
"Cih,,,sayang,apakah kamu mendengarnya? Dia baru saja mengatakan kalau kamu adalah barang yang terbuang,apakah urat malunya memang sudah terputus sejak lama? Makanya kamu masih saja tidak sadar diri sampai sekarang, kalau kenyataannya kamulah barang terbuang itu.Apakah kamu tahu? Erik bersama kamu,bukan karena mencintaimu tapi hanya karena merasa kasihan padamu,dan aku hanya datang untuk menyelamatkan hubungan tidak normal kalian saja.Kamu bahkan tidak pantas untuk bersama dengan Erik,Erik hanya pantas bersama aku yang berpendidikan tinggi dan memiliki,,," Kalimat panjang lebarnya Denise yang belum sempat selesai itu langsung terhenti,karena disela oleh Ellin.
"Kenapa aku merasa kalau kamu sedang mengatain diri sendiri,hm? Dan bukankah kamu mendapatkan juara 1 disetiap sekolah dan universitas,dan juga semua penghargaan terbaik yang kamu dapatkan itu,adalah berkat dari ancaman dan kekuasaannya Ayahmu sedari dulu" sela Ellin dengan nada dan wajah santainya,sambil menahan rasa kesalnya.
Sahabatnya ini memang memiliki wajah yang begitu tebal,ia sangat hapal kalau Denise pasti akan kembali mengatakan semua keahlian palsunya itu,hanya bisa membanggakan hal-hal yang bisa ia dapatkan karena bantuan dari kekuasaan Ayahnya saja.
Padahal dengan kekuasaan Daddy saja,ia bahkan mampu menutup mulutnya Denise untuk selama-lamanya,hanya saja ia tidak selicik itu, dan terlebih lagi Denise belum mengetahui kalau dirinya telah memiliki seorang Daddy angkat yang begitu luar biasa hebat dan tentunya lebih hebat dan lebih kaya segalanya dari Ayahnya Denise tapi ia juga tidak berniat ingin memamerkannya pada Denise.
"Kamu,,,apakah kamu tidak takut kalau aku akan melaporkan kamu kekantor polisi karena atas pencemaran nama baik,hah?" tanya Denise dengan nada dan wajah marahnya,dengan kekuasaan Ayahnya dikota ini,ia mampu memenjarakan Ellin dengan mudah.
"Tidak,apa lagi hanya wanita murahan seperti kamu yang ngelaporkan aku? Silakan saja,jika kamu memang ingin pergi melapor?" jawab Ellin dengan nada dan wajah tersenyum malasnya.
Denise selalu saja merasa mudah untuk memenjarakan orang-orang yang tidak ia sukai sejak dulu,tapi tidak dengan dirinya yang memang sangat jauh dari masalah.
Apa lagi dengan bantuan atau kekuasaannya Daddy angkatnya sekarang,ia sangat yakin kalau Denise tidak akan mampu menyentuhnya sama sekali,bahkan mungkin akan terluka sendiri nantinya.
__ADS_1
"Kamu ini benar-benar,,," Denise bersiap-siap ingin menampar Ellin karena rasa kesalnya yang tak tertahan itu.
Tapi belum sempat telapak tangannya mengenai wajah cantiknya Ellin,pergelangan tangannya sudah dicengkram kuat oleh telapak tangan yang besar dan kokoh,hingga berhasil membuat Denise memekik kesakitan.
"Aughk,aughk,sakit sekali.Brengsek,cepat lepaskan tanganku..." pekik Denise dengan ekspresi sakit diwajah cantiknya,karena cengkraman tangan kuat itu membuat rasa sakit dipergelangannya terasa seperti akan patah saja.
Denise berusaha melepaskan pergelangan tangannya tapi ia malah merasa semakin sakit saja,hingga ia hanya mampu menahan rasa sakitnya dan terus saja memekik kesakitan.
"Pa,paman,,," sedangkan Ellin,ia hanya mampu menatap kaget kearah sampingnya,yang dimana ternyata paman Willylah yang sedang menahan tangannya Denise dan juga berdiri tegap tepat disampingnya saat ini.
