Kembar Cantiknya Sang Mafia

Kembar Cantiknya Sang Mafia
Bab.51


__ADS_3

"Baik,aku akan selalu mengingatnya,Tuan Besar" jawab Mark dengan nada cepatnya.


Setelah sudah mendengar Mark selesai menjawab,Hendripun langsung berjalan keluar dari sana dengan langkah santainya.


"Jika kamu berniat ingin menginap disini,silakan saja..." ucap Hendri dengan nada malasnya tanpa menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang sedikitpun,saat ia bisa merasakan kalau Willy masih setia duduk disana.


Sedangkan Willy,ia hanya menatap santai sebentar kearah punggung lebarnya Hendri yang sedang membuka pintu dan langsung menghilang dibalik pintu tersebut,lalu barulah ia bangun berdiri dari duduknya tadi dan mengikuti langkahnya Hendri.


"Oh iya...Apakah kamu mengerti dengan perkataannya Tuan Besarmu barusan? " tanya Willy sambil menghentikan sebentar langkah santainya tersebut,berbalik badan kearah Mark dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Aku rasa,aku tidak perlu memberitahumu" jawab Mark dengan singkat dan wajah malasnya.


"Itu berarti Tuan Besarmu telah memberimu lampu hijau padamu, maka kejarlah jika kamu memang memiliki perasaan terhadap putrinya tadi" ucap Willy yang juga memberi dukungan kepada Mark secara tidak langsung,ia juga mengabaikan tanggapan malas dari Mark.


"Ada atau tidak ada,lalu apa urusannya dengan kamu?" tanya Mark balik dengan nada malasnya sambil duduk diatas ranjang pasiennya, menurutnya Willy adalah orang yang sangat menyebalkan.


Lagi pula sudah tidak ada Tuan Besarnya diantara mereka sekarang,jadi,ia tidak perlu bersikap begitu formal lagi.


"Lalu? Tentu saja tidak ada,hanya saja,aku ingin membantumu supaya kamu bisa mendapatkan wanita yang kamu cintai nanti.Tidak baik kalau kamu berniat ingin terus-terusan menjomblo seperti ini, jadi,ada baiknya kalau kamu mencoba untuk mencari seseorang untuk menghilangkan kesepianmu itu.Apa lagi aku melihat,kalian berdua memang sangat cocok" jawab Willy dengan nada santai dan panjang lebarnya sambil memerhatikan Mark yang sedang menyandarkan tubuhnya kebelakang.


"Jika ingin mencari pendamping hiduppun,aku tidak memerlukan bantuan darimu,Tuan Willy Winston yang terhormat.Dan satu lagi,bukankah seharusnya kamu memikirkan tentang dirimu sendiri terlebih dahulu dari pada diriku?" jawab dan tanya Mark balik dengan nada kesalnya, sambil menatap heran kearah Willy yang langsung menampilkan wajah kesalnya.


Tidak biasanya Willy banyak bicara seperti ini, apa lagi dengan dirinya tapi kali ini Willy malah berbicara panjang lebar dengannya sedari tadi, ia mulai menebak-nebak apa alasan yang membuat Willy sampai ingin bicara banyak dengan dirinya saat ini.


"Aku...Ya sudahlah,biarpun aku harus mengatakan lebih banyak lagi,kamu juga tidak akan mengerti" jawab Willy dengan nada kesalnya sambil mengipaskan pelan sebelah telapak tangannya kearah Mark,lalu ia segera berjalan keluar dari sana dengan langkah lebarnya.


Lebih tepatnya ia ingin membantu dirinya sendiri makanya ia hanya ingin mereka berdua segera menjalin cinta,jadi ia tidak perlu repot-repot menjaga 2 wanita sekaligus nanti.


Tapi ternyata Mark lebih susah untuk bisa ia atur,ia bahkan lupa kalau dirinya sendiri adalah jomblo yang sudah kelamaan tidak memiliki kekasih disisinya.


