
Leo duduk di kursi kebesaran sembari memijat pelipisnya. Pekerjaan yang harus disentuh sudah menumpuk di meja, tetapi Leo sama sekali tidak bisa konsentrasi dengan itu. Pikirannya melayang jauh. Membayangkan wajah cantik Marwa yang begitu menggoda.
Dengan gerakan perlahan, Leo menarik ponsel dari saku dalam jas lalu membuka kunci layar. Dia mendes*h kasar saat lagi-lagi tidak melihat satu pun notif yang masuk. Padahal Leo sangat berharap Marwa akan menghubunginya meski hanya sekedar mengucapkan terima kasih atau selamat pagi. Setidaknya dengan itu Leo bisa mengenal Marwa lebih dekat lagi.
"Tidak tahu terima kasih!" Leo menaruh kasar ponsel di atas meja hingga menciptakan bunyi yang cukup keras terdengar.
Suketi—sekretaris Leo—yang baru saja masuk ke ruangan pun sampai beringsut takut. Lalu kembali ke luar ruangan. Di saat Leo sedang dalam keadaan seperti ini, Suketi tidak berani mendekati Leo karena yang ada dirinya akan menjadi pelampiasan amarah lelaki itu. Menghadapi Leo yang sedang marah sama saja dengan menghadapi wanita yang sedang PMS. Serba salah.
Namun, baru saja menghembuskan napas lega, Suketi terkejut saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan cepat Suketi mengambil dari saku blazzer yang dikenakan dan menghirup napas dalam. Jantungnya berdebar kencang bahkan serasa akan lepas dari tempatnya saat melihat nama 'Bos Leo' tertera di layar.
"Ha-hallo, Bos."
"Catarina! Kamu ke mana saja! Kenapa belum masuk ke ruangan! Aku sudah butuh kopi hitam! Ingat! Jangan pakai gula!"
Suketi merasa nyawanya sudah berada di ujung tanduk saat mendengar omelan Leo yang begitu memekakkan telinga. Bahkan, dia sampai menjauhkan ponselnya, tetapi suara Leo masih terdengar dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Kamu tuli?!"
"Astaga." Suketi mengusap dada saat suara Leo makin keras terdengar. "I-iya, Bos. Saya dengar."
"Lima menit! Kalau sampai lima menit kamu belum kembali maka aku tidak akan segan-segan memotong gajimu!"
"Tapi, Bos. Mana cukup lima menit." Suketi berbicara lemas.
"Aku tidak peduli!"
Tut tut Tut
Suketi menggeram kesal saat panggilan itu langsung terputus begitu saja. Demi apa pun dia mengumpati bosnya yang sangat menyebalkan, meskipun Suketi tidak memungkiri kalau dirinya memuja wajah tampan Leo. Mengingat perintah bosnya, Suketi bergegas menuju ke pantry yang berada persis di sebelah ruangan Leo.
Sementara itu, Leo berkali-kali mendes*hkan napas ke udara secara kasar untuk sedikit mengurangi amarah yang menguasai. Dia merasa bingung sendiri, bagaimana cara supaya bisa menghilangkan mood yang tiba-tiba memburuk. Otak Leo berpikir keras, bahkan hingga membuat keningnya mengerut dalam.
__ADS_1
Namun, sepersekian detik berikutnya, senyum Leo merekah sempurna saat mendapatkan sebuah ide. Dia bangkit berdiri, merapikan jas yang dikenakan lalu melangkah pergi dengan segera. Rasanya Leo sudah tidak sabar ingin bertemu Marwa yang dia klaim sebagai dambaan hatinya mulai saat ini.
Ketika membuka pintu, Leo terkejut saat berpapasan dengan Suketi. Begitu juga dengan wanita itu. Bahkan, kopi yang berada di dalam cangkir sedikit tumpah. Beruntung hanya mengenai nampan, bukan tangan Suketi. Seandainya mengenai tangan dan membuatnya kulitnya terbakar maka Suketi akan menuntut bosnya tersebut. Meminta ganti rugi, menjadikan Leo sebagai suami—misalnya. Suketi terkekeh saat membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. Namun, Suketi langsung terdiam saat melihat sorot mata Leo yang menajam.
"Bisakah kamu berjalan dengan hati-hati! Kamu hampir saja membuat jasku kotor!" hardik Leo.
Suketi mengusap dada sembari mengumpat dalam hati. Kalau bukan karena gaji yang besar saja, Suketi sudah pasti akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Suketi menendang udara untuk meluapkan kekesalan saat melihat punggung Leo yang perlahan menjauh.
"Dasar duda! Untung cakep! Kalau mau aja udah gue kawinin lu!" umpat Suketi. Dia masuk ke ruangan untuk menaruh cangkir di atas meja lalu menyusul Leo sebelum dirinya kembali terkena amarah lelaki itu.
Sementara Leo yang sudah masuk di lift, terus saja merapikan bajunya. Dia ingin penampilannya menjadi terlihat sempurna di mata wanita yang begitu dia kagumi mulai saat ini. Tanpa Leo sadari, dia terus saja tersenyum sendiri seperti orang gila. Beruntung di dalam lift tersebut dia hanya sendirian. Jadi, tidak ada kekhawatiran Leo menjadi bahan ledekan karyawan.
Jatuh cinta dan sakit jiwa itu berbeda tipis.
Leo berusaha tetap terlihat cool, tetapi bibirnya berkhianat. Terus saja menciptakan senyuman simpul.
__ADS_1