Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci

Ke Dunia Novel menjadi Gadis Kelinci
6) Bertemu Pria Tampan Lagi, Berkulit Eksotis


__ADS_3

Lucy hendak mengikuti saat Yuka dan Leonidas beranjak ke tangga, tapi ia langsung diam karena berpikir kehadirannya akan mengganggu. Bisa saja mereka berniat melanjutkan ciu*man di ruang tamu ke hal yang lebih panas. Oleh karena itu, suka tak suka ia harus berduaan bersama Kode.


Prasangka buruk pun mulai memenuhi pikiran Lucy saat pria itu berjalan keluar rumah. Meski tak punya bukti, tapi ia yakin alasan Kode pergi adalah untuk mengambil sesuatu, mungkin senjata yang akan mengambil nyawanya. Rasa takut terhadap kematian mendorongnya agar segera melarikan diri.


"Aku harus kabur," gumam Lucy sebelum bergegas pergi dari ruang tamu.


Rumah Leonidas begitu luas dan peluang untuk kabur tanpa ketahuan pasti besar. Banyak pintu di sana sehingga ia perlu membukanya satu per satu, takut melewatkan pintu yang akan membawanya keluar. Setelah berlari cukup lama akhirnya keberuntungan datang juga.


Lucy berhasil menemukan pintu keluar yang tentu saja berlawanan dengan Kode. Pria itu melewati pintu lain dan pasti jarak antara mereka sangat jauh. Ia tak dapat menahan senyum bahagia setelah benar-benar kabur dari rumah Leonidas. Untung saja rumah tersebut dekat jalan raya, tak seperti tempat tinggal Kode yang terletak di hutan.


"Ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku," ucap Lucy melangkahkan kakinya tanpa tujuan.


Entah ke mana gadis itu akan pergi. Yang penting dirinya tak bertemu Kode lagi. Setelah selamat Lucy berniat mencari tahu cara untuk berkomunikasi dengan Abel, iblis yang membuatnya ada di tempat ini. Biarpun jengkel setengah mati, tapi hanya iblis itu satu-satunya harapan.


"Permisi," kata Lucy pada segerombolan pria yang menghalangi jalan. "Bisakah kalian sedikit bergeser? Saya tidak bisa lewat karena kalian berdiri di sana."


Kumpulan pria itu malah menatap Lucy dari atas hingga bawah, alih-alih bergeser seperti yang diharapkan. Lalu mereka memandang satu sama lain seolah dapat bicara lewat tatapan. Interaksi mereka menimbulkan perasaan tak nyaman sehingga Lucy memilih untuk lewat jalan lain.


Namun, belum sempat kabur pria-pria itu malah mencengkeram tangannya. Salah satu dari mereka menyeringai dan berkata, "Seorang perempuan berkeliaran tengah malam dengan pakaian seperti ini. Bukankah kau bermaksud menggoda kami?"


"Apa? Jangan terlalu percaya diri. Tipeku itu minimal mempunyai dada besar dan bahu lebar. Kalian tidak masuk tipeku sama sekali!" sewot Lucy tidak terima.


Lagi pula ia mengenakan jaket tanpa bawahan karena ulah Kode. Jika saja tidak terpaksa dirinya tak sudi memakai jaket tersebut. Karena itulah saat dituduh aneh-aneh emosinya jadi tersulut. Akan tetapi, Lucy menyesal telah bicara seperti tadi ketika tubuhnya ditarik paksa oleh pria-pria itu.

__ADS_1


"Kalian akan membawaku ke mana?" Lucy bertanya sambil berusaha melepas cekalan di tangannya, meski itu tak menghasilkan apa pun selain rasa pegal.


Gadis itu makin takut karena tak ada jawaban atas pertanyaan tersebut. Mungkin saja mereka hendak membawanya untuk diperk"osa, atau bisa juga mereka adalah sindikat kriminal yang hobi membunuh orang; untuk dijual organnya. Entah dugaan mana yang benar, tapi keduanya terdengar mengerikan.


"Lepaskan aku!" jerit Lucy bergerak seperti cacing kepanasan.


