Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
32


__ADS_3

Marwa sungguh tidak menyangka kalau Leo akan sekuat itu. Membuat dirinya kelelahan sekaligus ketagihan. Membuatnya selalu merasa puas di ranjang dengan sentuhan-sentuhan yang begitu memabukkan.


Ternyata bercinta itu memang sangat enak. Pantas saja banyak yang ketagihan.


Marwa menatap Leo yang masih terpejam. Menatap kagum ke arah lelaki itu. Wajah tampan dan kulit putih bersih. Rahang tegas dan adik yang keras.


Astaga, otak gue gini amat ya.


Marwa mengeluhkan dirinya sendiri yang terlalu mesum karena banyak bergaul dengan Marwa. Dia pun mengusap wajah Leo. Terus mengagumi setiap inchi yang disentuhnya hingga pada akhirnya Marwa tersentak karena tiba-tiba sebuah ciuman mendarat di bibirnya. Marwa hendak menghindar, tetapi Leo justru merapatkan tubuhnya tanpa melepaskan ciuman itu. Dengan terpaksa, Marwa pun membalas. Gerakan lidah Marwa bahkan sudah sangat lihai. Menyeimbangi Leo. 


Tangan Leo yang barusan melingkar di perut Marwa pun perlahan naik dan mulai memegang buah kenyal yang sekarang sudah menjadi kesukaannya. Marwa pun kian terbuai dan tak kuasa menahan desah*n kenikmatan.


Lalu apa yang terjadi? Isi sesuai otak kalian masing-masing.


***


Pagi ini Marwa tidak menyiapkan sarapan karena kelelahan mendapat gempuran dari suaminya. Vinny pun berusaha mengerti hal itu karena dia juga pernah berada di posisi Marwa. Menjadi pengantin baru yang lebih banyak lemburan, melebihi tugas pekerja kantoran di akhir bulan.


"Jangan terlalu sering. Kasihan Brielle. Dia masih terlalu kecil dan belum ada pengalaman." Vinny memberi nasehat kepada Leo dan hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh lelaki itu. Leo sengaja diam dan fokus pada sarapannya.


"Leo berangkat dulu, Ma. Jangan lupa nanti kabari Leo kalau sampai jam sembilan Brielle belum makan." Leo tanpa rasa malu mencium pipi Vinny.


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


Leo hanya mengangguk. Lalu bergegas pergi karena pagi ini dia harus menghadiri rapat penting dan dia tidak mau jika sampai terlambat karena itu bisa saja merusak citranya.

__ADS_1


Sementara itu di kamar, Marwa masih sibuk tiduran di bawah selimut tebal yang membalut tubuhnya. Rasanya dia begitu enggan untuk bangun. Apalagi, Marwa merasakan tulangnya seperti akan patah karena terus melayani napsu Leo.


Cukup lama hibernasi dari dunia pergenjotan, membuat Leo seperti orang kalap. Tanpa ampun terus menggempur Marwa. Bahkan, Marwa masih terus mengingat saat Leo membenamkan adik kecilnya sedalam-dalamnya saat lelaki itu sampai pada puncaknya.


Rasanya begitu terngiang-ngiang.


"Ya Tuhan, aku males bangun." Marwa menguap lebar lalu kembali menarik selimut sampai sebatas leher. Dia pun kembali memejamkan mata dan berusaha hendak tertidur lagi. Namun, kedua matanya sontak terbuka lebar saat teringat dirinya saat ini sedang berada di rumah Leo.


Dengan gerakan cepat dia hendak turun dari tempat tidur. Namun, Marwa meringis saat merasakan nyeri tepat di apemnya.


Ahh, ini gara-gara ulah suamiku.


Tapi kamu juga suka 'kan, Mar.


Marwa merutuki batinnya sendiri yang selalu berbeda pendapat seperti itu. Entah bagaimana bisa hati dan pikirannya seperti bercabang dua seperti setan baik dan jahat. 


Setelah memastikan dirinya bisa bangun dengan baik, Marwa pun terlebih dulu ke kamar mandi untuk membersihkan diri barulah dirinya turun ke lantai bawah untuk menemui Vinny yang sedang sibuk bermain ponsel di ruang keluarga. 


Mendengar bunyi yang dihasilkan oleh langkah kaki Marwa, Vinny pun mengalihkan pandangan dan tersenyum saat melihat anak menantunya. 


"Kamu sudah bangun, Bril?" tanya Vinny lembut. Meminta Marwa agar duduk di sampingnya. 


"Sudah, Ma. Maaf, aku terlambat bangun." Marwa sedikit menunduk karena takut akan dimarahi oleh Vinny. Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau menantu dan mertua bersama itu tidak akan pernah ada kecocokan dan Marwa selalu membayangkan Vinny akan memarahinya habis-habisan. 


Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Vinny justru tersenyum simpul sembari mengusap lengan Marwa.

__ADS_1


"Tidak apa. Mama ngerti kalau kamu pasti kelelahan. Dulu, mantan istri Leo juga seperti itu," kata Vinny tanpa sadar.


Mendengar Vinny menyebut 'mantan istri Leo' entah mengapa hati Marwa terasa berdenyut sakit. Ada perasaan gelisah yang menyelimuti hatinya. 


Mungkinkah Mama Vinny masih menyayangi mantan menantunya. 


Marwa mendes*hkan napas ke udara secara kasar. 


Jangan suudzon, Mar. Kagak baik! 


🤪🤪🤪


Selamat siang menjelang sore. Adakah yang merindukan Othor setelah dua Minggu tidak muncul?


Jangan ngarep lu, Thor!


wkwkw ngarep dikit sih.


Baiklah. Mulai hari ini Othor akan melanjutkan kisah ini.


Kalian siap?


Pastilah. wkwkkw


Miss You All 😘😘

__ADS_1


__ADS_2