Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
25


__ADS_3

"Bu, jangan bercanda. Aku saja belum mengatakan setuju atas ajakan Om Duda." Marwa berbicara lesu. Berharap orang tuanya akan mempertimbangkan semuanya. Namun, harapan itu hanyalah sebatas harapan belaka karena ternyata kedua orang tua Marwa tetap merestui hubungan mereka.


"Tuan Leo sudah bilang kalau dia akan menjaga dan belajar mencintai kamu sepenuh hati. Kalau dia sampai menyakitimu maka akan mengembalikan kamu pada kami," kata Nur.


"Lalu hanya dengan itu kalian setuju begitu saja?" Nada bicara Marwa menyiratkan sebuah kekecewaan.


"Mar, orang tua mana yang tidak setuju kalau mempunyai anak gadis yang sudah berada di usia nikah, tapi belum menikah juga. Lalu datang seorang lelaki yang meminta izin akan serius tanpa berpacaran terlebih dahulu. Berjanji akan bertanggung jawab atas kehidupan kamu baik lahir mau batin."


"Tapi aku baru berumur dua puluh lima tahun, Pak. Masih ingin bekerja dan membahagiakan kalian." Marwa berbicara seperti menggerutu. Tidak menyangka kalau orang tuanya semudah itu merestui keinginan Leo.


Padahal, selama ini bukannya Marwa tidak ingin menikah, tetapi orang tuanya yang selalu melarang dirinya untuk berpacaran. Bahkan, Marwa beberapa kali mengenalkan teman prianya kepada mereka, tetapi langsung ditolak mentah-mentah hingga membuat Marwa kesal sendiri. Namun, semua berbeda kini. Apa mungkin karena Leo seorang pengusaha atau orang yang sangat berkecukupan hingga membuat orang tua Marwa langsung setuju begitu saja.


"Kalau kamu mau membahagiakan bapak dan ibu itu caranya sangat, Mar." Baskoro tersenyum, dan Marwa mendes*h kasar saat melihat senyuman licik itu.


"Jangan macam-macam, Pak."


"Bapak dan ibu cuma minta satu macam saja, kok. Kalau kamu ingin bapak dan ibu bahagia, maka menikahlah dengan Nak Leo dan berilah kami cucu yang lucu dan imut." Nur yang menjawab. Marwa pun memutar bola mata malas. Kenapa jawaban ibunya sama dengan mamanya Leo.

__ADS_1


"Bu—"


"Lu udah pulang, Mar?"


Ucapan Marwa terhenti saat Suketi masuk. Marwa mendengkus kasar melihat sahabatnya yang tersenyum terus seperti orang gila. Yang membuat Marwa makin dongkol adalah kedatangan Leo yang berjalan di belakang Suketi. Bibir Leo menunjukkan senyum licik dan Marwa sangat membenci itu.


"Ehem. Bapak, Ibu." Leo menyalami kedua orang tua Marwa.


"Tuan Leo." Baskoro membalas sapaan itu. Sementara Nur justru terdiam saat melihat seorang wanita yang berdiri di belakang Leo.


"Vinny!" teriak Nur hingga mengejutkan mereka termasuk mamanya Leo itu sendiri.


"Ish! Bukan, aku Nurlela." Nur meralat ucapan Vinny.


"Itu maksudku. Aku sedikit lupa karena kamu dan Nurjanah hampir sama."


Kedua wanita paruh baya itu pun saling berpelukan. Berbeda dengan lainnya yang melongo melihat kedua wanita itu.

__ADS_1


"Ibu dan mamanya Om Duda saling kenal?" tanya Margaretha. Kedua wanita itu pun melerai pelukannya dan mengangguk cepat.


"Iya, kami dulu teman satu Genk saat SMP. Bahkan, dulu kami sempat berencana akan menjodohkan anak-anak kami saat dewasa nanti," ungkap Vinny. Mereka pun terkejut saat mendengarnya.


"Tunggu dulu." Nur memegang kedua lengan Vinny dan menatap wanita itu lekat. "Ada perlu apa kamu datang ke sini?" Nur menatap Vinny curiga.


"Aku akan melamar seorang gadis untuk putraku." Vinny menjawab santai dan belum menyadari sama sekali.


"Jangan-jangan putriku yang akan kamu lamar," Nur makin menatap curiga. Vinny pun menatap Nur dan Marwa bergantian.


"Apa Brielle ini putrimu?" tanya Vinny setengah tidak percaya. Nur langsung mengangguk cepat.


"Ya, dia putriku."


"Oh Ya Tuhan. Nurjanah! Eh Nurlela maksudku. Jadi, kita akan besanan? Seperti keinginan kita dulu." Suara Vinny memekik. Nur mengangguk cepat untuk mengiyakan pertanyaan teman sekolahnya dulu. "Kalau begitu kita harus cepat-cepat menikahkan mereka."


Leo tersenyum senang, sedangkan Marwa mengembuskan napas kasarnya berkali-kali.

__ADS_1


"Lu kagak bisa nolak lagi, Mar," bisik Suketi. Marwa yang merasa kesal pun mencubit pinggang Suketi tanpa peduli pada gadis itu yang sudah mengaduh kesakitan.


Kalau jodoh emang kagak ke mana. Emang nasib gue harus berjodoh sama Om Duda. Sabar ya, Mar. Entah ini anugrah atau musibah buat lu.


__ADS_2