
"Kodee, tak usah memotong kukuku lagi. Sebaiknya kau---ARGHHH!"
Jeritan Lucy yang memekakkan telinga itu berhasil membuat Kodee terperanjat. Ia mengerjap cepat kemudian menyadari bahwa kesalahannya sangatlah fatal. Beberapa detik lalu pria itu salah menggunting dan malah mengenai kulit jempol Lucy, hingga membuat sayatan kecil yang mengeluarkan darah.
Demi apa pun di dunia ini. Kodee berani mengambil sumpah jika luka yang dibuatnya adalah hasil dari ketidaksengajaan. Mana mungkin ia tega melukai Lucy saat mereka sedang damai-damainya. Namun, gadis yang sekarang masih menjerit itu terlihat tak akan memberi ampun.
"Jangan minta maaf!" seru Lucy langsung menutup mulut Kodee yang hendak mengeluarkan suara. "Lebih baik kau pergi ke apotek untuk membelikanku plester!"
"Baiklah, tapi sebelum itu bersihkan dulu lukamu." Kodee membalas sambil menarik paksa Lucy agar berdiri, kemudian membawa gadis itu ke wastafel di dapur.
Lucy yang tak tahan melihat darah terus mengalir segera membasuh jempol tangannya. Selama beberapa saat ia merintih pelan karena merasa perih. Walaupun sayatan dari gunting kuku tidak terlalu lebar, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.
Untuk ke depannya Lucy tak akan mengizinkan Kodee menggunting kukunya lagi. Lantas Lucy menatap kuku jempolnya yang kurang rapi dan tersenyum getir. Karena sudah terluka maka mustahil merapikan kuku tersebut. Bahkan bisa dibilang sekarang ia cukup trauma dengan gunting kuku.
Sementara Lucy membersihkan lukanya, Kodee memandangi gadis itu dalam diam. Rasa bersalah yang tadi menghinggapinya perlahan pudar saat melihat mata sembap Lucy. Bukannya menyesal, ia malah memikirkan hal lain.
Kodee bertanya-tanya, ekspresi seperti apa yang akan ditunjukkan Lucy ketika ia menyiksanya lebih dan lebih? Hanya karena luka kecil saja gadis itu sampai menangis, apalagi jika diberikan luka besar. Kemudian ekor matanya melirik pisau yang berada di dekat wastafel.
"Hei, kau sedang melihat apa? Bukankah aku menyuruhmu untuk membeli plester?"
Suara Lucy memenuhi telinga Kodee dan berhasil mengalihkannya dari pikiran buruk. Ia langsung mengurungkan niat untuk membunuh gadis itu ketika ingat harus pergi ke apotek. "Aku tak bisa pergi sendiri. Ayo ikut bersamaku," ajaknya.
"Kenapa aku harus ikut denganmu?" sewot Lucy mematikan keran dan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Sepertinya kau lupa jika orang tuaku baru saja datang," sahut Kodee agak kesal. "Ini berarti anggota keluargaku yang lain juga tahu mengenai pernikahan kita. Mereka bisa saja datang ke sini dan apesnya itu terjadi ketika kau sendirian di rumah."
Lucy yang sempat berpikir untuk bersantai sendirian tanpa Kodee langsung bergidik ngeri. Benar juga kata pria itu. Keluarga Hades yang lain pasti penasaran lalu datang ke rumah. Ia tak akan kuat jika harus menghadapi mereka sendirian. Jadi, suka tak suka dirinya harus terus bersama Kodee.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan ikut denganmu!" tandas Lucy melangkah duluan dan menghentakkan kakinya.
Sedangkan Kodee yang berada di belakang hanya bisa mengusap dada. Terkadang ia ingin menghabisi nyawa Lucy karena gadis itu sering bertingkah menyebalkan. Sayangnya hal keji tersebut tak dapat dilakukan mengingat mereka telah membuat kesepakatan.
Kodee ingat waktu itu Lucy berkata jika pemanggilan iblis hanya bisa dilakukan saat hari Jumat. Ia hanya perlu menunggu dua hari lagi untuk bertemu dengan sang iblis. Setelah berhasil, pria itu tinggal menyebutkan permintaannya. Ia pikir iblis tersebut akan berbaik hati karena Lucy merupakan pemuja yang setia.
