
Dan untuk yang malam ini,benar-benar terlihat begitu aneh dimatanya mereka semua hingga berhasil membuat mereka berdiri tercengang selama sekitar 10 menit dan juga saling memandang ditempatnya mereka masing-masing.
Berbeda dengan Denise dan Erik yang malah menampilkan ekspresi takut dan juga pucat diwajahnya mereka,saat mereka mendengar peringatan dari Willy tadi.
Apa lagi saat melihat tatapan tajam dan ekspresi wajah yang terlihat seperti ingin membunuh itu,mereka malah semakin merasakan takut.
Mereka bahkan belum sempat membela diri sebelum Willy memperingati mereka tadi,mereka berdua hanya mampu berdiri diam saja.
"Siapa pria itu?" tanya Erik dengan nada dan wajah penasarannya setelah berdiri pucat selama 15 menit,sambil berusaha untuk berdiri dan terus menatap punggungnya Willy dan Ellin sedari tadi hingga menghilang dibalik pintu mobilnya sana.
"Aku tidak mengenalnya,aku juga baru ini pertama kalinya melihat pria itu,sayang" jawab Denise dengan wajah bingung dan sekaligus penasarannya juga,sambil membantu Erik yang sedang sibuk ingin berdiri dari terduduknya tadi.
Walaupun mereka berdua terlihat bingung dan juga penasaran,tapi rasa takut yang memenuhi dirinya mereka tadi masih belum mengurang sedikitpun,apa lagi mereka berdua juga telah sama-sama terluka oleh pria tersebut.
Belum pernah ada satu orangpun dikota ini yang berani melawan atau sampai melukai mereka sampai seperti ini tapi pria tadi malah begitu berani melukai mereka tanpa ragu ataupun rasa takut sedikitpun,dan pria ini juga malah terbukti kalau dia begitu berani melukai mereka berdua.
"Tapi pria itu benar-benar kuat,tanganku terluka sampai separah ini,dasar brengsek..." lanjut Denise dengan nada dan wajah kesalnya dan juga meringis kesakitan,sambil menyentuh pergelangan tangannya yang mulai membiru dan juga membengkak.
"Iya,sepertinya pria itu terlihat benar-benar tidak takut sama polisi,bagaimana caranya kita bisa membalasnya?" ucap Erik dengan nada dan wajah yang ditambah dengan ekspresi heran dan sekaligus kesal diwajahnya itu,soalnya biasanya kebanyakan orang pasti akan merasa takut kalau mendengar kata polisi tapi ini malah kembali menambahkan tamparan kuat pada pipinya Denise dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Walaupun merasa takut tapi mereka tetap saja juga merasakan kesal dan marah,hanya saja,mereka tidak mampu berbuat apa-apa untuk saat ini.
"Kamu tenang saja,sayang.Aku pasti akan membalasnya,sekarang ayo kita kerumah sakit untuk mengobati lehermu dan tanganku terlebih dahulu" ucap Denise dengan nada dan wajah kesal yang tidak berkurang sedikitpun,sambil mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit, bahkan sudah terasa sedikit membengkak.
"Ayo,kita pergi kerumah sakit sekarang" lanjut Denise sambil berjalan duluan.
"Apakah kamu masih mengharapkan wanita itu lagi? Apakah kamu masih tidak bisa melihat dengan jelas,kalau dia itu memang tidak pernah mencintaimu.Lihatlah,mungkin saja pria itu adalah pria incarannya yang baru" lanjut Denise dengan nada dan wajah kesalnya sambil menghentikan langkahnya,kemudian ia menolehkan wajah kesalnya kearah Erik yang ternyata masih berdiri diam dibelakangnya,lalu ia kembali melanjutkan langkahnya dengan langkah yang sangat kesal.
Ia merasa sangat kesal karena Erik masih saja begitu mencintai Ellin,padahal ia sudah membuat Ellin terlihat begitu buruk dimatanya tapi tetap saja masih mencintai Ellin sampai sekarang,terlihat jelas dimata lamunannya tersebut.
