Kembar Cantiknya Sang Mafia

Kembar Cantiknya Sang Mafia
Bab.26


__ADS_3

"Hah!!" Bern hanya mampu menghela napas kesal dan juga berat dengan panjang sebanyak beberapa kali,lalu iapun mengikuti langkahnya sang kekasih dan juga ikut satu mobil bersama kekasihnya.


Padahal hubungan antara dirinya dan Tuannya sudah bagaikan kakak beradik kandung tapi nyatanya Tuannya tetap saja tidak menghargainya,lebih tepatnya,selalu saja sengaja membuatnya merasa kesal seperti ini.


Memang sangat menyebalkan,Tuannya bahkan sama sekali tidak berniat ingin meminta izin ataupun memberitahunya sebelumnya tentang tugas baru kekasihnya dikota ini.


Malam harinya...


Disebuah Apartemen yang berukuran tidak besar dan tidak juga kecil tapi penghuninya lumayan ramai itu,karena hal tersebut telah menyatakan kalau Apartemen itu termasuk salah satu yang termahal dan juga berada dilokasi yang cukup strategis.


Dan tentunya disukai banyak orang,terutama orang-orang kaya,hingga membuat Apartemen setinggi 50 tingkat tersebut dipenuhi penguni dari manapun.


Tapi walaupun Apartemen tersebut memang sangat tinggi,Willy lebih suka berada ditingkat ke 10 dengan memiliki 1 kamar tidur saja,ia tidak suka kalau dirinya harus repot-repot naik kelantai yang lebih tinggi saat ia pulang nanti.


Dibalkonnya salah satu Apartemen yang ada dilantai 10 tersebut,terlihat seorang pria tegap yang sedang berdiri menyandar kedepan dipagarnya balkon.


Seperti biasanya,ia selalu suka menikmati udara malam hari ataupun pagi hari dengan hanya memakai handuk kecil dibawahnya atau jubah mandinya saja.

__ADS_1


Dan ia hanya memakai jubah mandinya saja saat ini,karena ia baru saja selesai membersihkan diri setelah ia baru pulang dari menyelesaikan sedikit perkerjaan didunia hitamnya dikota ini tadi.


Sebenarnya ia sangat jarang,dan bisa dikatakan hampir tidak pernah turun tangan untuk mengerjakan perkerjaan dunia hitamnya dikota ini karena pasti selalu saja bawahan lainnya yang akan melakukannya,tapi karena tadi ia merasa bosan dan juga kesal hingga ia memutuskan untuk turun tangan sendiri supaya dirinya bisa memiliki perkerjaan untuk dikerjakan.


"Hah!!" Willy yang sedang bersandar dipagar balkonnya sibuk menatap lurus kearah langit yang terlihat indah disana selama 15 menit,lalu ia menghela napas berat dengan wajah lelahnya saat ia malah mengingat kembali tentang masa lalunya yang berkaitan dengan kedua orang tuanya.


"Tok tok tok..." baru saja Willy sibuk menghela napas berat,terdengar suara ketukan pintu dari kamar Apartemennya.


"Masuk "jawab Willy dengan nada lelahnya tapi masih cukup untuk didengar oleh Bern yang sedang berdiri diluar pintu kamarnya,Bern memang selalu bisa masuk keluar Apartemennya sesuka hatinya karena Bern memiliki kode masuk ke Apartemennya sedari awal.


"Tuan..." panggil Bern saat ia sudah berjalan masuk hingga kebalkon,sambil memerhatikan ekspresi lelah diwajah Tuannya yang saat ini baru saja bergerak duduk dikursi sofa yang ada dibalkon.


Ia tahu kalau Bern pasti sedang mengkhawatirkan dirinya,ia mulai menebak-nebak apa yang saat ini ingin dilaporkan Bern padanya hingga membuat nada bicaranya Bern barusan terdengar tidak tegaan.


Sedangkan Bern,ia menghela napas pelan terlebih dahulu.Ia sebagai orang kedua dari Tuan Hendri yang sudah lama bersama Tuannya dan juga sangat memahami Tuannya,tentu saja ia sudah sangat mengerti arti dari ekspresi lelah diwajah tampan Tuannya tersebut.