Tapi ntah kenapa malah terlihat begitu keren dimatanya walaupun ia hanya melihat wajah sampingnya saja,mungkin saja dimata para wanita yang lainnya juga akan begitu jika mereka sampai melihatnya dalam posisi seperti dirinya pada saat ini,terlihat begitu keren dan tampan seperti pahlawan dimalam hari.
"Cepat lepaskan tangannya kekasihku,jika tidak, aku akan,,,aghkkk..." belum sempat Erik menyerang,padahal baru saja ia berjalan mendekat,tapi lehernya malah telah menjadi sasaran karena langsung dicengkram oleh pria tegap tersebut terlebih dahulu.
"Siapa mereka berdua?" tanya Willy dengan nada dan wajah tegasnya,sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah Ellin tapi cengkraman kedua tangannya masih setia ditempatnya masing-masing tanpa mengendur sedikitpun.
__ADS_1
"Hah!!" Ellin yang sedari tadi sedang menatap tercengang kearah Willy sampai tidak mendengar pekikan-pekikan kesakitannya sepasang manusia tidak tahu malu itu,masih saja belum sadar dari rasa tercengangnya itu sepenuhnya.
"Aku bertanya padamu,siapa mereka berdua, hm?" Willypun kembali mengulang pertanyaannya sambil menahan rasa kesalnya, saat ia melihat wajah tercengangnya Ellin yang masih terlihat jelas diwajah cantiknya itu,bahkan sampai membuat dirinya menggeleng-gelengkan pelan kepalanya karena ekspresi tercengangnya Ellin tersebut.
"Hah! I,iya,mereka adalah mantan kekasih dan mantan sahabatku,,," jawab Ellin dengan nada cepatnya tapi setelah itu ia langsung menutup mulutnya dengan wajah malunya,karena seharusnya ia hanya perlu menjawab tidak kenal saja,kenapa ia malah menyebut kata mantan...
'Oh,jadi ini adalah pria yang membuat Ellin minum sampai mabuk dan masuk keruangan pribadiku pada malam itu' batin Willy sambil mengalihkan tatapan tajamnya kearah pria yang sedang ia cengkram tersebut,hingga membuat cengkramannya malah menjadi lebih kuat karena ingin membalas penderitaannya yang tidak mampu ia ungkapkan pada malam itu.
Sedangkan beberapa bawahannya Willy yang tadi berniat ingin membantu Nona Muda barunya mereka tapi langkah mereka malah terhenti karena langkah lebarnya Tuan mereka,jadi mereka hanya menonton dengan tatapan kaget, bingung dan heran sekaligus,tapi mereka tidak berniat ingin menganggu kesenangan Tuannya sedikitpun.
Mereka hanya merasa kaget,heran sekaligus bingung,karena Tuannya mengatakan kalau ia tidak akan turun tangan jika bukan masalah yang besar seperti penculikan tadi pagi,tapi sekarang Tuannya malah keluar karena hanya masalah sepele seperti ini yang mampu mereka hadapi dengan sangat mudah.
Dan yang lebih membuat mereka kebingungan adalah Tuannya telah beberapa kali menyebut namanya Ellin belakangan ini,juga seperti ketika Tuannya menyesap bir tadi.
Padahal biasanya Tuannya hampir tidak pernah mengingat satupun nama wanita yang pernah ia temui,bahkan tidak ada satupun wanita seksnya yang ia ingat tapi nama Ellin malah seperti telah tertanam baik dibenak Tuannya begitu saja.
__ADS_1
"Pa,paman,cepat hentikan,mereka akan mati jika paman masih tidak mau melepaskan mereka" Ellin segera menarik-narik kuat lengannya Willy dengan ekspresi panik diwajahnya saat ia baru menyadari tentang adanya suara-suara pekikan kesakitan didekatnya,tapi nyatanya tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan cengkraman kuat tersebut.
Ia bahkan baru mengalihkan tatapannya dari wajah tampannya Willy kearah sepasang manusia tersebut,ia langsung merasa sangat panik dan juga khawatir karena wajahnya Denise dan Erik yang sudah menjadi begitu pucat,yang menandakan tidak ada warna darah diwajahnya mereka berdua,terutama wajahnya Erik yang paling pucat karena tercekik tepat dilehernya.