekspresi sedikit memonyongkan bibirnya, "Aku sudah cukup umur untuk melihat hal seperti itu. Bagaimana jika aku sarapan dengan roti sobek?"

__ADS_1


...****************...


...To Be Continue...


__ADS_2