
Ntah kenapa ia merasa sangat kesal saat mengingat-ngingat kembali sikapnya Ellin yang menurutnya terlalu mudah untuk berteman dengan siapapun itu,dan juga kurangnya kewaspadaannya,maka dari itu keadaannya sampai bisa berakhir dengan penculikan yang seperti ini.
Sedangkan Ellin yang mendengar peringatan tegas tersebut,ia hanya mampu mengelus-elus pelan tengkuk lehernya dengan kepala menunduk malunya karena ia merasa kalau perkataan panjang lebarnya Willy barusan memang ada benarnya juga.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak,aku hanya sedang melakukan tugasku dan itupun juga karena memikirkan kamu adalah sahabatku" lanjut Willy dengan nada dan wajah malasnya, saat ia bisa melihat senyum tipisnya Hendri terus memperhatikan dirinya sedari tadi.
Sebelum Hendri sempat berkata apa-apa,kedua matanya Hendri telah tertuju kearah belakangnya Willy sana terlebih dahulu,kedua matanya itupun menjadi tajam dan juga serius, sepertinya ia pernah melihat pemuda tersebut.
"Apakah kamu tidak ingin menjelaskan apa yang telah yang telah terjadi?" tanya Hendri dengan nada seriusnya saat ia melihat kalau bawahannya Willy sedang membawa seorang pria dibelakangnya Willy.
"Tidak ada,kamu bisa bertanya pada mereka saja,atau mungkin pada putri manjamu ini saja" jawab Willy yang memang tidak suka menjelaskan apa yang ia anggap tidak penting, apa lagi ditambah dengan dirinya yang kekurangan piknik dalam 2 minggu ini,tapi tentu saja hanya Hendri dan orang-orangnya saja yang tahu apa arti piknik tersebut bagi Willy.
'Kenapa paman ini begitu menyebalkan...' wajah menunduk malunya Ellin tadipun langsung berubah menjadi memberengut kesal,saat ia mendengar kata manja yang keluar dari mulutnya Willy barusan.
Sedangkan Hendri,ia perlahan mengalihkan pandangannya kearah Willy kembali setelah memerhatikan wajah pria tidak asing tersebut selama beberapa detik.
"Paman,dimana Lili?" tanya Ellin saat ia baru teringat Sekretarisnya yang telah tega menjebaknya tadi.
"Apakah kamu berniat ingin membelanya sekarang?" tanya Willy balik dengan nada kesalnya,mungkin karena mengalami beberapa faktor hingga ia terus saja merasa kesal pada hari ini.
Ellin langsung menggeleng-gelengkan pelan kepalanya yang menandakan tidak,tapi wajahnya terlihat semakin memberengut kesal.Padahal ia tidak bermaksud ingin membela ataupun menyelamatkan Lili sedikitpun,ia hanya merasa penasaran saja dengan keadaannya Lili saat ini.
__ADS_1
"Wanita itu sudah berada ditempat yang tepat, dialamnya sana" Willypun menjawab pertanyaannya Ellin tadi dengan nada santainya kembali,tapi Ellin malah menampilkan wajah bingungnya kearahnya.
Kecuali,dengan lainnya yang memang selalu bisa mengerti dengan kalimat-kalimat yang biasanya keluar dari mulutnya Willy.
"Sudah.Ayo,kita harus pulang dulu,jika tidak, Mommymu pasti akan merasa khawatir dan mencarimu" ajak Hendri dengan wajah tersenyum tipisnya sambil menarik pelan tangannya Ellin untuk pergi dari sana,tempat tersebut telah dipenuhi mayat-mayat dan tidak baik untuk Ellin terus berada ditempat seperti ini.
Dan ia juga sekalian ingin menasehati putri manjanya ini,peringatan dari Willy tadi memang benar adanya juga,putrinya ini terlalu polos hingga mudah untuk ditipu oleh siapapun.
"Tapi,Dad,,," Ellin yang masih merasa bingung dan ingin bertanya lagi,mau tidak mau ia terpaksa mengikuti langkah Daddynya untuk pergi dari sana.
