
Leo memilih pergi dan menghindar. Jika berada di antara dua gadis itu, bisa jadi dalam waktu sekejap dirinya masuk rumah sakit jiwa. Leo lebih memilih menghadapi data-data yang kadang membuatnya pusing daripada harus berhadapan dengan Marwa dan para komplotannya.
Ide yang barusan membuat Leo sempat tersenyum licik pun kini gagal total. Dia menyuruh Marwa agar pergi dari sana. Awalnya Marwa menolak karena dia ingin urusan mereka selesai saat itu juga. Namun, Leo justru mengancam akan memanggil security hingga membuat Marwa memilih untuk pergi. Dia berharap semoga Leo tidak mengejarnya lagi setelah ini.
Melihat kepergian Leo, dengan langkah setengah berlari Suketi mengejar, berusaha mengimbangi langkah lelaki itu. Suketi takut bosnya tersebut akan marah dan dia akan dipecat dari pekerjaannya saat ini. Bayangan cicilan hutang yang minta dibayar terus saja berputar dalam benaknya. Kalau dirinya dipecat dari pekerjaan ini, masa iya dia harus menggadaikan diri untuk melunasi hutang-hutang itu. Setahu Suketi belum ada tempat gadai orang kecuali ... (jawab aja sendiri).
"Bos! Tunggu!" teriak Suketi. Namun, Leo berpura-pura tuli. "Dasar Bos budek!" umpat Suketi lirih.
Namun, Leo berhenti lalu berbalik dan Suketi yang tidak menyadari itu, akhirnya menabrak dada bidang Leo. Suketi terdiam merasakan betapa nyamannya bersandar di sana hingga tanpa sadar tangan Suketi melingkar di perut Leo. Memeluk erat sembari mendusel.
"Apa yang kamu lakukan!" Suara Leo menggelegar hingga membuat tubuh Suketi terlonjak. Suketi refleks melepaskan pelukan tersebut lalu mengusap dada saat merasakan jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya.
"Maaf, Bos. Khilaf dikit." Suketi menunjukkan rentetan gigi putih dengan dua jari tanda damai.
"Apa kamu bilang? Khilaf? Mau kupotong berapa—"
"Jangan, Bos. Jangan potong gaji saya. Nanti gimana dengan cicilan panci saya? Cicilan daleman dan baju-baju saya. Cicilan sepatu saya." Suketi menunjukkan wajah memelas.
__ADS_1
"Bukan urusanku!" ketus Leo. Membenarkan jasnya yang berantakan karena pelukan Suketi. Bahkan, Leo sampai mengusapnya seolah ada debu yang menempel di sana.
"Jangan potong gaji saya, Bos. Saya mohon. Saya akan melakukan apa saja asal jangan potong gaji saya." Suketi menggoyangkan lengan Leo. Namun, dengan segera dia melepaskan karena melihat sorot mata Leo yang menajam. Seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.
"Kamu yakin akan melakukan apa pun?" Leo tersenyum licik, dan itu mampu membuat Suketi menelan ludahnya susah payah.
"I-iya, Bos. Tapi jangan macem-macem." Suketi mulai khawatir. Takut permintaan Leo akan di luar nalar dan dia tidak sanggup melakukannya.
"Aku cuma minta satu macam saja," ujar Leo. Melipat kedua tangan di depan dada. Senyum licik tampak terlihat jelas dari kedua sudut bibir Leo. Suketi sedikit mengembuskan napas lega. Hanya sedikit karena hati gadis itu masih penuh kegelisahan.
"Aku ingin kamu mengatakan hal apa saja yang disukai dan tidak disukai Brielle. Kegiatan apa yang dilakukan gadis itu. Terus, aku ingin kamu membantu aku supaya bisa dekat Brielle, syukur-syukur aku bisa memiliki Brielle sepenuhnya."
"Astaga, kenapa banyak sekali, Bos. Katanya cuma satu." Suketi mencebik. Dia tidak menyangka kalau permintaan Leo akan sebanyak itu dan semua tentang Marwa yang sekarang sudah pergi entah ke mana. Satu hal lagi, Leo memanggil Marwa dengan panggilan 'Brielle', cantik sekali. Suketi sungguh merasa ingin mual saat mendengarnya.
"Aku tidak menerima protes. Kalau kamu tidak bisa melakukannya maka aku akan memotong gajimu dua kali lipat." Leo berlalu begitu saja. Meninggalkan Suketi yang saat ini sedang menggerutu.
"Kenapa beban hidup gue makin bertambah!" Suketi menendang tembok untuk meluapkan kekesalan saat melihat Leo sudah masuk ke lift hendak menuju ke ruangannya kembali. Namun, gadis itu mengerang saat merasakan kakinya terasa sakit dan nyeri.
__ADS_1
"Sialan!" Suketi melepaskan sepatu yang dikenakan lalu menggoyangkan kakinya perlahan supaya rasa nyeri itu sedikit mereda. Namun, saat Suketi hendak memakai sepatunya kembali, ponselnya tiba-tiba berdering. Suketi mengambil ponsel dari saku blazer yang dikenakan dengan bibir terus menggerutu. Dia mengembuskan napas kasar saat lagi-lagi melihat nama Leo tertera di layar.
"Catarina! Kenapa kamu tidak ikut ke atas?" Suara Leo hampir membuat telinga Suketi menjadi tuli. Sampai-sampai Suketi menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ma-maaf, Bos."
"Tidak ada kata maaf bagimu. Kamu sekarang naik tangga dan harus sampai di atas bersamaku!"
"Bo—"
Tut Tut Tut
Panggilan itu terputus begitu saja. Suketi ingin melempar ponsel, tetapi dia takut rusak dan tidak memiliki uang untuk membeli yang baru. Dengan cepat dia berlari menaiki tangga untuk mengejar Leo agar bisa sampai di atas bersamaan dengan lelaki itu.
Sial amat nasib gue sebagai bawahan kek gini. Kalau gue direstui Tuhan jadi istrinya maka gue akan balas dendam dan kasih pelajaran buat Bos Leo.
Suketi ngedumel sembari berlari menaiki tangga. Saking gugupnya dia sampai melupakan satu hal kalau di kantor itu tidak hanya ada satu lift saja, masih ada lainnya yang bisa digunakan oleh Suketi.
__ADS_1