Tapi kalau dipikir-pikir lagi,masih lumayan dengan Mark yang umurnya memang masih lebih muda dari dirinya,jadi buat apa Mark harus memusingkan tentang pendamping hidup yang memang tidak perlu ia pikirkan untuk sekarang,lagi pula tidak akan jadi masalah besar buat dirinya jika ia harus terus jomblo


"Ada apa dengannya sebenarnya? Dasar..." gumam Mark dengan nada pelan dan kening yang mengernyit heran kearah pintu ruangan yang sudah ditutup rapat oleh Willy,sambil mengalihkan pandangannya kedepan.


Tapi belum sempat pandangannya sampai lurus kedepan,ekor matanya melihat semangkok bubur diatas meja kecil yang ada disamping ranjang pasiennya tersebut.


"Kreukk kreukk kreukk..." baru saja ia mengalihkan padangannya kearah mangkok bubur tersebut selama beberapa detik,tiba-tiba saja terdengar suara lapar dari perutnya sendiri.


"Sebaiknya aku makan bubur ini saja,dari pada aku harus kelaparan disini" gumam Mark lagi dengan nada pelannya,sambil mengambil semangkok bubur yang sudah hampir dingin tersebut tapi masih tetap terasa hangat.


Setelah ia selesai makan bubur tersebut dengan susah payah karena harus memakai tangan kirinya tapi akhirnya habis juga,iapun menghela napas lega saat ia melihat mangkok bubur tersebut yang akhirnya bersih juga.

__ADS_1


"Sekarang,sebaiknya aku tidur saja" lanjut Mark dengan nada pelannya sambil menarik selimut dan meluruskan badannya,ia juga melirik sekilas kearah jam dinding yang sudah hampir jam 9 pagi.


Tapi lagi-lagu baru saja ia ingin memejamkan kedua matanya,dibenaknya malah tiba-tiba saja terlintas permandangan kedua bibir mereka yang sedang menyatu tadi,hingga membuat dirinya mengangkat pelan tangan kirinya dan menyentuh pelan bibirnya sambil membayang-bayangkan permandangan tersebut.


Dirinya yang memang tidak pernah menjalin kekasih dan merasakan c**m*n dari wanita ataupun hanya kecupan saja,semakin lama memikirkannya, wajah tampannya Mark malah terlihat mulai tersenyum kecil.


Beberapa menit kemudian...


"****,,,apa yang sedang aku pikirkan?" Mark mengumpat kesal dengan nada pelannya sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya untuk memgusir bayangan-bayangan yang menurutnya sangat menyebalkan itu dan wajah tersenyumnya barusanpun langsung menghilang begitu saja,lalu ia segera mengangkat selimut dan menutup seluruh wajahnya dengan gerakan kesalnya.


Beberapa menit kemudian,ruangan pasien tersebut mulai hening dan hanya terdengar suara napas tenangnya Mark yang menandakan kalau ia sudah terlelap diatas ranjangnya tersebut.


3 hari kemudian...


Terlihat Mark yang sedang uring-uringan diatas ranjang pasiennya hingga terus menampilkan wajah kesalnya sedari tadi,karena ia mencoba untuk kabur dari rumah sakit dalam beberapa hari ini tapi ternyata diluar ruangannya telah berdiri beberapa pengawal terlatih Tuan Besarnya sedari ia masuk kedalam rumah sakit hari itu.


"Seharusnya aku tidak nekad untuk pulang pada malam itu dan seharusnya aku beristirahat saja di Spanyol selama beberapa hari,mungkin saja aku tidak akan perlu mengalami hari-hari yang seperti ini dirumah sakit selama beberapa hari ini" gumam Mark dengan nada pelan dan wajah kesalnya sambil mengacak-acak kasar rambutnya sedari 10 menit yang lalu.


Ia sedang duduk malas diatas ranjang pasiennya pada saat ini,selama beberapa hari ini,ia terus saja menggerutu kesal dengan posisi duduk yang terus saja bergerak-gerak tanpa berniat ingin duduk diam.


"Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang?" lanjut Mark dengan nada tidak berdayanya,ia bertanya pada dirinya sendiri dengan perasaan bingungnya,


Padahal baru beberapa hari saja dan saat ini baru jam 7 pagi tapi ia sudah mulai merasa begitu bosan dengan suasana dirumah sakit, biasanya walaupun ia mengalami luka,ia pasti akan berada dimarkasnya dan menurutnya suasana disana lebih hidup dan menyenangkan dari pada ia harus berada disini.


"Ceklek..." terdengar suara pintu yang dibuka dari luar disaat-saat Mark masih sibuk menggerutu kesal,terlihat Ellia dan Asistennya yang sedang berjalan masuk dengan beberapa peralatan medisnya yang seperti biasanya.


Sedangkan Mark,dirinya yang sibuk menggerutu kesal tadipun mulai terdiam perlahan-lahan dan mengalihkan pandangannya kearah pintu yang baru saja terbuka,lalu iapun hanya mampu menghela napas pelan dengan panjang saja.


"Nona Muda" panggil Mark dengan nada pelannya dan wajah menunduk hormatnya, sambil turun dari atas ranjangnya dan berdiri tegak menghadap kearah Ellia yang baru saja duduk dikursi pengunjung yang ada disana, kemudian ia duduk kembali seperti biasa yang ia lakukan selama 3 hari ini.


Walaupun ia tahu jelas kalau Ellia tidak akan menjawabnya tapi ia tetap memanggilnya, sebagai rasa hormatnya terhadap putri dari majikannya.


Ia sendiri bahkan merasa heran dan bingung, kenapa Nona Mudanya malah bersikap dingin padanya selama beberapa hari ini,ia merasa kalau dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.


"Tuan,maaf,bisakah kamu meletakkan tanganmu disamping sini saja?" tanya Mila dengan nada pelannya dan wajah tersenyum malunya sambil terus memerhatikan wajah tampannya Mark.


Sedangkan Mark,ia hanya diam saja dan memindahkan tangan kanannya dari atas pahanya kesamping pahanya.


Sudah 3 hari ini ia diperiksa oleh Asistennya Ellia,tapi ia selalu lebih banyak sibuk memerhatikan Ellia yang sedang memakan kacang-kacangan atau kwaci yang selalu dibawanya setiap kali Ellia masuk kedalam ruangannya ini,hingga ia tidak begitu memerhatikan wajah malunya Milla tersebut.


"Dok,jahitannya sudah bagus dan lumayan kering sekarang.Tensinya dan yang lainnya juga bagus,Dok" ucap Mila dengan nada pelannya saat ia sudah selesai memeriksa lengannya Mark dan lanjut dengan membalutnya dengan perban.

__ADS_1


"Hm..." jawab Ellia dengan nada pelannya dan singkat,setelah ia sudah duduk diam disana selama 15 menit.


"Baguslah" jawab Ellia dengan nada pelan dan singkatnya sambil terus memakan makanan ringannya tersbeut,wajahnya juga terlihat begitu cuek yang bercampur kesal.


Ia berpikir keras tentang permasalahannya dengan Mark,tentang bibir mereka pada pagi semalam hingga berhasil membuat dirinya merasa kesal dan juga kasihan.


Rasanya ia memang ingin marah-marah pada mark untuk melampiaskan semua rasa kesalnya tapi dirinya juga tipe orang yang tidak tegaan, jadi iapun hanya mampu duduk diam saja sambil memakan makanan ringan yang ia bawa untuk mengusir rasa kesalnya tersebut.


Jadi ia memutuskan untuk menyuruh Mila saja yang mengurus Mark,tapi ia harus mengikuti Mila masuk kedalan supaya ia tidak dicap sebagai Dokter yang tidak bertanggung jawab.


'Apakah karena kejadian pagi semalam?' Mark hanya mampu bertanya-tanya pada dirinya sendiri didalam hatinya saja,tapi kemudian ia segera mengusir tebakannya tersebut dan memilih untuk tidak mau mengambil pusing tentang wajah kesal dan aksi diam seribu bahasa Nona Mudanya tersebut.


Inilah salah satu alasan dirinya yang tidak ingin menjalin hubungan kekasih terlebih dahulu, menurutnya wanita itu hanya mampu membuat dirinya kerepotan saja.


