
"Siapa saja yang bersamamu,selama 1 minggu ini?" tanya Hendri sambil megalihkan tatapan seriusnya kearah Ellin yang langsung menatapnya.
"Ada hitung puluhan orang,Dad..." jawab Ellin dengan nada dan wajah tidak berdayanya,karena dirinya yang tidak pernah memilih dalam berteman hingga banyak yang suka mendekatinya dalam waktu 1 minggu saja
"Mereka berdua baru tiba disini pada seminggu yang lalu,mereka masih baru disini,jadi tidak mungkin mereka memiliki musuh" ucap Hendri saat ia tahu kalau Willy pasti sedang mempertanyakan atau mungkin sedang memikirkan hal ini didalam hatinya,dan ke 3 wanita tersebut mengangguk-anggukkan pelan kepala mereka untuk mengiyakan perkataannya Daddy Hendri barusan.
"Aku juga merasa seperti itu sedari tadi,dan ternyata mereka termasuk cerdik juga,mereka tidak mampu menganggu Hery tapi mereka malah mencari yang lebih mudah untuk didekati.Atau mungkin bisa dikatakan,mereka mencari yang mudah untuk diserang,dan mereķa juga pasti tahu jelas kalau kedua wanita kembar ini adalah letak kelemahanmu" ucap Willy dengan mengalihkan tatapan seriusnya kearah Hendri.
"Sudah setua ini,tapi kenapa kamu masih saja memiliki musuh?" lanjut Willy dengan nada ejekannya,sambil menepuk-nepuk pelan kedua tangannya untuk membersihkan kedua tangannya dari benda transparan tadi.
"Cih,,," Hendri langsung berdecih kesal,ternyata sahabatnya ini masih sempat-sempatnya membalas kekesalannya tadi.
__ADS_1
"Jadi kita harus bagaimana sekarang? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Angel dengan nada dan wajah khawatirnya,sambil memeluk pelan lengannya Hendri.
Sedangkan Ellia dan Ellin,ekspresi wajah sok-sok an mereka yang tidak memerlukan bodyguard tadipun mulai menghilang dan berubah menjadi ekspresi waspada yang telah bercampur takut.
"Kamu tenang saja,tidak ada yang akan bisa mencelakai kedua putri kita" jawab Hendri dengan nada dan wajah tersenyum tenangnya, sambil menepuk-nepuk pelan tangan istrinya untuk menenangkan rasa khawatirnya tersebut.
"Maka dari itu,mulai hari ini kalian berdua harus menuruti semua katanya paman Willy,dan jangan suka melakukan aktivitas yang tidak perlu diluar perkerjaannya kalian.Apa kalian berdua sudah mengerti sekarang?" lanjut Hendry dengan nada dan wajah tegasnya kembali,sambil mengalihkan tatapan tegasnya kearah wajah takutnya Ellia dan Ellin yang saling berpegangan tangan sedari tadi.
"Ambil ini, dan pakaikan ketangan kalian masing-masing.Jika kalian menemukan bahaya sekecil apapun nanti,cepat tekan mutiara kecil yang ada ditengah-tengahnya ini" timpal Willy sambil menyodorkan kedua gelang biasa yang baru saja ia keluarkan dari saku kemejanya dan mengabaikan kata "Paman" dari mulutnya Hendry barusan,lalu ia juga menunjuk keberadaan mutiara kecil tersebut,mana tahu saja kedua putri kembar tersebut masih tidak mengerti dengan apa yang ia katakan barusan.
Apa lagi saat mereka melihat kedua gelang biasa tersebut,walaupun terlihat biasa tapi sangat indah dengan kilauan warna keemasannya dan mutiara halus yang ada disekelilingnya.
__ADS_1
"Ingat,jangan pernah melepaskannya dari tangan kalian.Jika kalian sampai melepaskannya dan terjadi sesuatu sama kalian berdua,jangan salahkan aku karena tidak berhasil menolong nyawa kalian berdua" peringat Willy dengan nada dan wajah tegasnya,sambil kembali duduk ditempat duduknya tadi.
Ia juga melirik sekilas kearah Ellia dan Ellin yang sedang sibuk memakai gelang pemberian darinya barusan.
"Baik,terima kasih paman,kami akan selalu mengingatinya" ucap Ellin dengan nada seriusnya,dan dengan Ellia yang mengangguk-nganggukkan pelan kepalanya,rasa tidak suka mereka tadipun perlahan-lahan memudar karena aksi hebatnya Willy yang begitu teliti tersebut.
"Dad,Mom,kalau begitu kami akan berangkat sekarang" timpal Ellia dengan nada buru-burunya karena waktu sudah menunjukkan jam 8 lewat 15 menit,lalu mereka berduapun langsung berjalan pergi setelah mendapatkan anggukan pelan dari kedua orang tuanya mereka.
"Siapa yang sedang memusuhimu akhir-akhir ini?" tanya Willy dengan nada santainya,setelah punggung keduanya sudah menghilang dari pandangannya mereka.
"Seperti kamu tidak pernah memiliki musuh saja,lagi pula setiap musuhku selalu yang tidak diundang,jadi kemungkinan banyak yang memusuhiku pada akhir-akhir ini" jawab Hendry dengan nada santainya,sambil menyesap teh yang dibawakan oleh pelayan tadi.
__ADS_1
Tapi memang begitulah kenyataannya, kebanyakan musuhnya itu selalu membencinya sebelum ia melakukan apa-apa,dan itulah yang namanya rasa iri.
"Hanya saja,pada terakhir kalinya pada beberapa bulan yang lalu,ada yang berebut proyek denganku.Jika aku tidak salah ingat,mereka dari keluarga Rajaksa" lanjut Hendry dengan nada seriusnya kembali,ia mencurigai keluarga tersebut,karena ia bisa melihat jelas wajah penuh dendamnya mereka pada beberapa bulan yang lalu.