
"Jika sampai ada lain kali lagi,hati-hati dengan kepalamu" Willy kembali memperingati Gerry, supaya Gerry tidak akan melakukannya lagi.
"Baik,Tuan" jawab Gerry dengan nada cepatnya tanpa menghentikan elusan tangan dipunggung kepalanya,sepertinya mulai sekarang ia memang harus hati-hati dengan mulutnya.
Willypun kemudian menghela napas pelan saat ia melihat Gerry yang masih saja sibuk mengelus-elus punggung kepalanya,Asistennya ini kadang-kadang memang suka menyebalkan.
Lagi pula kenapa juga Gerry harus membahas tentang wanita masa lalunya lagi? Baginya nama itu telah menjadi masa lalunya dan sekaligus penyebab luka dihatinya selama ini,tapi sekarang rasanya ia sudah mulai bisa melupakan luka dihatinya itu secara perlahan-lahan.
Mungkin saja nama itu telah mulai bergeser keluar dari dalam hatinya sedikit demi sedikit tanpa ia sadar,karena ia bahkan tidak ingin perduli lagi tentang nama tersebut.
Setelah selesai menghela napas pelan,lalu iapun menyandarkaj kepalanya kebelakang dan memejamkan kedua matanya.
Ia mulai memikirkan dan menebak-nebak apa tujuannya Hendri menyuruh ke Mansion disaat-saat seperti ini,sepertinya bukan hal yang baik untuknya.
"Oh iya,sebaiknya aku harus mengajak seseorang bersamaku untuk menghadapi jebakan-jebakan akan diberikan oleh Hendri nanti" gumam Willy dengan nada pelannya sambil mengetik sesuatu diHPnya dan mengirimnya kepada seseorang.
Setelah ia selesai mengetik dan mengirimnya, barulah ia menyimpan HPnya kedalam saku celananya dengan wajah yang tersenyum licik.
Sedangkan Gerry,ia hanya fokus menyetir saja tanpa berani bertanya banyak,ia hanya mampu menyembunyikan rasa heran dan penasarannya dengan arti dari senyuman licik Tuannya tersebut.
Disalah satu markasnya keluarga Kusuma...
"Tok tok tok..." terndengar suara ketukan pintu kamarnya Mark yang sedang duduk santai dimeja kerjanya sambil mengerjakan sisa tugasnya disana.
"Masuk" jawab Mark dengan nada santainya sambil membaca setiap isi email yang masuk kedalam laptopnya dari anak buahnya dibeberapa tempat.
__ADS_1
Walaupun nadanya terdengar agak santai tapi terlihat jelas ekspresi serius diwajah tampannya yang masih begitu muda itu,hingga membuat kadar ketampanannya semakin sempurna saja.
"Tuan,ada pesan dari Tuan Besar" lapor salah satu anak buahnya dengan nada pelannya sambil memerhatikan Tuan Marknya yang masih sibuk fokus kearah layar laptopnya.
"Katakan" perintah Mark dengan wajah seriusnya yang mulai berubah menjadi bingung, tidak biasanya Tuan Besarnya memberi pesan untuknya karena dirinya hanya berada dibawah arahan Tuan Muda Herynya selama ini.
Jadi,Tuan Besarnya pasti hanya akan menggunakan orangnya saja.Jikapun Tuan Besarnya memerlukan bantuan tambahan ataupun darurat,Tuan Besarnya pasti akan langsung menelepon dirinya ataupun menelepon Tuan Muda Herynya.
Setelah itu,barulah Tuan Muda Hery akan meneleponnya dan memerintahkannya untuk melakukan tugas-tugas yang harus ia lakukan.
"Tuan besar mengatakan kalau Tuan harus segera datang ke Mansion,sekarang juga" jawab anak buahnya dengan nada dan wajah yang berpura-pura setenang mungkin,sambil terus menunduk hormat supaya rasa gugupnya akan tersembunyi dengan baik.
Sedangkan Mark,ia langsung menghentikan fokusnya terhadap email-emailnya tersebut tapi ia masih tetap duduk dikursi kerjanya.Ia terlihat sedang berpikir selama beberapa menit,tapi ntah kenapa tetap saja ia merasa agak aneh.
