
"Hm..." jawab Willy dengan singkat sambil mengeluarkan pistol kesayangannya,kedua mata tegas dan tajamnya terus menyapu kesekitar bangunan yang seperti markas tersebut sedari sampai tadi.
Kali ini Willy membawa salah satu pistol kesayangannya yang bernama Glock 17 yang bisa diisi dengan 17 biji peluru 9mm,Bern hanya mampu meneguk pelan air l*dahnya karena miliknya hanya pistol revolver saja,yang biasa digunakan oleh para polisi.
Walaupun pistolnya masih termasuk yang bagus dan bisa mematikan pihak lawan manapun jika ia menembakkan pelurunya,tapi tetap saja pistolnya tidak akan mampu dibandingkan dengan milik Tuannya itu.
Kemudian Willy melangkah keluar dari dalam mobil,dan diikuti oleh Bern dan juga yang lainnya,lalu mereka semuapun berjalan pelan dan waspada kearah balik pepohonan yang ada disana.
"Tuan,ternyata mereka memiliki banyak bawahan diluar sana, mungkin saja didalam sana juga ada banyak" ucap Bern sambil mengalihkan pandangannya dari ruko sana kearah Tuannya,ia bisa melihat kalau ruko tersebut memang telah dijaga dengan begitu ketat,sepertinya Tuannya mereka termasuk orang yang ditakuti atau disegani juga.
"Apakah kamu merasa takut sekarang? Jika iya,pergi saja dari sini" tanya Willy dengan nada santainya,sambil memerhatikan lokasi pemberhentiannya Ellin dilayar HPnya,untung saja bawahan wanita yang ia perintahkan untuk masuk menyamar diantara 5 rekan musuhnya itu tadi telah berhasil menyambungkan GPSnya Ellin kepadanya.
"Tidak,aku tidak takut sama sekali,Tuan" jawab Bern dengan jujur karena ia memang tidak pernah takut pada apapun,apa lagi ada Tuannya yang bersama mereka pada saat ini.
Walaupun ratusan orang yang berada dikejauhan sana tidak sebanding dengan belasan orang yang mereka bawa,tapi ia sangat mempercayai kemampuan Tuannya.Hanya saja,ia hanya sedang mengkhawatirkan keselamatannya Nona Muda Ellin yang mungkin saja akan terluka jika mereka terlambat menyelamatkannya nanti.
Sedangkan Willy,ia terus memperhatikan layar HPnya hingga posisinya Ellin berhenti disalah satu ruangan lantai ke 2 nya ruko besar tersebut, bahkan diwajah tampannya yang tegasnya dan tenangnya itu tidak terlihat ada rasa takut ataupun khawatir sama sekali.
"Dring dring dring..."
"Tuan,Tuan Hendri yang menelepon,apa aku harus mengangkatnya?" tanya Bern dengan nada bingungnya,saat ia melihat nama kontak yang meneleponnya dilayar HPnya saat ini setelah ia mengeluarkan HPnya dari saku celananya.
__ADS_1
"Angkat saja,jika kamu memang memiliki jawaban yang bagus untuknya" jawab Willy dengan ekspresi tidak perduli diwajahnya,sambil mengalihkan tatapan waspadanya dari layar HPnya kearah markas sang musuh.
Bern yang mendengar jawaban dari Tuannya barusanpun,ia hanya mampu menghela napas berat dengan panjang.
Iapun segera mematikan HPnya yang nada panggilannya baru saja berhenti,lalu ia masukkan kembali kedalam saku celananya dengan gerakan tidak berdayanya karena nyatanya ia tidak memiliki jawaban yang bagus untuk ia berikan kepada Tuan Hendri.
Melihat wajah tenang Tuannya,sudah dipastikan kalau Tuannya pasti telah mematikan HPnya atau menggantikan no pribadinya tersebut sedari tadi.
Setelah melihat keadaan disekitarnya saat ini dan berpikir sejenak,Willypun menyimpan pistol kesayangannya kepinggangnya kembali.
"Ayo..." terdengar suara perintahnya Willy yang terdengar seperti ajakan itu,lalu terlihat Willy yang langsung berjalan masuk kearah markas tersebut dengan langkah pelan dan waspadanya.
