
"Dasar brengsek,dasar cabul..." lanjut Ellia dengan nada pelannya sambil menatap kesal kearah Mark yang masih saja setia menunduk hormat kearah Daddynya,lalu ia melirik sebentar kearah lengannya Mark yang berhasil membuat dagingnya terasa teriris.
Sedangkan Mark,walaupun ia jelas-jelas bisa mendengarnya tapi ia tidak berniat ingin menanggapinya.Lagi pula ada Tuan Besarnya disini,jadi ia juga tidak mampu berkata apa-apa,selain berdiam diri saja.
Setelah selesai mengumpat,Elliapun segera berjalan pergi dari sana dengan diikuti oleh yang lainnya,termasuk Mila yang berjalan pergi dengan langkah tidak berdayanya karena kesempatan emasnya untuk menyuapin pasien tampan tersebut malah sirna begitu saja tanpa sempat ia cegah lagi.
"Dasar brengsek,aku mengira kalau dia adalah pria pertama yang baik,yang baru aku temui" gumam Ellia dengan nada pelan dan wajah kesalnya sambil berjalan pergi dengan langkah kesalnya,setelah ia sudah berada diluar ruangan.
Padahal ia telah memiliki kesan yang baik terhadap Mark,saat ia melihat tanggapan cuek yang diberikan oleh Mark terhadapnya tadi malam, tapi kejadian tadi malah merusak kesan baik yang baru sempat ia rasakan tersebut.
Selama ini,ia selalu saja didekati oleh pria-pria hidung belang dan lugu lembek gitu.Baru saja ia menemui pria yang memiliki hampir seperti tipe idamannya,terlihat tegas,tampan pastinya,dan juga tidak kegenitan.
Tapi semua itu malah menghilang dengan begitu cepat,berkat kejadian tidak terduga yang menimpanya tadi.
Sedangkan Mila,ia sibuk menutup kembali pintu ruangan tersebut dan mengikuti langkahnya Ellia dengan langkah dan wajah tidak bersemangatnya.
'Tunggu saja pembalasan dariku,aku pasti akan memberi pelajaran padanya nanti' lanjut Ellia didalam hatinya dengan janjinya yang dipenuhi oleh kekesalan itu.
'Tapi bagaimana dengan lengannya?' lanjut Ellia lagi,dengan wajah kesalnya yang mulai mengurang saat ia mengingat kembali permandangan lengannya Mark yang sempat ia lirik sebentar tadi.
Walaupun merasa sangat kesal tapi ia juga merasa kasihan dengan Mark,mungkin saja jahitannya tadi malam terlepas karena sibuk menahan tubuhnya tadi.
__ADS_1
Sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi,kejadian tidak terduga tadi tidak bisa menyalahkan Mark juga,tapi tetap saja ia merasa kesal karena Mark telah menyentuh kedua benda empuknya yang berharga.
"Dasar menyebalkan" Ellia terus saja menggerutu kesal disepanjang jalannya menuju kearah ruangannya karena rasa kesalnya tersebut,tapi ia juga merasa bingung,sebenarnya ia harus menyalahkan siapa sekarang.
Didalam ruangan pasien...
"Kenapa kamu bisa tidak begitu hati-hati,hm?" tanya Hendri dengan nada dan wajah kesalnya, sambil melangkah pelan dan ikut duduk disampingnya Willy yang memang masih tersisa beberapa kursi disana.
Tadi malam ia merasa khawatir terhadap keadaannya Mark saat ia mengetahui kalau Mark diserang tiba-tiba dan mobilnya Mark meledak, tapi kemudian ia langsung merasa lega saat ia mendengar kalau Mark hanya mengalami luka dilengan dan dahinya saja.
"Maafkan kekurangan waspadanya diriku,Tuan Besar.Aku tidak menyangka kalau mereka akan menyerang disaat aku sedang lengah,lain kali aku pasti akan lebih berhati-hati lagi" jawab Mark dengan nada pelannya dan kepala yang masih setia menunduk hormat, sambil menahan rasa pedih dijahitannya yang mungkin saja sedikit robek.