Ia berbicara sambil berdiri dari duduknya,kemudian menghela napas tidak berdaya,mematikan laptopnya dan juga memasukkan HPnya berserta kunci mobilnya kedalam saku celananya.
Lalu iapun berjalan keluar dari ruangannya tersebut dan melewati anak buahnya tanpa merasa curiga sedikitpun hingga membuat anak buahnya tersebut langsung tersenyum lega dan juga mengelus-elus pelan dadanya yang terus berdetak gugup sedari tadi.
Apa lagi saat ia melihat bayangan punggung Tuannya yang sudah menghilang dari pandangannya,tubuh tegangnya mulai mengendur tapi hatinya tetap merasa tidak nyaman karena merasa agak bersalah.
Dikediaman atau di Mansionnya keluarga Kusuma...
Pintu gerbangnya Mansion langsung dibuka oleh satpam saat ia melihat mobil milik Nona Mudanya yang baru saja pulang dari perusahaan.
Mobil yang memang setiap harinya mengantar dan menjemput pulang Nona Mudanya itupun melaju masuk kedalam,lalu disusul dengan mobilnya Willy yang juga ikut masuk karena perintah dari Tuan Kusuma tadi.
__ADS_1
"Paman,kenapa paman bisa ada datang kesini?Paman,apa kabar? Lama tidak bertemu..." sapa Ellin dengan nada dan wajah tersenyum senangnya saat ia keluar dari dalam mobil dan langsung melihat Willy yang juga serentak keluar bersama dirinya.
Suaranya terdengar begitu senang karena sosok pria yang mulai memenuhi seisi kepalanya sedari beberapa minggu yang lalu,ia mengira paman Willy sudah pulang ke Negaranya tapi ternyata paman Willy masih berada dikota ini dan ada didepannya saat ini.
Sedangkan Willy,ia hanya menatap beberapa detik kearah wajahnya wanita yang telah berani menganggu tidurnya selama beberapa minggu ini.
Ntah kenapa panggilan paman tersebut terdengar begitu tidak nyaman dipendengarannya,tapi seperti biasanya ia tidak ingin perduli.
Lalu ia langsung berjalan masuk kedalam Mansion dengan wajah cueknya dan langkah tegasnya,ia juga mengabaikan gerutuan kesalnya Ellin yang ada dibelakangnya.
"Dasar pria berwajah batu,sangat menyebalkan" umpat Ellin dengan nada dan wajah memberengut kesalnya sambil menghentak- hentakkan kesal kedua kakinya diatas lantai, hilang sudah rasa senangnya barusan.
"Sebenarnya ada apa dengannya? Apa masalahnya? Perasaanku,aku tidak pernah memiliki masalah dengannya. Tapi kenapa tiba-tiba saja,sikapnya terhadapku jadi berbeda jauh dari sebelum-sebelumnya?" tanya Eve pada dirinya sendiri dengan wajah kesalnya tapi ia juga merasa bingung dengan sikapnya Willy padanya barusan.
Akhirnya Ellinpun juga ikut berjalan masuk sambil terus menggerutu kesal,karena mau berpikir bagaimanapun ia tetap tidak dapat menemukan jawabannya.
Beberapa menit kemudian...
Hendri,Angel dan kedua putri kembar mereka sudah duduk rapi diruang tamu,lalu ditambah dengan Willy yang tadi baru saja datang serentak bersama Ellin.
"Apakah kamu sengaja menyuruhku kesini,hanya untuk duduk diam seperti ini saja?" tanya Willy dengan nada dan wajah malasnya sambil memerhatikan mereka ber 4 satu persatu.
Padahal ia sudah duduk dengan menyilangkan sebelah kakinya selama hampir 10 menit disana, tapi Hendri dan yang lainnya malah tetap setia dengan diamnya mereka dan juga saling pandang.
"Iya,Dad.Kenapa Daddy malah menyuruh kita semua berkumpul disini?" timpal Ellin dengan nada dan wajah kesalnya karena dirinya yang ingin masuk beristirahat tadi,malah disuruh oleh Daddynya untuk duduk rapi diruang tamu tanpa bicara apapun.
__ADS_1