Lihatlah,baru bertemu beberapa kali saja,sudah sibuk menyuruhnya untuk menebak apa kesalahan yang telah ia buat.Memangnya dirinya Tuhan yang mampu mengetahui apa yang sedang orang pikirkan,bukankah langsung mengatakan padanya saja? Supaya ia bisa lebih cepat mengerti,jadi ia tidak perlu merasa bingung seperti ini.


"Apakah kamu tidak bisa lebih cepat lagi,hah?" tanya Mark dengan nada tinggi dan wajah kesalnya saat ia merasakan kedua tangan Asistennya Ellia yang sengaja memperlambatkan kerjanya,hingga perban dilengannya masih saja belum selesai-selesai sedari tadi.


Ia juga menatap tajam kearah Mila yang sedang sibuk menatap wajahnya sedari tadi,karena ia sudah menahan rasa kesalnya demi menjaga sikap didepan Nona Mudanya selama beberapa hari ini tapi sepertinya ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Bukannya ia tidak tahu tentang Mila yang selalu memerhatikan dirinya sedari awal mereka bertemu,hanya saja ia tidak berniat ingin menanggapi ataupun memperhitungkan hal tersebut.


Tapi sedari hari itu dirinya malah selalu saja tidak berhasil keluar dari rumah sakit hingga membuat rasa kesalnya itu menumpuk saat ini,ditambah lagi Mila yang menurutnya begitu kecentilan terhadapnya.Jika bukan karena Nona Mudanya yang selalu bersama Mila,ia pasti sudah membentak Mila sedari hari itu.


"Ma,maafkan aku,Tuan" Mila segera meminta maaf dengan nada gugup dan wajah takutnya karena nada tinggi dan tatapan tajamnya Mark tersebut,ia sampai terlena dan pergerakan tangannya juga melambat karena terpesona dengan wajah tampannya Mark sedari tadi.


Setelah selesai meminta maaf,Mila segera memberi perban dilengannya Mark dengan gerakan cepatnya tapi tidak sampai melukai bekas jahitannya tersebut.


"Dan satu lagi,lain kali jangan pernah berani menatapku lagi,jika tidak,kamu akan tahu akibatnya" peringat Mark dengan nada dan wajah yang sudah berubah menjadi serius, menandakan kalau ia memang benar-benar akan melakukan apa yang ia katakan barusan jika Mila masih saja suka memerhatikan dirinya.


"Ma,maafkan aku,Tuan.Lain kali aku pasti tidak akan berani melakukan hal yang sama lagi,Tuan" jawab Mila dengan nada cepat dan wajah malunya yang terlihat semakin ketakutan saja,ia juga segera menunduk hormat kearah Mark sebanyak beberapa kali karena rasa takutnya tersebut.


Ia selalu mendengar tentang kekejaman keluarganya Kusuma dan juga para bawahannya dan tadi pagi ia baru saja mengetahui kalau Mark adalah salah satu bawahan terbaiknya Tuan Muda Hery,jadi ia tidak akan mau mengambil resiko dan menjadi seperti yang lainnya,yang hanya tinggal nama saja diakhir ceritanya.


"Bagus,jika kamu sudah mengerti dengan apa yang aku katakan.Sudah,sekarang cepat selesaikan perkerjaanmu..." ucap Mark dengan nada perintahnya,sambil menghela napas malas saat ia melihat wajah takutnya Mila yang terlihat jelas sekarang.


Sepertinya Mila memang wanita yang lumayan tahu diri dan tahu takut mati,tapi bagus juga karena ia tidak perlu lagi repot-repot mengurus hal-hal yang tidak penting nantinya.


Lagi pula ia juga malas ingin mengurus hal-hal yang berkaitan dengan wanita,kecuali,tentang Nona Mudanya yang memang tidak mampu ia bantah sedikitpun.


"Ba,baik,terima kasih,Tuan" jawab Mila dengan nada cepatnya,lalu ia segera melanjutkan sisa perkerjaannya yang hanya tinggal sedikit itu, sambil menghela napas lega karena Mark tidak memperhitungkan masalahnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2