"Setelah dari apotek kita juga harus pergi ke tempat lain," celetuk Kodee membuat Lucy menoleh.
Gadis itu mengernyit heran. "Memangnya ada tempat lain yang ingin kau datangi?"
"Iya, ada. Tapi, sebelum aku menjelaskan lebih baik kau perhatikan langkahmu."
Lucy tak sempat menyelesaikan ucapannya karena tiba-tiba saja ambruk ke lantai. Ternyata tadi Kodee memperingatkan jika di depan sana pintu dapur masih tertutup. Karena menengok ke belakang dirinya jadi menubruk pintu tersebut. Dengan begini kesialannya jadi bertambah dua kali lipat.
"Lain kali jangan berjalan sambil melihat ke belakang," tegur Kodee menahan tawa saat mengulurkan tangannya.
Merasa tersinggung, Lucy pun menepis tangan Kodee dan berdiri sendiri. Padahal beberapa waktu lalu dirinya sempat bersimpati, bahkan sampai berdoa untuk kebaikan pria itu. Akan tetapi, sekarang Lucy malah ingin jika Kodee Yinkey si tokoh antagonis dirundung oleh kemalangan.
"Jadi, kau ingin pergi ke mana?" tanya Lucy memastikan pintu telah dibuka sehingga ia tak akan menabraknya lagi.
__ADS_1
"Ke toko hewan," jawab Kodee cepat. "Aku harus membeli banyak Kelinci."
"Hah, untuk apa kau membeli Kelinci?"
"Apa kau lupa ingatan? Aku kan berencana membuat Kelinci itu berubah jadi perempuan dengan bantuan iblis."
Lucy yang baru ingat mengenai hal tersebut refleks menghentikan langkahnya. Untung saja Kodee mempunyai respons bagus hingga ikut berhenti dan tak menubruk gadis itu. Selama beberapa detik suasana mendadak hening, tidak ada yang berinisiatif menyambung obrolan.
Hingga kemudian Lucy berbalik lalu berkata dengan ceria, "Kalau begitu aku ganti baju dulu! Setelah itu kita baru bisa pergi ke apotek dan membeli Kelinci."
"Aku rasa itu hanya membuang waktu. Lagi pula pakaianmu tidak jelek. Kita ini hanya akan pergi sebentar, bukan datang sebagai tamu undangan di acara besar," ungkap Kodee mengamati sweter longgar dan celana pendek yang dikenakan Lucy.
Sedangkan gadis itu spontan memalingkan wajah. Tidak. Ia tidak malu karena ditatap seperti demikian. Saat ini Lucy tengah dilanda kegugupan sebab ragu dengan kesepakatan yang dibuat bersama Kodee. Andai tak ada pembicaraan mengenai iblis maka dirinya akan adem-adem saja.
Lucy tidak yakin jika iblis yang dipujanya bersedia mengabulkan permintaan Kodee. Wajar saja bila ia mempunyai pemikiran negatif. Dahulu gadis itu meminta sesuatu pada si iblis dan malah diubah menjadi Kelinci. Saat itu posisinya adalah sebagai pemuja setia.
Tak bisa dibayangkan bagaimana nasib Kodee nanti, mengingat pria itu bukanlah pemuja iblis. Lucy jadi takut sendiri. Kan gawat jika iblisnya malah mengubah Kelinci menjadi monster, alih-alih perempuan. Sungguh bayangan yang mengerikan sampai ia berpikir untuk kabur saja.
Berganti pakaian hanyalah alasan. Yang sebenarnya ingin Lucy lakukan adalah masuk ke kamar dan kabur lewat jendela. Bagaimanapun juga dirinya tak bisa menjamin tentang apa yang akan dilakukan si iblis. Ia harus cari aman dengan cara berhenti berkeliaran di sekitar Kodee.
"A-aku tidak nyaman dengan celana pendeknya. Ini kan khusus untuk di rumah. Dan lagi pasti nanti banyak laki-laki yang melihat pahaku," dusta Lucy berharap ucapannya membuat Kodee setuju.
Namun, pria itu malah berkata, "Tenang saja. Aku ini menguasai banyak bela diri, Lucy. Jika ada yang melihat pahamu tinggal aku pukul."
__ADS_1
...****************...
...To Be Continue...