Karena lawan mereka yang terhitung lumayan banyak itu,jadi mereka harus memakai cara pelan seperti ini supaya lebih aman.
Bahkan 2 pasukan didalam 2 mobil yang ada 15 orang tadi,yang bersama Willy dan Bern tadi,tidak ada satu orangpun bawahannya Hendri yang berada diantara mereka semua,semuanya adalah bawahannya Willy yang memang sengaja Willy bawa pada hari itu,yang sudah terlatih dan juga dilatih langsung oleh Willy selama beberapa tahun ini.
Bukannya ia tidak ingin mempercayai kemampuan bawahan sahabat baiknya itu,tapi jika ingin melakukan hal yang lebih serius,ia lebih suka dan nyaman bersama bawahannya sendiri saja.Kecuali,hal tersebut sudah darurat.
Lihatlah,seperti sekarang ini,Asisten dan bawahannya langsung bisa mengerti tanpa perlu ia mengatakan apapun maksudnya,ia hanya perlu mengeluarkan 1 kata atau beberapa kata saja.
Willy dan yang lainnya mulai bergerak pelan kearah markasnya musuh,dan hanya dalam 20 menit saja,sekitar 50 orang penjaga tegap yang masih berada diluar markas tadi sudah tergeletak dengan leher terkulai.
__ADS_1
15 bawahannya berserta Willy dan Bern cukup ahli dalam bela diri,jadi para penjaga tersebutpun langsung tewas ditempat karena berkat keahlian dan gerak cepatnya Willy dan yang lainnya.
Willy tersenyum puas saat ia melihat para penjaga yang telah tewas dalam sekejap mata,Bern dan yang lainnya segera berjalan mendekat.
"Tuan,sebaiknya Tuan keatas dan selamatkan Nona Muda Ellin terlebih dahulu" ucap Bern dengan nada cepatnya saat ia melihat kalau Tuannya terlihat ingin berbicara.
"Bern,,," baru saja Willy ingin memerintahkan Bern kembali,tapi Bern malah menyelanya dengan begitu cepat,seperti tidak memiliki waktu cukup saja.
"Tuan,kami akan mencari yang lainnya sekarang,mereka pasti masih banyak didalam sana. Ayo,teman-teman" sela Bern dengan nada serius dan juga wajah tegasnya,lalu iapun langsung berjalan masuk kedalam markasnya musuh sambil tersenyum puas karena ia baru saja berhasil membalas rasa kesalnya terhadap Tuannya tadi.
Apa lagi ia sangat tahu kalau Tuannya tidak suka dekat atau mengurusi wanita,jadi hal tersebut sangat setimpal dengan rasa kesalnya tadi.
"Baik,Tuan" jawab yang lainnya secara serentak,lalu mereka semuapun langsung melangkah masuk mengikuti langkah Tuan Bern yang setahu mereka kalau perintahnya sama dengan perintahnya Tuan Willy mereka.
Walaupun mereka awalnya merasa takut dan ragu untuk melangkah, tapi waktunya termasuk cukup buru-buru saat ini,jadi mereka tidak punya pilihan selain mengikuti perintahnya Tuan Bern tanpa berani menatap wajah Tuan Willynya mereka.
"Tapi,,,hey,hey,Bern,,," belum sempat Willy menyelesaikan kalimatnya,punggungnya Bern dan yang lainnya mulai menghilang dari pandangannya dengan begitu cepat.
"****,,,siapa sebenarnya yang sedang menjadi Tuannya kalian sekarang,kenapa kalian malah lebih mendengar pria idiot itu?" Willy hanya mampu mengumpat kesal, sambil terus menatap kesal kearah perginya Bern dan yang lainnya tersebut.
Willypun akhirnya kembali mengeluarkan pistol kesayangannya setelah ia sudah selesai menghela napas berat dengan panjang,lalu mau tidak mau iapun melangkah masuk kedalam dan menaiki anak tangga untuk menuju kelantai dimana Ellin berada pada saat ini,dengan wajah kesal tentunya.
__ADS_1