Ekspresi tersebut bukan hanya karena lelah semata tapi juga terdapat banyak luka didalam sana,hanya saja Tuannya bukan tipe orang yang suka membicarakan setiap masalahnya kepada orang lain.

__ADS_1


Apa lagi Tuannya memang tidak memiliki banyak sahabat selama 36 tahun hidupnya ini, orang-orang yang dekat dengannya bisa dihitung dengan jari-jari tangannya saja,itupun Tuannya juga tidak akan curhat apapun kepada mereka,Tuannya tipe orang yang tidak ingin dikasihani ataupun terlihat lemah oleh siapapun.


Dan Tuannya selalu melakukan beberapa aktivitas yang menurutnya begitu menjijikkan,yaitu minum-minun dan bermain bersama wanita-wanita diatas ranjangnya.


Tapi semua itu bukan tanpa alasan,ia melakukan beberapa hal tersebut karena dengan begitu ia akan bisa melupakan semua lukanya untuk sejenak.


Dan hal utama yang membuat Bern harus menghela napas pelan barusan adalah karena laporan yang akan ia sampaikan sebentar lagi akan membuat Tuannya kesal menurutnya,dan ntah ia akan mengorek kembali luka tidak terlihat yang ada pada Tuannya atau tidak,tapi yang jelasnya ia harus tetap melaporkan apa yang harus ia laporkan pada Tuannya sekarang.


"Tuan,pria itu bernama Ryan,dia memiliki dendam terhadap Tuan Hendri,makanya dia melakukan penculikan yang terjadi pada tadi pagi.2 tahun yang lalu,kedua orang tuanya menganggu Tuan Hendri dengan menggunakan cara licik untuk memenangkan salah satu proyek besar yang sedang diikuti oleh Tuan Hendri. Mereka bahkan telah berani menyewa orang-orang untuk mencelakai Tuan Muda Hery sebanyak beberapa kali,hingga membuat Tuan Hendri marah besar.Hingga akhirnya Tuan Besar membuat perusahaan milik keluarga mereka langsung bangkrut dalam semalam saja,bahkan rumah dan fasilitas mewah milik mereka pribadi,tidak dapat mereka gunakan lagi karena telah disita untuk membayar kerugian yang telah mereka alami karena perbuatannya Tuan Hendri" lapor Bern dengan panjang lebar,kemudian ia menghentikan perkataannya selama beberapa detik untuk mengambil napas selama beberapa detik.


"Dan setelah beberapa bulan kemudian,karena mereka tidak tahan hidup dirumah kecil dan juga serba kekurangan,akhirnya kedua orang tuanya meninggal dengan penyakit jantung dan darah tingginya mereka yang semakin lama malah semakin parah itu,lalu meninggalkan putra mereka,yaitu Ryan.Tuan Hendri tidak begitu mengenalnya karena Ryan hampir tidak pernah terlihat dipublik ataupun terlibat dengan perusahaan kedua orang tuanya,hanya saja wajahnya Ryan hampir mirip dengan Ayahnya" lanjut Bern dengan nada pelannya dan wajah seriusnya,dan lagi-lagi ia kembali menghentikan perkataannya untuk mengambil napas sebentar.


"Dan,,," Bern tidak tega untuk mengatakan lanjutannya lagi tapi ia memang harus mengatakannya supaya Tuannya akan bisa memiliki persiapan nantinya.


"Bukankah sudah aku katakan,katakan saja apa yang ingin kamu katakan" perintah Willy dengan nada malasnya,sambil kembali menghisap rokoknya sedikit demi sedikit.


'Tuan,aku rasa kamu tidak akan ingin mendengarnya kali ini' Bern malah sibuk mengeluh didalam hatinya,sambil terus memerhatikan asap rokok yang terus mengepul dan kemudian menyebar hingga hampir mengelilingi wajah tampan Tuannya saat ini.

__ADS_1


Ia bahkan merasa begitu heran,kenapa Tuannya ini walaupun sudah agak berumur tapi tetap saja terlihat tampan dalam sudut pandang manapun dan dalam keadaan apapun.


Walaupun dirinya juga tidak jelek-jelek sangat dan masih termasuk diurutan yang paling tampan,tapi pesona Tuannya ini selalu saja berhasil menyingkirkan ketampanan dan pesonanya yang hanya sedikit banyak itu.


__ADS_2