Kembar Cantiknya Sang Mafia

Kembar Cantiknya Sang Mafia
Bab.40


__ADS_3

"Hm..." jawab Willy dengan singkat.


"Berhati-hatilah untuk kedepannya,mungkin saja Ayahnya wanita itu sedang mulai merencanakan sesuatu yang buruk sebentar lagi" peringat Hendri dengan nada dan wajah seriusnya kembali.


"Hm" jawab Willy dengan jawaban yang singkat lagi,karena ia sudah mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Hendri barusan.


Lagi pula dengan sekali menilai saja,ia sudah bisa melihat jelas tatapan matanya wanita ular tersebut yang dipenuhi dendam tadi,jadi iapun bisa menebak-nebak apa isi pikirannya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan pada putrimu ini,apa kita perlu menyiramnya dengan air saja?" lanjut Willy,iapun bertanya dengan nada malasnya,apa lagi saat ini sudah hampir jam 1 malam dan tubuhnya juga mulai merasa lelah.


"Tidak perlu" jawab Hendri dengan singkat sambil tersenyum penuh arti.


"Lalu?" tanya Willy dengan kening yang mengernyit heran,ia merasa bingung dengan jawaban singkatnya Hendri tersebut.


Apakah Hendri berniat ingin membiarkan Ellin tidur semalaman hingga pagi didalam mobilnya saja,begitu?


"Kamu gendong Ellin keatas saja,kamarnya ada dilantai 2 dan kamar ke 2 dari arah masuk.Aku peringatkan ya,kamu tidak perlu merepotkan diri untuk membangunkan Ellin karena dia sulit untuk dibangunkan dengan cara apapun,selain dengan cara menyirami air.Dan jangan lupa untuk selalu memperingatkan dia untuk tidak berpakaian terbuka seperti malam ini,dan sepertinya Ellin akan lebih mendengarkan kata-katamu dari pada kata-kataku" jawab Hendri dengan panjang lebar dan wajah tersenyum tidak bersalahnya,Willy yang ingin berbicara bahkan hanya mampu terus menutup dan membuka mulutnya secara bergantian.


"Kalau begitu,aku akan masuk dan beristirahat terlebih dahulu,aku akan meninggalkan putri kami untuk kamu yang urus saja.Selamat malam..." lanjut Hendri dengan cepat sebelum Willy sempat menyelanya,sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya Willy,lalu iapun berjalan pergi dari hadapannya Willy dan masuk kedalam Mansion megahnya begitu saja.

__ADS_1


"Hey,hey,,,****..." Willypun langsung mengumpat kesal saat ia tidak berhasil menyela dan menghentikan langkahnya Hendri dan malahan ia diabaikan oleh Hendri tanpa berperasaan, kemudian iapun hanya mampu berbalik badan dan menatap kesal kearah punggungnya Hendri.


Apa lagi saat ia memikirkan kalimat panjang lebarnya Hendri barusan,kalimat yang lebih tepatnya terdengar seperti sebuah ancaman untuk dirinya.


Setelah selesai meredakan rasa kesalnya tersebut selama 10 menit,kemudian Willypun menatap satu-persatu beberapa pengawal yang ada disekitarnya dengan tatapan tajamnya.


Tapi sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang berani mengangkat kepala untuk menatapnya,hingga membuat Willy menghela napas berat dengan panjang.


Karena tanda tidak berani itu juga menandakan kalau tidak ada satupun juga dari mereka yang berani melawan perintah Tuannya mereka dan sudah dipastikan kalau tidak ada yang bersedia membantunya untuk mengganti posisinya,untuk mengendong Ellin.


Lalu Willypun kembali berbalik badan sambil memijit pelan pangkal hidungnya yang terasa agak sedikit pusing dan menatap malas kearah Ellin yang masih saja tidur terlelap didalam mobilnya, menurutnya Ellin memang wanita yang sangat aneh.


"Dasar wanita..." Willy akhirnya mau tidak mau terpaksa mengendong Ellin dari dalam mobilnya dan membawanya masuk kedalam Mansion megah milik sahabatnya tersebut.


