Kembar Cantiknya Sang Mafia

Kembar Cantiknya Sang Mafia
Bab.27


__ADS_3

"Bern,apakah kamu ingin kepalamu berpindah tempat secepatnya?" tanya Willy dengan nada kesalnya yang terdengar seperti bentakan karena disertai dengan nada tingginya,ia menolehkan kepalanya tapi ia malah mendapatkan kalau Bern hanya berdiri diam dengan wajah bingungnya.


"Ma,maafkan aku,Tuan" ucap Bern dengan nada dan wajah gugupnya karena rasa kagetnya tersebut.


"Dan hal yang lebih tidak terduganya,ternyata nama lengkapnya Ryan adalah Ryan Kameswara. Dia memiliiki seorang adik perempuan,yaitu Cecilia Kameswara,adiknya itu sedang berada diluar kota pada saat ini,mungkin saja akan kembali pada beberapa minggu lagi" lanjut Bern dengan nada seriusnya kembali,sambil terus memerhatikan ekspresi wajah lelah Tuannya yang saat ini terlihat berubah menjadi dingin, bahkan gerakan tangannya yang sedang sibuk menghisap rokoknya juga terhenti tiba-tiba.


Bern sangat yakin kalau suasana hati Tuannya pasti sudah terganggu pada saat ini,ia sudah menduganya sejak awal tapi ia harus tetap melaporkan apa saja yang baru ia ketahui.


"Jadi pria itu adalah kakaknya wanita jal*ng itu?" tanya Willy dengan nada pelannya setelah mereka berdua sama-sama berdiam diri selama beberapa menit,walaupun terlintas ekspresi kaget diwajah Tuannya barusan tapi hanya selama sekitar 2 detik saja.


"Iya,benar,Tuan.Ryan, kakaknya Cecilia memang pria yang jarang berada dirumah,dia sering tinggal di Apartemennya sendiri,dia juga sangat jarang pulang kerumah.Dia bahkan tidak suka mengurus perusahaan orang tuanya karena dia hanya suka mengikuti aktivitas balap bersama teman-temannya dan aktivitas yang ia sukai saja hingga akhirnya dia memilih untuk masuk kedalam dunia bawah untuk membalas dendam terhadap Tuan Hendri" jawab Bern dengan wajah tenangnya tapi terdapat sejumlah rasa kekesalan terhadap wanita yang telah tega meninggalkan Tuannya itu,dan penyebabnya hanya karena untuk memilih pria yang lebih baik dari Tuannya.


Lebih tepatnya wanita jal*ng itu meninggalkan Tuannya karena Tuannya memiliki banyak kekurangan dimasa lalu dan alasan utamanya karena Tuannya lebih miskin dari pria tersebut, tapi nyatanya sekarang hidupnya wanita jal*ng itu tidak lebih baik dari Tuannya.


Walaupun sebenarnya namanya Cecilia membuat dirinya merasa sedikit khawatir terhadap tanggapan apa yang akan diberikan oleh Tuannya padanya nanti,apakah Tuannya akan kembali bersikap bod*h atau akan mengabaikan wanita jal*ng itu...


Tapi setidaknya dengan mendengar kata "******" yang keluar dari mulut Tuannya barusan dan juga hanya memikirkan hal buruk yang telah menimpa wanita itu aja,sudah berhasil membuat dirinya merasa begitu bahagia.

__ADS_1


"Tuan,apakah kamu ingin mengetahui tentang hidupnya,,," belum sempat Bern menyelesaikan pertanyaannya,Willy sudah menyelanya terlebih dahulu.


"Tidak,tidak perlu,aku tidak ingin mengetahui apapun tentang dia.Mau seperti apa hidupnya sekarang,sudah tidak ada urusannya dengan diriku lagi" sela Willy dengan nada dan wajah tegasnya tapi tatapannya penuh kebencian,sisa rokok yang masih berada diantara 2 jari panjangnya itu bahkan harus menjadi korban remasannya.


"Baik,Tuan" jawab Bern dengan nada senangnya dan wajah tersenyum leganya,sepertinya kekhawatirannya tadi sudah terlalu berlebihan dan sia-sia.