Pria yang masih setia mencengkeram tangannya lantas menjawab, "Kau pikir aku akan melepasmu saat kau memintanya?"


"Oh iya, benar juga."


Kemudian setelah mengatakan itu Lucy terdiam. Selain pasrah ia juga tahu usahanya akan berakhir sia-sia. Di jalan raya ini memang banyak kendaraan yang lewat, tapi apesnya tak ada orang lain karena sudah tengah malam. Sekalipun ada pasti orang tersebut enggan melawan sekumpulan pria untuk menolongnya.


"Apa kau butuh bantuan?"


Tentu saja tak ada yang menguntungkan dari pilihan tersebut. Namun, Lucy pikir jatuh ke tangan Kode lumayan bagus ketimbang berakhir bersama pria-pria tak jelas itu. Ia tidak ingin masuk surat kabar dengan tajuk korban pemerko*saan yang dibunuh secara tragis. Dipikir selama apa pun lebih baik dibunuh saja, tanpa ada embel-embel pemerk*osaan.


Karena itulah Lucy menatap intens Kode dan berteriak, "Tolong aku! Hajar semua pria-pria ini. Aku berjanji tidak akan kabur. Kalau aku kabur lagi-- ..., aku akan berjanji tidak akan kabur lagi."


"Janji macam apa itu?" tanya Kode tak mengharapkan jawaban sebab telah siap dengan pistol di tangannya.


Melawan langsung pria-pria yang menyeret Lucy bukanlah keputusan tepat. Selain kalah jumlah pasti itu akan membutuhkan waktu lama. Kode memilih untuk mengandalkan kemampuan menembaknya dengan niat melumpuhkan, tak berminat untuk melakukan pembunuhan malam ini.


"K-kau tak menghabisi mereka?" tanya Lucy saat Kode berjalan mendekat. "Aku pikir besok akan muncul berita pembunuhan massal di ibu kota."

__ADS_1


Kode tak menjawab dan malah menarik tangan Lucy, tapi bukan untuk diajak pulang, melainkan untuk didorong ke jalan raya. Ketika truk besar menabrak gadis itu, senyum lebar pun terbit di wajahnya Kode. Ia makin bersemangat usai mengetahui ada seekor Kelinci tergeletak di jalan raya.


Insiden tersebut membuat beberapa kendaraan berhenti. Dan sebelum para pengemudi keluar Kode sudah lebih dulu mengambil Kelinci di jalan. Lalu ia pun beranjak dari sana, meninggalkan orang-orang yang dilanda kebingungan sebab korban tabrakan tadi telah menghilang.


Kode tak kembali ke rumah Leonidas karena tahu kakaknya sedang melakukan aktivitas bercocok tanam ala orang dewasa. Ia memutuskan untuk menemui orang lain, orang yang dapat membantunya dalam menemukan identitas Lucy. Sekarang dirinya yakin seratus persen jika gadis itu akan berubah menjadi Kelinci saat mati.


"Kalau kau datang ke sini untuk mengacau maka pergilah!"


Orang yang hendak dimintai pertolongan malah mengusir Kode, padahal ia rela berkendara jauh demi menemui Sean Kalev, salah satu teman dekatnya. "Aku tidak akan mengemis misi untuk membunuh orang lagi. Tujuanku datang ke sini adalah meminta bantuanmu."


"Bantuan apa?" tanya Sean melipat tangan di dada dan masih bersandar di kosen pintu, tanda bila ia menolak kehadiran Kode.


"Mencari informasi tentang seseorang." Jawaban Kode.


"Siapa orangnya?" tanya Sean.


Kode menjelaskan, "Lucy, aku tidak tahu nama lengkapnya."


Sean tahu itu adalah nama seorang perempuan dan mendadak ia tertarik untuk menolong Kode. Jarang sekali temannya itu meminta informasi tentang seseorang, apalagi perempuan. Ini merupakan kali pertama Kode meminta bantuan seperti ini. Pasti hal menarik sedang terjadi, pikirnya yakin.


...****************...


...To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2