"Aku akan menunggu hasilnya dirumah,jangan sampai lupa untuk meneleponku nanti" pesan Hendri dengan nada seriusnya,sambil terus melangkah pergi dan juga melambai tangannya sekilas kearah Willy yang hanya terus menatap diam punggungnya saja.
Walau merasa kesal bagaimanapun,ia tetap harus tahu berterima kasih bukan...Jika bukan karena pertolongan dari paman Willy,ia pasti telah berhasil diperkosa atau mungkin telah disiksa oleh pria tadi,seperti banyak kasus kriminal yang pernah ia dengar sebelum-sebelumnya.
Sedangkan Willy,ia tersenyum tipis tanpa ia sadari,ia terus memerhatikannya hingga punggung mobilnya Hendri tidak terlihat lagi.
Melihat kedua lesung pipi yang cantik tadi,membuat ia jadi kembali teringat dengan malam bencana yang telah berhasil menyiksa dirinya untuk pertama kalinya itu.
"Tuan,,," panggil bawahan wanitanya yang masih sedang memegang pria sang pelaku tadi,mereka semua sudah menunggu perintah dari Tuannya sedari tadi tapi Tuannya malah melamun tidak sudah-sudah seperti ini.
"Ehem,ehem,,," Willypun segera menetralkan pikirannya dan rasa malu tertangkap basahnya karena ketahuan sedang melamun,saat ia baru saja tersadar dari lamunan menyebalkannya itu berkat suara bawahannya tersebut.
__ADS_1
"Ayo,kita pergi dari sini" perintah Willy dengan nada dan wajah tegasnya,lalu ia pun segera ikut berjalan pergi dari sana.
"Tu,Cindy,,," Bern yang baru saja ingin memanggil Tuannya,tapi ia malah merasa kaget saat kedua matanya tidak sengaja tertuju kearah samping belakangnya.
"Sayang,sejak kapan kamu disini?" tanya Bern dengan nada dan wajah kaget yang mulai mengurang,lalu berubah dengan wajah bingungnya.
Soalnya baru beberapa jam yang lalu ia baru saja main chat-chat an bersama Cindy sang kekasih, dan sang kekasih juga sama sekali tidak mengungkit tentang keberadaannya dikota ini padanya.
Walaupun ia tahu kalau kekasihnya memang memiliki sikap cuek yang seperti itu tapi tetap saja ia merasa kesal,tapi lagi-lagi nyatanya ia tidak mampu melampiaskan rasa kesalnya pada sang kekasih saat ini juga.
Dan juga karena ia terlalu sibuk memperhatikan percakapan yang ada dihadapannya tadi hingga ia tidak memperhatikan keadaan disekitarnya,apa lagi yang ada dibelakangnya.
"Sejak semalam..." belum sempat Cindy menjawabnya,Willy sudah terlebih dahulu bantu menjawab dengan nada mengejeknya tanpa menghentikan langkahnya ataupun menolehkan kepalanya kebelakang sedikitpun.
"Sisanya dibakar saja" lanjut Willy untuk memperingati bawahannya yang masih sibuk berdiri diam dan bingung disekitar sana,tapi tidak sedikit juga yang sudah mengerti sebelum Tuannya memerintah,hanya saja ada rekan yang baru berkerja yang masih terlihat berdiri agak bingung begitu.
"Tu,benar-benar menyebalkan" baru saja Bern mengerti tentang alasan sang kekasih sampai bisa berada disini,Tuannya malah sudah duduk rapi didalam mobil bagian penumpang,lalu mobil tersebut langsung melaju pergi begitu saja dan meninggalkan mereka semua.
"Cepat jalan" ucap Cindy dengan nada tegasnya sambil menyeret pria sang pelaku tadi,bersama rekan prianya tadi,tapi ia tersenyum lucu kearah Bern terlebih dahulu sebelum ia berjalan pergi dari sana.
Sedangkan sang pelaku,ia hanya mampu mengikuti langkah mereka saja karena ia tidak mampu melawan ataupun berbuat apapun lagi,semua bawahannya bahkan telah tidak bernyawa sedari tadi dan meniggalkan dirinya sendiri saat ini.
__ADS_1