Kembar Cantiknya Sang Mafia

Kembar Cantiknya Sang Mafia
Bab.52


__ADS_3

Sedangkan Mark,ia terus menatap tajam kearah Mila yang sibuk merapikan perbannya hingga selesai,barulah ia mengalihkan tatapan tajamnya kearah lain dan Mila yang segera mundur kesampingnya Ellia.


Beda dengan Mark yang sedang merasa begitu kesal,Ellia malah terlihat sedang duduk diam tercengang kearah wajah kesal marahnya Mark, jarinya yang sedang memegang snack kacang bahkan masih bergantung dibibir mungilnya.


"Nona Muda..." panggil Mark dengan nada pelannya sambil berdiri dari duduknya,ia baru teringat kalau Nona Mudanya masih ada disana karena ia terlalu fokus pada rasa kesalnya tersebut.


"Ehem,ehem,ehem..." Markpun mencoba dengan berdehem saat Ia melihat Nona Mudanya yang masih saja duduk tercengang disana.


"Hah!" Elliapun langsung tersadar dari rasa tercengangnya dengan wajah bingungnya,sambil menatap secara bergantian kearah wajah tenangnya Mark dan juga wajahnya Mila yang masih terlihat gugup.


"Nona Muda,apa ada yang sedang kamu khawatirkan?" tanya Mark yang menganggap kalau wajah tercengangnya Ellia sebagai pertanda sedang dalam masalah.


"Apakah wajahku terlihat sedang banyak masalah,hm?" tanya Ellia dengan nada kesalnya setelah ia sudah tersadar sepenuhnya,apa lagi saat ia mendengar pertanyaan dari Mark barusan yang mampu membuat dirinya merasa begitu kesal.


Hanya saja,ia segera menyembunyikan sisa rasa kagetnya terhadap sikap marahnya Mark tadi,ia tidak menyangka kalau Mark ternyata akan bersikap seperti ini terhadap Mila.


Ia juga tahu kalau Mila tertarik terhadap Mark sedari hari itu karena wajah malunya terlihat jelas kalau dia sedang mencoba untuk mendekati Mark.


Tapi pria yang ia kira akan menyambut cintanya Mila dengan senang hati itu,ternyata malah tega memarahi Mila barusan,ternyata Mark bukan pria mata keranjang yang ia pikirkan.


"Tidak berani,Nona Muda" jawab Mark dengan singkat dan menunduk hormat,lagi-lagi ia harus kembali merasa bingung dengan apa alasan Nona Mudanya yang malah kembali menampilkan wajah kesal didepannya.


Padahal dirinya hanya sekedar bertanya saja, sekedar untuk basa basi dan menghilangkan wajah diam tercengang Nona Mudanya yang tadi terlihat sedang menampung banyak masalah saja.


"Dasar menyebalkan..." ucap Ellia dengan wajah memberengut kesalnya sambil berdiri dari duduknya,lalu ia langsung berjalan keluar dari sana setelah ia sudah selesai melirik sekilas kearah Mila yang sedang sibuk menunduk takut disampingnya.

__ADS_1


Ia benar-benar tidak menyangka kalau Mark akan terang-terangan memarahi Mila didepannya,tapi hal tersebut telah berhasil menjadi poin tambahan dihatinya untuk Mark.


Mila yang memang masih merasa takut terhadap Mark,iapun segera berjalan mengikuti Ellia dengan langkah cepatnya.


Sedangkan Mark,ia hanya mampu menatap bingung kearah punggung langsingnya Ellia sampai menghilang dibalik pintu.


"Dasar wanita..." gumam Mark dengan nada pelannya sambil menggeleng-gelengkan pelan kepalanya,keningnya juga ikut mengernyit heran karena sikapnya wanita yang suka sekali merasa kesal tanpa sebab yang jelas tersebut.


Ntahlah,iapun tidak ingin terlalu memikirkannya karena ia bukan pria yang suka memerhatikan hal-hal yang menurutnya tidak penting seperti ini,apa lagi jika ia harus berkaitan dengan wanita.


2 minggu kemudian...


Hari demi hari dan minggu demi minggu terus saja terlewati tapi kedua putri kembarnya keluarga Kusuma tersebut tetap saja harus dijaga dan diawasi dengan baik.


