Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
18


__ADS_3

Hidup Marwa mulai tidak tenang sejak bayangan Leo terus saja mengganggu. Ketika sedang melakukan apa pun, Marwa selalu merasa Leo ada di sekitarnya dan mengawasi dirinya. Namun, yang membuat Marwa terkadang mengutuk dirinya sendiri adalah saat dirinya membayangkan tubuh kekar Leo. Bagaimana rasanya jika dirinya berada di bawah kungkungan lelaki itu. Aisshhh ... sudah ah! Nanti mikirnya kebablasan.


Hari ini, Marwa bersiap-siap untuk mulai bekerja sebagai karyawan di salah satu toko yang cukup besar di kota ini. Marwa sudah tampak cantik saat memakai seragam dengan rambut dikucir tinggi. Wajah yang dipoles bedak dan lipstik tipis karena Marwa bukan gadis yang suka berdandan menor seperti ikan lohan.


Marwa melirik jam di tangan yang sudah menunjuk angka tujuh. Marwa pun mengalungkan tas selempang yang hanya berisi uang dan ponsel lalu bergegas keluar kamar.


"Cantik amat elu, Mar. Pantes aja si Leo klepek-klepek sama elu," puji Zaenab yang sedang sarapan sebelum berangkat bekerja.


"Asem amat elu, Zae. Mulut elu sekali aja jangan bikin tensi darah gue naik, bisa enggak?" timpal Marwa sewot sendiri. Dia mendudukkan bokongnya sedikit kasar di atas kursi yang berada di samping Zaenab. Tanpa meminta izin, Marwa langsung menyendok nasi milik Zaenab dan memakannya langsung. Dia tidak peduli meskipun Zaenab saat ini sudah ngedumel kesal.


"Udah, Mar. Ntar gue kagak kenyang." Zaenab menarik sendok dari tangan Marwa karena gadis itu sudah mengabiskan tiga sendok nasi.


"Dikit lagi, sih, Zae. Gue masih laper." Marwa merengek, tetapi Zaenab menjauhkan nasinya dari Marwa agar tidak bisa dijangkau.


"Beli sendiri. Gue males keluar lagi. Dah capek." Zaenab pun kembali memakan nasinya.


"Ish! Lu nyebelin, Zae." Marwa mencebik, tetapi Zaenab justru terkekeh.


"Mar, gue punya saran buat lu."

__ADS_1


"Saran apaan? Awas kalau sampai lu sesat!" Telunjuk Marwa mengarah tepat di depan wajah Zaenab.


"Santai, Sis! Semongko!" Zaenab tergelak keras, sedangkan Marwa yang sudah gemas pun langsung menonyor kepala Zaenab.


"Mulai kumat lu, Zae! Udah saran apaan? Gue keburu mau kerja." Marwa tidak sabar sendiri. Selain ingin bekerja, dirinya juga akan mencari sarapan terlebih dahulu. Marwa bisa saja meninggalkan Zaenab saat ini juga, tetap di dia pun merasa penasaran dengan saran apa yang akan dikatakan Zaenab.


"Jadi gini, Mar. Lu 'kan katanya ditawari nikah sama Leo. Mendingan elu terima aja penawaran itu. Lumayanlah elu bisa jadi orang kaya, jadi bosnya Suketi pula." Zaenab berusaha mengompori. Dia tersenyum licik saat melihat raut Marwa yang tampak bimbang.


"Bener banget tuh saran si Zaenab. Leo kan duda tuh, seenggaknya dia udah pengalaman dan tahu bagaimana cara memuaskan," imbuh Juminten dari arah dapur. Marwa mendengkus kasar saat mendengar ucapan Juminten. Meskipun sudah terbiasa dengan mulut Juminten yang tidak bisa difilter, tetapi Marwa masih saja kesal jika mendengarnya.


"Pengalaman dalam hal apa, Jum? Kalau sampai elu jawab dalam hal ranjang, gue enggak segan-segan buat masukin pisang ke mulut lu!" cebik Marwa. Bukannya takut mendengar ancaman itu, Juminten dan Zaenab justru tergelak keras. Kembali menguji kesabaran Marwa.


"Tumben amat otak elu waras, Jum," cibir Zaenab. Masih sibuk menghabiskan sarapan yang tinggal tiga suap.


"Otak gue mah emang selalu waras, Zae. Kalian aja yang suka sensitif sama gue. Selalu buruk sangka kalau sama gue." Juminten menepuk dada tanda membanggakan dirinya sendiri. "Mar, satu lagi nih ya, ntar kalau elu nikah sama si duda itu, elu bisa diajari berbagai macam gaya, seperti nungging, tengkurap, tiarap, telentang, miring—"


"Arrabella Juminten Marlow!! Dasar Anabelle!" Marwa berdiri dan berkacak pinggang, sedangkan Juminten sudah kabur kembali ke kamar. "Sumpah ya, mulut elu beneran kaya comberan! Kotornya enggak kaleng-kaleng!" teriak Marwa meluapkan kekesalan tanpa peduli pada Juminten yang sudah bersembunyi dibalik pintu seraya cekikikan.


"Astaga, baru sepagi ini kalian udah ribut," ucap Zaenab santai. "Mendingan sekarang elu makan aja, Mar. Biar kuat menjalani hari ini. Awali pagimu dengan sarapan bukan harapan."

__ADS_1


"Dah, diem deh, Zae! Jangan bikin gue makin kesel kalau elu ngomong." Marwa mengambil sebungkus nasi entah milik siapa dan langsung memakannya.


"Yaelah, gue 'kan kalau ngomong bener, Mar. Lu kalau sama gue sensi amat perasaan." Zaenab berpura-pura sebal. "Lagian lu asal comot nasi bungkus punya Suketi. Awas kena marah lu."


"Biarin aja! Zae, sekarang elu kalau ngomong bener, tapi ntar lama-lama enggak beres kaya si Juminten, noh!" Marwa mengunyah makanan dengan kasar karena hatinya masih kesal. Zaenab tidak menjawab lagi dan sibuk membereskan bekas makannya karena telah selesai.


Ketika masih sibuk di ruang makan, Suketi tampak keluar dengan terburu-buru membuat Zaenab dan Marwa menjadi terheran-heran. Apalagi, saat melihat raut wajah Suketi yang tampak bingung.


"Ada apa sih, Suk? Kenapa elu udah kaya orang dikejar setan aja." Zaenab terus saja menatap Suketi sedang menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Persis seperti monyet.


"Gue mau nemuin Bos Leo di depan, katanya mau jemput Marwa."


Uhuk uhuk!


Mendengar jawaban Suketi membuat Marwa tersedak nasi yang sedang dikunyahnya. Zaenab pun segera memberikan segelas air putih kepada Marwa.


"Minum, Mar. Jangan sampai lu mati karena tersedak dan nantinya bakal jadi berita yang menghebohkan," celetuk Zaenab. Zaenab mengerang saat Marwa mencubit lengannya untuk meluapkan amarah. "Sakit, Mar."


"Mulut lu emang laknat, Zae!"

__ADS_1


__ADS_2