Belum lagi saat ia mengingat kembali wajah tegasnya pria yang tadi itu,pria tersebut bahkan lebih tampan dari pada Erik.
"Ti,tidak,aku sudah melupakannya,kenapa juga aku masih mengharapkannya.Dan kenapa juga aku harus mengharapkannya,bukankah sekarang aku sudah memiliki kamu sekarang,hm..." jawab Erik saat ia baru tersadar dari lamunannya tentang penampilan seksinya Ellin tadi,lalu iapun segera berjalan mengikuti langkahnya Denise dan menampilkan ekspresi wajah yang seperti biasanya.
Tapi Denise sangat tahu kalau Erik hanya berbohong saja,jadi iapun mendiamkan Erik dan hanya terus melangkah kedalam mobilnya saja dan diikuti oleh Erik dibelakangnya.
Kemudian mereka berduapun naik kedalam mobil dan melaju kerumah sakit dengan ekspresi wajahnya dan isi kepalanya mereka masing-masing,ditambah dengan Denise yang sedang merasa kesal hingga membuat mereka berdua hanya diam saja disepanjang jalan menuju kerumah sakit.
Denise yang sibuk berpikir ingin meminta bantuan dari Ayahnya untuk membalaskan dendam kecilnya ini,dan Erik yang terus memikirkan tentang apa sebenarnya hubungannya Ellin dengan pria tegap tersebut.
__ADS_1
Apa lagi tadi ia bisa mendengar jelas kalau Ellin memanggil paman tapi setahunya Ellin tidak memiliki paman,apa lagi yang setegap dan setampan tadi.
Didalam mobilnya Willy...
Disepanjang perjalanan yang sudah melaju selama 15 menit itu,sama sekali masih belum ada yang bersuara sedari mobil tersebut mulai melaju tadi,hanya ada helaan napas kesal yang saling menyahut diantara sepasang manusia tersebut.
Hanya saja,kali ini bedanya Ellin sedikit melamun sendiri dengan wajah tersenyum kecilnya hingga suara kesalnya Willy terdengar dan menghancurkan lamunanya Ellin yang sedang memikirkan gandengan tangan yang dilakukan oleh Willy tadi.
"Apakah kamu memang sengaja ingin membahayakan diri disana tadi,atau mungkin kamu memang sengaja ingin mencari masalah,hm?" tanya Willy dengan perasaan kesal dibalik nada dan wajah santainya,sambil terus fokus kearah jalan tanpa menoleh kearah Ellin sedikitpun.
"Paman sembarangan saja,aku kesana hanya untuk menepati janjiku pada karyawan-karyawanku saja" jawab Ellin dengan nada dan wajah memberengut kesalnya,padahal rasa kesalnya tadi sudah mulai mereda tapi malah harus kembali merasakan kesal karena pertanyaan dari Willy barusan.
Lamunan anehnya tadi itupun langsung menghilang begitu saja,dan wajah tersenyumnya itupun ikut berubah menjadi kesal.
"Lalu,kenapa kamu masih berani kesana pada larut malam seperti ini,tadi? Apakah penculikan yang terjadi pada tadi pagi masih belum cukup untukmu,hm?" Willy tidak mau tahu tentang alasannya Ellin pergi kesana,yang ia tahu,tempat tersebut sangat berbahaya bagi wanita.
Apa lagi Ellin adalah putri sahabat baiknya,jadi mau tidak mau ia harus memastikan keamanan dan keselamatannya gadis menyebalkan ini.
"Aku pikir,aku hanya,,," kalimat pembelaan diri yang ingin Ellin katakan selanjutnya juga ikut terhenti, Willy tidak mau mendengarnya,bahkan Willy hanya terus merasa kesal saja terhadap Ellin pada saat ini.
__ADS_1
"Tapi paman,,," lagi-lagi Ellin yang berniat ingin membela diri lagi,harus kembali terhenti oleh suara tegasnya Willy,tiba-tiba Ellin malah merasa seperti anak kecil yang sedang diomelin oleh kedua orang tuanya pada saat ini.