Tapi bagi Willy,perkerjaannya itu sangat membosankan karena biasanya ia hanya mengurusi tentang senjata dan bagian dunia bawah yang lainnya


"Dring dring dring..." suara nada HPnya membuat Willy terbangun dari rasa ngantuknya,lalu iapun mengeluarkan HPnya dan keningnya langsung terlihat mengernyit heran saat ia melihat pemilik nama kontak yang ada dilayar HPnya saat ini.


Sedangkan supirnya yang sekaligus tangan kanannya atau Asistennya itu,ia hanya terus fokus menyetir sambil memerhatikan sikap dan wajah malas Tuannya sedari tadi, melalui cermin kecil yang ada diatas kepalanya.


Mereka sedang dalam perjalanan mengikuti mobil Nona Mudanya mereka pulang pada sore hari ini,perkerjaan yang hampir tiap hari mereka lakukan,apa lagi terlihat ada beberapa orang yang mencurigakan pada beberapa hari yang lalu.


"Hallo..." jawab Willy dengan nada malasnya sambil mendekatkan HPnya didaun telinganya.


"Kamu ke Mansion sekarang juga" terdengar suara dari seberang sana yang terdengar seperti nada perintah tersebut.

__ADS_1


"Tut tut tut..." belum sempat Willy bertanya tentang alasannya,tapi sudah terdengar suara nada HP yang mati dari pihak seberang sana.


"Cih..." Willy langsung mendengkus kesal sambil menatap kesal kearah layar HPnya yang mulai meredup gelap,mulutnya yang tadi baru saja terbukapun kembali tertutup rapat berkedut karena merasa kesal.


"Tuan,,," panggil Bern sang Asistennya,ia berniat ingin bertanya kenapa tapi Willy sudah langsung menyelanya terlebih dahulu.


"Sekarang kita ke Mansion sebentar" sela Willy dengan nada dan wajah malasnya,HPnya juga masih setia ditelapak tangannya.


"Baik,Tuan" jawab Gerry dengan nada dan wajah bingungnya,walaupun ia merasa bingung tapi ia tidak bertanya lebih lanjut lagi,apa lagi saat ia melihat ekspresi malas yang bercampur kesal diwajah Tuannya saat ini.


Beberapa menit kemudian...


"Tuan,Cecilia sudah berada disini pada beberapa hari yang lalu.Apakah Tuan,,,aughkkk..." Gerry yang baru saja teringat akan sesuatu,punggung kepalanya malah ditepuk kuat oleh Willy secara tiba-tiba.


Ditambah lagi dengan cincin batu yang dipakai oleh Tuannya,hingga membuat rasa sakit dipunggung kepalanya menjadi double dan terasa lumayan sakit.


"Sudah berapa kali aku katakan padamu,jangan lagi berani membahas tentang dia didepanku" peringat Willy dengan nada dan wajah kesalnya,sambil menatap tajam kearah punggung kokohnya Gerry.


Padahal sudah beberapa kali ia memberi peringatan tapi Gerry tetap saja suka membuatnya kesal seperti sekarang ini.


"Maaf,Tuan" jawab Gerry dengan nada pelannya sambil menunduk hormat kesamping yang ditujukan untuk Tuannya,ia juga terus mengelus-elus punggung kepalanya yang masih terasa lumayan sakit.


Padahal ia hanya berniat ingin memperingati Tuannya saja,soalnya mereka berdua sedang berada dikota yang sama saat ini. Jadi, kemungkinan besar mereka berdua akan bertemu disuatu hari nanti.


"Apa aku harus mengeluarkan tenagaku,supaya kamu bisa mengerti dengan perkataanku sebelumnya?" tanya Willy dengan nada santainya tapi penuh dengan ancaman yang nyata,karena ia merasa kesal dengan suara peringatannya yang menurutnya terasa sia-sia saja.

__ADS_1


"Tidak perlu lagi,Tuan.Sekarang aku sudah mengerti,Tuan" jawab Gerry dengan nada cepatnya dan wajah seriusnya,mana berani ia menantang Tuannya.


__ADS_2