
"Tetap diam ditempat dudukmu,jika tidak,aku akan segera melubangi kepalamu sekarang juga" perintah Willy dengan nada dan wajah kesalnya, sambil mengirim alarm siap-siap kepada yang lainnya melalui gelangnya yang ada disebelah tangannya lagi.
Asistennya ini kadang-kadang memang suka membuat dirinya tertawa tapi juga suka membuatnya kesal seperti sekarang ini,ingin sekali ia membenturkan kepalanya Bern kedinding atau sesuatu benda yang keras sekarang juga,tapi sekarang bukan waktunya untuk ia melampiaskan rasa kesalnya tersebut.
"Tuan,,," Bern masih nekad ingin keluar dari dalam mobil,dan mencoba untuk membujuk Tuannya.
"Duduk diam ditempatmu sekarang juga" perintah Willy dengan nada tinggi dan tegasnya, sambil menatap tajam kearah Bern yang masih belum mendudukkan bokongnya yang baru sempat sedikit terangkat tadi.
"Baik,Tuan" jika sudah ditatap tajam seperti ini,mau tidak mau Bern juga harus terpaksa duduk diam dikursi pengemudinya.
Didalam perusahaan sana,dilantai ke 30...
"Ceklek..."
"Presdir,ini jus apel yang kamu inginkan tadi" terdengar suaranya seorang sekretaris wanita yang bernama Lili,yang baru saja masuk kedalam ruangan presdir dengan membawa segelas jus apel untuk Ellin.
__ADS_1
"Letakkan diatas meja sana saja..." perintah Ellin dengan nada santainya,sambil memeriksa dokumen terakhirnya.
"Baik,Presdir" jawab Lili dengan nada pelannya, sambil berjalan kearah meja sofa sana dan meletakkan jus apel yang ia bawa diatas meja sana.
Beberapa menit kemudian...
"Presdir,apa kamu tidak minum terlebih dahulu sekalian istirahat, jangan berkerja terlalu lelah,..." ucap Lili dengan nada perhatiannya dan wajah tersenyum lembutnya,saat ia melihat Ellin yang terlalu sibuk dengan dokumennya dan malah mengabaikan jus apel buatannya tersebut.
Sedangkan Ellin,ia segera menghentikan perkerjaannya dan tersenyum senang kearah Lily yang juga terlihat sedang tersenyum tulus kearahnya.
Lebih tepatnya hanya dalam beberapa hari saja, karena sejak ia masuk berkerja hari itu,Lili sudah mulai berteman dengannya dan dihari seterusnya Lili selalu memberinya perhatian hingga membuat dirinya merasa sangat senang karena telah memiliki teman baru dikota ini.
Lalu iapun segera berdiri dan berjalan kearah sofa sana,setelah ia selesai merenggangkan punggung berserta kedua tangannya karena rasa lelahnya tersebut.
Sedangkan Lili,ia sudah merasa tidak sabar dan terus tersenyum licik sambil memperhatikan Ellin yang sibuk menyeruput jus apel buatannya itu dengan sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Terima kasih,jusnya sangat enak" ucap Ellin dengan wajah tersenyum polosnya,sambil terus menyeruput,tenggorokannya yang memang terasa agak haus tadipun langsung terasa segar.
"Sama-sama,Presdir" jawab Lili dengan nada senangnya,apa lagi saat ia melihat kalau segelas jus apel tersebut telah habis tidak bersisa.
Setelah ia selesai meminumnya,Ellin segera berdiri dan berjalan kearah meja kerjanya untuk melanjutkan perkerjaannya tadi.
Tapi baru saja ia duduk dan tangannya menyentuh pena,Ellin merasakan kalau kepalanya mulai terasa pusing,bahkan semakin lama malah semakin pusing tidak menentu.
"Presdir,jika kamu lelah,tidur saja sebentar" Ellin berusaha untuk berdiri tapi terdengar bisikan pelan dari Lili ditelinganya saat ini,hingga membuat ia merinding ngeri.
Ia mulai mencurigai sesuatu tapi sayangnya sudah terlambat,karena kepalanya sudah terasa begitu pusing dan apa yang ia lihat juga mulai terbayang-bayang.
Ellin segera menekan mutiara yang ada digelangnya saat ia mengingat pesannya paman Willy hari itu,setelah itu "Brak..." iapun terlelap diatas meja kerjanya karena sudah tidak tahan dengan rasa pusing sekaligus rasa ngantuk yang telah menyerangnya itu.
"Ceklek..." terdengar suara pintu yang terbuka, dan masuklah seorang pria yang ternyata adalah rekannya Lili,yang juga ikut menyamar seperti Lili.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah wanita ini sudah tertidur?" tanya rekan pria tersebut,dengan nada cepatnya sambil berjalan mendekat.