Tadinya ia mengira kalau hati Tuannya akan melembut saat mendengar namanya wanita jal*ng itu,tapi nyatanya Tuannya sama sekali tidak ingin mengetahui apapun tentang dia.


"Laporkan semua yang kamu katakan tadi kepada Hendri sekarang,lalu tanyakan padanya apa yang harus kita lakukan pada pria itu untuk selanjutnya" perintah Willy dengan nada tegasnya sambil berdiri dari duduk bersandarnya tadi,dan juga menepuk-nepuk pelan kedua tangannya untuk membersihkan sisa remasan rokoknya barusan.


Ia merasa kalau masalah tersebut tidak berkaitan dengannya sama sekali,jadi memang Hendri yang harus mengambil keputusan untuk hidupnya Ryan. Anggap saja,kalau Hendri telah sekalian membalas dendam untuknya secara tidak sengaja.


"Apakah termasuk tentang wanita jal*ng itu, Tuan?" Bernpun bertanya dengan nada candanya sambil tersenyum kecil,ia sangat tahu kalau dulu Tuannya begitu mencintai Cecilia hingga sanggup mengorbankan nyawanya tanpa merasa ragu sama sekali.


Tapi nyatanya cinta tulus Tuannya malah tidak mendapatkan balasan yang baik,ia merasa prihatin tapi juga sekaligus merasa senang karena Tuannya tidak jadi bersama atau sampai menikahi wanita tersebut.


Menurutnya wanita yang pantas dicintai dan diajak hidup bersama adalah wanita yang benar-benar tulus mencintai dan menerima semua kekurangan kita,jika wanita tersebut benar-benar cinta,berarti wanita itu pasti tidak akan meninggalkan Tuannya karena hanya demi pria yang lebih kaya dari Tuannya atau apapun itu.

__ADS_1


Lagi pula pria setampan Tuannya dan ditambah lagi dengan kekayaannya yang sekarang,wanita manapun pasti akan berebut mengantri untuk bisa hidup bersama Tuannya.


Dan yang terpenting,mendengar tanggapan tegas Tuannya tadi,itu saja sudah cukup untuk menandakan kalau Tuannya telah lama membuang namanya Cecilia dari dalam hatinya.


Jadi ia tidak perlu terlalu mengkhawatirkan tentang Tuannya yang masih setia sendiri sampai sekarang,ia hanya perlu terus mendoakan yang terbaik untuk Tuannya,semoga saja sebentar lagi Tuannya akan mendapatkan wanita yang baik untuk hidup bersama.


"Terserah kamu saja" jawab Willy dengan nada kesalnya sebelum ia menghilang dibalik pintu ruangan ganti,Bern memang suka bercanda dengannya sekali-kali,apa lagi membuatnya merasa kesal.


"Baik,Tuan" jawab Bern dengan tawa kecil diwajahnya yang juga bisa dikatakan tampan itu,ia segera mengirimkan beberapa data kepada Tuan Hendri melalui email.


10 menit kemudian...


"Tuan,kamu mau pergi kemana dilarut malam seperti ini?" tanya Bern dengan nada dan wajah penasarannya saat ia melihat Tuannya yang sedang berjalan kearah keluar dengan pakaian yang sudah rapi ditubuhnya, lalu iapun menatap jam tangannya yang sudah hampir jam 11 malam.


"Aku akan keluar sebenaltar,kamu tidak perlu ikut" jawab Willy dengan nada dan wajah santainya sambil merapikan ujung lengan kaos polosnya dan juga mengambil jaket kulitnya,ia juga berjalan melewati Bern begitu saja.


"Tapi Tuan,,," sebelum Bern sempat menyelesaikan kalimat keberatannya,lagi-lagi Willy kembali menyelanya dengan cepat.

__ADS_1


"Jangan mencoba untuk mengikutiku,kamu akan menyesal kalau kamu sampai berani mengikutiku" sela Willy dengan nada seriusnya tanpa menoleh kearah Bern lagi,lalu tubuhnya menghilang dari pandangannya Bern dalam beberapa detik saja.


Sedangkan Bern,ia hanya mampu menghela napas pelan dengan panjang,ia sangat mengerti kalau Tuannya pasti sedang ingin pergi mencari angin malam untuķ mengusir sisa lukanya yang telah ia korek tadi.


__ADS_2