Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
51


__ADS_3

Semakin hari, Marwa menjadi semakin aneh. Dia akan mual parah ketika Leo memakai parfum, sedangkan setelah Leo selesai mandi, wanita itu akan terus mengendus suaminya. Seolah candu. Marwa pun merasakan ada yang salah dengan tubuhnya. Seperti masuk angin parah. Namun, Marwa hanya merasakan itu dan tidak mau mengeluh di depan suaminya atau bulan madu mereka akan gagal. 


Akhir-akhir ini Marwa sangat sensitif dan mudah sekali tersinggung. Leo harus sangat berhati-hati, salah sedikit saja bisa jadi Leo harus tidur di luar kamar. Lelaki itu pun menaruh curiga kepada istrinya, tetapi dia mencoba untuk tetap diam. 


"Kalian sudah mau berangkat?" tanya Vinny, ketika Leo dan Marwa berkunjung ke rumah untuk berpamitan. 


"Sudah, Ma." Leo menjawab santai. 


"Kalau begitu hati-hati di jalan. Semoga ketika pulang nanti kalian membawa kabar bahagia." Vinny mengusap punggung Marwa secara lembut. 


"Iya, Ma." Marwa tersenyum ke arah sang mama. 


Setelah berpamitan, Leo pun mengajak Marwa untuk segera berangkat bulan madu. Tujuan mereka adalah menikmati keindahan di pulau Lombok. Marwa begitu antusias. Merasa tidak sabar untuk sampai di sana. Dia akan menunjukkan foto-foto yang cantik kepada sahabatnya nanti. Biarlah mereka iri, Marwa tidak peduli. 


Sekitar dua jam mengudara, akhirnya mereka telah sampai di pulau canti tersebut. Leo langsung mengajak Marwa beristirahat di hotel yang telah dipesan sebelumnya. Lelaki itu pun menyuruh sang istri agar segera tidur karena tidak tega melihat wajah Marwa yang telah pucat. 


"Astaga. Kenapa pusing sekali." Marwa memijat pelipis secara perlahan. Lalu bergegas bangkit dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. 

__ADS_1


"Kamu mual? Astaga, apakah kamu terkena jetlag? Aku panggilkan dokter." Leo membopong Marwa menuju ke ranjang lalu dia pun memanggil dokter untuk datang ke sana. 


Marwa hanya diam dan membiarkan sang suami melakukan apa pun. Mata Marwa terus terpejam karena terasa sangat pusing dan pandangannya berputar-putar. 


Lemes, Bestie. 


"Kenapa dokternya lama sekali," gerutu Leo. Hampir sepuluh menit berlalu, dokter yang dipanggil tidak juga datang. Sementara Marwa sudah semakin lemas. "Kita ke rumah sakit saja." 


Leo yang sangat tidak sabar hendak pergi membopong Marwa dan membawanya ke rumah sakit. Namun, niat itu urung saat bel kamar berbunyi. Leo pun dengan segera membukakan pintu dan memasang wajah kesal ke arah dokter yang baru datang. 


"Kepala saya pusing sekali, Dok. Rasanya mual," sahut Marwa. 


"Apakah ini perjalanan pertama Anda menggunakan pesawat? Kalau iya, mungkin Anda mabuk." Dokter tersebut memegang lengan Marwa untuk merasakan denyut nadi wanita itu. 


Marwa terheran saat melihat raut wajah dokter itu yang berubah sangat serius. Bahkan, beberapa kali memberi penekanan di pergelangan tangannya. Marwa pun mulai sedikit takut. 


"Apa Anda sudah terlambat datang bulan, Nona?" tanya sang dokter. 

__ADS_1


Marwa terdiam sesaat untuk mengingat-ingat. "Sudah, deh. Harusnya dua minggu lalu saya datang bulan," gumam Marwa. Mendengar gumaman tersebut, dokter itu pun tersenyum simpul. 


"Kenapa tersenyum, Dok? Apa yang terjadi dengan istri saya? Apa itu sangat berbahaya?"  Leo khawatir sendiri, sedangkan Marwa mulai menyadari maksud ucapan  dokter itu. 


Marwa pun hanya menurut ketika sang dokter memberikan testpack. Dengan dibopong oleh Leo, Marwa kembali ke kamar mandi. Menggunakan alat tersebut. Meskipun hasil paling akurat adalah pagi hari setelah bangun tidur, tetapi Marwa juga tidak sabar. 


Semoga sesuai yang gue harapkan. Moga aja emang ada benih yang tinggal di sini.


Marwa mengusap perut sembari harap-harap cemas. Bukan hanya dia, tetapi Leo pun sama. Menunggu satu menit saja, lelaki itu merasa waktu berputar sangat lama. 


"A-aku hamil." Marwa menutup mulut, tidak percaya saat melihat dua garis di sana. 


Leo pun mengambil alih dan tampak terkejut ketika melihatnya. "Ka-kamu hamil?" 


Mata Leo tampak berkaca-kaca ketika menatap Marwa. Tanpa menunggu lama Leo langsung memeluk wanita itu sangat erat dan mengucapkan banyak kata syukur. Sungguh, ini adalah kebahagiaan luar yang sangat luar biasa untuk mereka. 


Aku janji akan menjaga kamu dan calon buah hati kita dengan sangat baik. 

__ADS_1


__ADS_2