
"Kenapa kamu diam saja, Bril?"
Marwa yang kala itu sedang menunduk pun langsung mendongak dan menatap Vinny. Melayangkan tatapan penuh kebimbangan lalu menggeleng lemah setelahnya.
"Tidak apa, Ma."
"Baiklah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk bercerita kepada mama. Anggap aja mama adalah teman kamu sendiri," ucap Vinny lembut. Marwa hanya menunjukkan senyuman manis.
Apakah mungkin dulu hubungan Mama Vinny dan mantan istri Leo sangat dekat seperti ini? Kalau iya, terus mereka cerai karena apa, dong? Apa karena wanita itu tidak sanggup melayani genjotan suamiku?
Ciee, suami ciee! Udah ngaku, nih, ya.
Loh, emang bener suamiku, 'kan?
Oee! Jangan debat mulu. Gue capek dengar kalian bertengkar.
Marwa menggeleng untuk mengusir pikiran itu. Sungguh, dia merasa kesal pada dirinya sendiri yang terus menggerutu dalam hati. Ketika sedang sibuk dengan pikirannya, Marwa terjengkit karena terkejut karena tepukan tangan Vinny di pundaknya. Membuyarkan lamunannya saat itu juga.
"Lebih baik sekarang kamu sarapan. Ingat, kamu harus isi tenaga." Vinny tersenyum menggoda dan hal itu sontak membuat wajah Marwa tampak tersipu malu.
Merasa sungkan dengan mama mertuanya, Marwa pun bangkit dan sarapan dengan ditemani Vinny. Mereka mengobrolkan banyak hal. Meskipun Vinny yang lebih banyak berbicara ketimbang Marwa yang hanya jadi pendengar setia. Mantan gadis itu hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan mama mertuanya meski terkadang dia tidak paham dengan apa yang diceritakan oleh Vinny.
__ADS_1
****
Marwa merasa bosan karena seharian hanya bergelimpangan di kasur. Bibirnya terus mengutuki Leo karena lelaki itu sudah meminta bos Marwa agar memecatnya hingga Marwa tidak punya alasan lagi untuk meminta bertahan. Ya, dia sekarang adalah seorang pengangguran, kaya raya pastinya.
"Ya ampun, boring amat di rumah. Ternyata, jadi bini konglomerat kagak selalu enak juga. Coba aja gue di kontrakan. Udah pasti gue ketawa sama Geng Ternak Duda. Makan siomay, cilok, batagor. Seblak juga jangan lupa. Oh, astaga iler gue."
Marwa mengusap air liurnya yang menetes karena membayangkan makanan receh, tapi harga tetap recehan.
Yaelah, macam lagi endorse aja elu, Mar.
"Aish, daripada gue boring. Mending gue ke kontrakan aja, deh." Marwa mengambil ponselnya. Dia akan menghubungi Leo untuk meminta izin akan pergi ke kontrakan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Leo tanpa basa-basi.
"Sudah dari tadi. Bahkan aku sudah sarapan." Marwa menjawab sekaligus karena dia yakin suaminya pasti akan bertanya hal tersebut.
"Syukurlah. Apa kamu sudah mandi?" tanya Leo lagi.
"Sudah. Aku bahkan sudah keramas dan gosok gigi." Marwa terkekeh saat mendengar dengkusan kasar dari seberang telepon. Marwa yakin kalau Leo pasti bingung apa yang akan ditanyakan lagi.
"Kalau begitu sekarang kamu bersiap karena anak buahku akan menjemputmu."
__ADS_1
"Jemput?" Alis Marwa sampai bertautan erat. "Jemput ke mana?"
"Ke sini. Aku sudah merindukanmu. Jadi, aku ingin kamu di sini menemaniku bekerja. Aku yakin kamu pasti bosan di rumah sendirian," tebak Leo. Marwa mengangguk mengiyakan meskipun lelaki itu tidak melihatnya.
"Lima belas menit lagi mereka akan sampai, jadi kuharap kamu sudah siap. Kalau begitu aku matikan—"
"Tunggu!" Marwa menginterupsi. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Suara Marwa terdengar ragu-ragu.
"Apa?" tanya Leo setelah cukup lama, tetapi istrinya tidak menjawab sama sekali.
"Apa kamu akan mengajakku bercinta di kantor?" Suara Marwa terdengar lirih. Namun, hal itu sontak membuat tawa Leo meledak saat itu juga. "Ish! Jangan ketawa. Kamu nyebelin!" Marwa merajuk. Menghentakkan kakinya untuk meluapkan kekesalan.
"Kalau kamu ingin itu, baiklah. Aku akan menuruti. Nanti kita akan bercinta di kantor. Pasti sensasinya luar biasa," kata Leo ringan seolah tanpa beban.
"Apa? Kamu jangan gila. Aku tidak—"
Tut Tut Tut
Panggilan tersebut terputus sebelum Marwa menyelesaikan ucapannya. Dia mendengkus kasar dan menghempaskan ponselnya di atas kasur, bukan lantai.
Ya Tuhan, moga aja gue kagak mati kecapekan. Eh! Jangan mati dulu. Dosa gue masih banyak.
__ADS_1