Tapi tadi malam itu,ia benar-benar merasa sangat lelah karena ia baru saja menyelesaikan setumpuk berbagai perkerjaannya di Negara Spanyol sana dan ia langsung pulang kesini tanpa istirahat sedikitpun,hingga membuat dirinya menjadi kurang waspada terhadap bahaya disekitarnya tadi malam.
"Obatilah dulu lukamu" perintah Hendri dengan nada pelannya tapi masih terdengar tegas, sambil ikut menyandarkan kepalanya kebelakang sama seperti yang dilakukan oleh Willy sedari tadi.
"Baik,Tuan Besar" jawab Mark dengan nada cepatnya dan wajah tenangnya yang mulai mengalirkan keringat karena lukanya tersebut, lalu iapun segera membuka perban dan mengambil kain kecil untuk mengelap lengannya yang sedang mengeluarkan darah tersebut.
Untung saja jahitannya tidak sampai robek, hanya sedikit tertarik saja,hingga membuat Mark menghela napas lega karena ia tidak perlu melakukan penjahitan lagi nantinya.
Setelah selesai membersihkan darahnya, Markpun langsung memberi olesan sisa cream yang secara tidak sengaja telah tertinggal diatas kasurnya oleh Mila tadi,bukan hanya dengan gerakan yang begitu cepat tapi juga selesai dengan begitu baik.
__ADS_1
Ia juga memberinya perban tanpa merasa kesulitan sedikitpun,sedangkan Hendri dan willy,mereka berdua tidak berniat ingin membantu Mark sedikitpun karena mereka sudah tahu kalau Mark sudah biasa dengan hal tersebut,jadi tidak akan menjadi masalah bagi Mark.
"Apakah mereka sudah berhasil ditangkap" tanya Willy dengan nada dan wajah seriusnya sambil menatap serius kearah Hendri.
"Sudah,tapi mereka masih tidak mau mengatakan apapun tentang Tuannya mereka hingga saat ini" jawab Hendri dengan nada pelannya,sambil terus memerhatikan Mark yang sedang fokus mengobati lukanya tersebut.
"Dring dring dring..." terdengar suara nada dering pesan dari HPnya Willy,Willypun langsung mengeluarkan HPnya dengan gerakan santainya ditempat duduknya.
"Mark,apakah kamu memiliki tebakan,siapa saja yang berani menyerang kamu?" tanya Hendri dengan nada penasarannya.
"Tuan Besar,musuh-musuh yang ingin dan berani menyerangku disini itu banyak.Tapi belakangan ini,ada beberapa genk yang terlihat jelas tidak menyukaiku,karena aku telah mengambil beberapa tanah miliknya mereka pada 2 bulan yang lalu" jawab Mark dengan nada dan wajah seriusnya,ia juga menghentikan pengobatannya tersebut karena memang sudah selesai juga.
Dan lagi pula ia mengambil tanahnya mereka karena tanah-tanah tersebut memang milik Tuan Besarnya mereka dan ia juga ingin menjadikan tanah-tanah tersebut sebagai markas-markas barunya mereka,untuk memperkembangkan wilayahnya mereka tentunya.
"Tapi ada 1 genk yang paling kuat diantara beberapa semua genk itu dan juga yang sedang aku curigai saat ini,genk itu bernama,,," belum sempat Mark menyelesaikan kalimat lanjutannya,Willy malah menyelanya dengan cepat.
"Black Horses" sela Willy dengan nada santainya sambil memasukkan kembali HPnya yang barusan telah ia buka.
Ia baru saja mendapatkan laporan dari anak buahnya yang memang telah ia perintahkan untuk mencari tahu siapa orang-orang yang telah mereka tangkap tadi malam.
"Apakah kamu sudah rabun jauh atau mungkin sudah rabun dekat,bukankah terdapat tato kecil yang bergambarkan seekor kuda dipinggangnya mereka masing-masing?" lanjut Willy dengan nada sombongnya,ia juga baru tahu dari laporan anak buahnya kalau Hendri baru saja datang dari markas yang baru siap ia bangun pada 2 minggu yang lalu itu.
__ADS_1