Beberapa menit kemudian...


"Ceklek..." terdengar suara pintu kamar yang dibuka dari luar oleh Willy,ia juga terpaksa naik kelantai 2 dan membuka pintu kamar sendiri karena tidak ada satupun yang berani membantunya,dan tentu saja itu adalah ulah sahabatnya Hendri.


Untung saja kedua tangannya sangat kokoh untuk mengendong Ellin sambil membuka pintu kamar,ia bahkan tidak merasa kesulitan sedikitpun saat ia hendak membuka pintu kamar barusan.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam kamar miliknya Ellin,Willy menghentikan langkahnya tepat disamping kasur karena sibuk memerhatikan isi kamar tidurnya Ellin yang ternyata begitu banyak warna,beda dengan miliknya yang hanya berwarna hitam dan putih saja.


Bisa dikatakan seisi kamar tidurnya Ellin hampir dipenuhi dengan warna pink dan beberapa warna yang lainnya,bahkan disepanjang sisi bawah jendela sana terdapat beberapa macam pot bunga hias hidup.


Belum lagi pot bunga hidup yang terdapat disetiap sisi balkonnya sana,walaupun mereka semua rata-rata memiliki bentuk yang agak kecil tapi sangat indah dan cantik untuk dilihat oleh semua mata,ditambah lagi dengan berbagai aroma bunga yang telah berhasil membuat kamar tersebut terasa lebih hidup lagi.


"Dasar wanita..." gumam Willy dengan nada dan wajah malasnya setelah ia memerhatikan isi kamar tersebut selama beberapa menit,diantara semua warna,ia paling tidak suka dengan warna pink salah satunya.


"Sebaiknya aku segera pergi dari sini" lanjut Willy lagi,sambil meletakkan pelan tubuhnya Ellin keatas kasur,padahal ia baru saja masuk beberapa menit tapi rasanya ia sudah merasa begitu bosan,mungkin saja karena warna yang tidak suka ia lihat tersebut.


Tapi baru saja Willy ingin mengangkat kepalanya dari membungkuknya barusan,tapi kedua tangannya Ellin malah tiba-tiba saja merangkul lehernya dengan begitu erat dan yang lebih parahnya lagi,hingga berhasil membuat bibirnya mereka berdua langsung menyatu rapat karena Willy yang memang belum sempat berdiri seimbang dan ia juga tidak menyangka kalau Ellin akan merangkulnya secara tiba-tiba seperti ini.


Kedua matanya Willypun juga ikut langsung terbuka lebar-selebarnya,tapi Ellin malah sibuk dengan mimpinya dialam bawah sadarnya sana tanpa merasa malu ataupun bersalah sedikitpun, karena kedua matanya Ellin masih tertutup rapat tapi kedua tangannya masih sibuk merangkul erat lehernya Willy,terlihat ntah sedang memimpikan apa.


Willy malah terdiam dengan pikirannya yang ntah melayang-layang sampai kemana, saat ini dibenaknya mulai dipenuhi oleh c**m*n-c**m*n panas,juga sentuhan-sentuhan lembut yang telah ia berikan pada Ellin dan juga semua lekukan-lekukan yang telah ia nikm*t* pada malam itu.


Dan yang lebih berhasil membuat tubuhnya menjadi panas dingin adalah karena dada kerasnya yang juga ikut menyatu dengan dada empuknya Ellin sedari tadi,hanya dibatasi oleh kemeja dan dress tipisnya saja,karena jaket kulitnya tadi terjatuh kelantai saat Ellin secara tiba-tiba mengangkat kedua tangannya barusan.


Beberapa menit kemudian...

__ADS_1


Willy terus saja menatap kearah kedua matanya Ellin yang masih tertutup rapat tapi bulu matanya yang panjang dan melentik malah terlihat begitu indah dimatanya,tapi bibir tipisnya masih setia diam diatas bibir kenyalnya Ellin,hingga...


__ADS_2