Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
11


__ADS_3

"Marwa!!" Lengkingan suara Suketi memenuhi ruang tamu di rumah kontrakan. Padahal gadis itu baru saja pulang dari kantor dan langsung mengejutkan semua penghuni kontrakan.


"Ada apa sih, Suk? Jangan bikin orang jantungan." Sumiatun yang baru selesai mandi, mencebik karena dibuat jantungan oleh Suketi. Seharusnya dirinya belum selesai mandi saat ini. Namun, saat mendengar teriakan Suketi, Sumiatun yang khawatir pun langsung menyudahi. Lihat saja masih ada sisa sampo di rambutnya meski sedikit.


"Di mana si Edan?" Suketi menaruh tas secara sembarang di atas sofa. Tidak peduli meskipun tas itu rusak. Kalaupun rusak, palingan juga Suketi hanya nangis-nangis.


"Ngorok!"


"What? Jam segini tidur? Enak banget hidup dia!" Suketi bangkit berdiri dan melangkah lebar menuju ke kamar Marwa. Dia mengetuk pintu kencang bahkan sampai membuat yang lainnya terbangun.


"Mesis Ceres!" pekik Marwa karena tangan Suketi justru memukul wajah Marwa karena tidak menyadari kalau pintu sudah dibuka. Suketi menghentikan gerakannya dan menunjukkan rentetan gigi putihnya saat melihat Marwa yang tampak begitu kesal. Awalnya dia merasa bersalah, tetapi saat teringat dengan permintaan Leo, Suketi pun kembali dongkol dan berkacak pinggang di depan Marwa.


"Elu itu bikin beban hidup gue bertambah!" bentak Suketi, menunjuk wajah Marwa.


"Ada apa dengan gue? Maksud elu apa sih, Suk? Kagak jelas banget. Baru juga pulang udah bikin huru-hara." Marwa berjalan menuju ke ruang tamu dan Suketi mengikut di belakang.


"Elu tahu enggak?"


"Enggak!"

__ADS_1


"Asem banget lu! Gue belum kelar ngomong!" Suketi berbicara dengan suara tinggi.


"Minum dulu, Suk. Biar elu kuat marah-marah." Zaenab dengan santai memberi segelas air putih dan langsung ditenggak habis oleh Suketi.


"Elu haus?" Zaenab menatap gelas di tangan yang telah kosong.


"Kagak! Haus, lah! Emang elu pikir enggak capek apa marah-marah? Ngeluapin emosi juga pakai tenaga dalam keles! Dan juga bikin tenggorokan kering," ucap Suketi ketus.


"Ya udah, kalau gitu enggak usah marah-marah biar tenaga elu enggak terkuras habis kaya pengantin baru."


"Apa hubungannya?" tanya Suketi, sedangkan Marwa hanya diam dan memakan kacang atom sisa Juleha kemarin. Marwa terkekeh karena sebentar lagi akan melihat perdebatan seru seperti sedang menonton pertandingan bola ataupun balap karung—eh balap motor.


"Hubungannya? Cuma sebatas temen. Gue sayang sama elu, tapi elu malah milih dia." Zaenab tergelak dan bergegas pergi sebelum Suketi memukul ataupun mendaratkan cubitan maut padanya.


"Apa sih, Suk? Gue capek!" Marwa menjawab lesu. Rasanya dia sangat malas dengan sahabatnya yang terkadang tidak penting itu.


"Elu harus bantuin gue biar tetep bisa bekerja di perusahaan Bos Leo." Suketi memegang lengan Marwa, takut gadis itu akan bangkit kembali.


"Gue? Gimana caranya? Bukannya elu tahu kalau gue kerja aja enggak pernah becus," ujar Marwa. Menyandarkan tubuhnya di sofa, mengambil toples berisi kacang dan kembali mengunyah. "Lagian gue kagak mau lagi berurusan sama bos elu yang tampan, tapi menyebalkan itu," sambungnya.

__ADS_1


"Elu harus baik-baik sama Bos Leo. Kalau sampai elu nolak dia, yang ada gue bakalan dipecat dari perusahaan. Hidup dan mati isi dompet gue ada di tangan elu, Suk."


"Apa? Kok bisa?" Marwa setengah berteriak. Dia masih terkejut dengan ucapan sahabatnya dan menatap tidak percaya.


"Bisalah. Dia kayaknya cinta mati sama elu. Pelet elu ampuh, Mar. Asem!" Suketi mengusap kepalanya yang ditonyor oleh Marwa.


"Elu kalau ngomong suka ngaco. Mana ada Bos Leo-mu itu yang katanya belum lama berstatus duda, tergila-gila sama cewek kaya gue." Marwa mendes*h kasar.


"Emang cewek kaya elu kenapa? Enggak waras gitu?" Suketi bertanya, tetapi Marwa hanya diam dan sibuk mengunyah. "Kalau bisa elu terus aja jalan sama Bos Leo. Lumayan bisa elu manfaatin, Mar."


"Kalau gue enggak mau?" tanya Marwa.


"Masa elu tega lihat gue dipecat dari perusahaan? Pokoknya gue enggak mau tahu, elu harus mau sama Bos Leo. Kalau perlu jadi pacar dia!" ucap Suketi tegas. "Eh, gue ralat deh, jangan jadi pacar dia."


"Terus?" Marwa menatap Suketi dengan tatapan penuh kekesalan.


"Jadi calon istri kalau perlu jadi istri dia."


"Ogah! Itu namanya pemaksaan, Suk. Mana enak!"

__ADS_1


"Lebih enak dipaksa, Mar. Daripada elu cuma pasrah doang. Sekali-kali harus ada perlawanan biar lebih berasa uuuu, aahhh, aseekkk." Juminten dari arah dapur, tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.


"Astaga. Annabel si Ratu mesum." Suketi dan Marwa menggeleng melihat Juminten.


__ADS_2