Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
27


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu dan dinantikan oleh pasangan kita pada cerita kali ini. Yaitu Leonard Sabeni Erlangga dan Markonah Brielle Edan eh ralat, maksudnya Eden. Beri tepuk tangan yang meriah untuk mereka.


Prok! Prok! Prok! Jadi apa ๐Ÿ˜‚


Jadi anak


Marwa sudah terlihat cantik dalam balutan gaun warna putih tulang yang senada dengan tuksedo yang dikenakan oleh Leo. Marwa tidak menyangka kalau hari ini akhirnya akan datang juga. Siap tidak siap, dia harus tetap siap melewati hari ini. Kuat tidak kuat, dia tetap akan berusaha kuat melakukan malam pertama nanti. Eh! Belum!


Leo saat ini duduk di meja bersama penghulu, Baskoro, dan dua orang saksi serta beberapa orang tamu undangan. Leo tidak mengundang banyak orang karena ini merupakan pernikahan keduanya. Jadi, bagi Leo yang terpenting adalah sah, dan mendes*h secara halal.


Otak elu, Om.


"Nak Leo sudah siap?" tanya penghulu yang duduk tepat di depan Leo. Kacamata lelaki itu hampir melorot, dan sama sekali tidak dibenarkan. Leo ingin sekali protes, tetapi dia sadar bahwa melawan bapak-bapak yang ada dirinya akan kalah.


"Sudah, Pak." Leo memindai ruangan itu untuk melihat calon istrinya, tetapi Marwa ternyata masih disembunyikan di ruang make-up. Gadis itu baru akan keluar setelah Leo selesai melangsungkan ijab kabul.


"Kalau begitu kita mulai." Baskoro pun menjabat tangan Leo. Senyum Baskoro mengembang. Jujur, lelaki itu merasa sangat bahagia karena pada akhirnya Marwa akan menikah dan calon menantunya adalah seorang pengusaha sukses. Walaupun berstatus duda, tetapi setidaknya masa depan Marwa sudah pasti terjamin.


Leo dan Baskoro sama-sama menghirup napas dalam. Raut wajah Leo yang barusan tenang pun kini mulai terlihat gugup. Bahkan, Leo merasa lebih gugup dari pada dulu saat dia akan melangsungkan ijab kabul dengan mantan istrinya. Ciee ... mantan.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Leonard Sabeni Erlangga bin Richardo Erlangga, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Markonah Brielle Eden binti Baskoro Slamet, dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima ratus juta beserta perhiasan seberat dua puluh dua gram dibayar ... tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Markonah Brielle Eden binti Baskoro Slamet dengan maskawin tersebut, tunai!"


Setelah Leo selesai mengucapkan ijab kabul dan kata sah menggema di ruangan tersebut, barulah Marwa keluar dari ruang make-up. Gadis itu berjalan gugup dengan ditemani oleh keenam sahabatnya.


"Mar, kenapa lu jalannya goyang-goyang, sih?" bisik Zaenab. Berusaha memegangi Marwa yang seperti hendak jatuh.


"Bukannya kalian tahu sepatu apa yang gue kenakan?" Marwa berbicara lirih juga. Namun, nada bicaranya terdengar jelas gadis itu sedang menahan kekesalan.

__ADS_1


"Loh, bukannya sepatu lu bagus 'kan, ya?" Suketi yang berada di sebelah kiri, ikut membuka suara.


"Hmm, dan asal kalian ingat, gue kagak pernah pakai sepatu hak dan saat ini sepatu yang gue kenakan itu berhak lima belas centi."


"Apa!" pekik para sahabat Marwa. Seketika mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di dalam ruangan karena mereka baru saja sampai di pintu ruangan tersebut. Musik yang barusan mendayu-dayu pun kini ambyar oleh teriakan mereka.


"Kalian jangan ngerusak suasana." Marwa mendengkus kasar. Dirinya merasa malu.


"Gue kaget aja, Mar. Lu pakai sepatu hak tinggi banget. Pantesan gue yang lebih tinggi dari lu kini kayaknya pendek banget," cerocos Zaenab. Marwa yang kesal pun langsung menonyor kepala sahabatnya.


"Udah kalian diem aja. Gue udah susah jalan, jadi jangan tambahi beban hidup gue."


Marwa yang barusan hendak kembali berjalan pun langsung berhenti saat melihat Leo yang sedang melangkah mendekat ke arahnya. Marwa tampak gugup sekali. Dia bahkan langsung menunduk dan memegang bunga pengantin erat-erat.


"B-Bos." Suketi menunjukkan rentetan gigi putihnya saat Leo menatap mereka satu persatu.


Bos Leo mulai kumat.


Suketi yang sudah paham soal Leo pun segera mengedipkan mata, memberi kode pada lelaki itu agar tidak marah-marah atau acaranya akan benar-benar ambyar. Leo awalnya diam, tetapi saat memahami kode itu pun dengan segera menghela napas panjangnya. Untuk meredam emosi agar tidak meluap.


"Apa ada masalah?" tanya Leo lembut. Sangat berbeda dengan tadi.


"Em, Om Duda. Sebenarnya si Edan kagak bisa jalan. Sepatunya ketinggian," kata Zaenab. Marwa menoleh dan mendelik ke arah Zaenab.


"Dia minta digendong, Om. Katanya buat pemanasan kalau mau malam pertama," celetuk Juminten yang berdiri di belakang Marwa.


Marwa baru saja hendak berbalik, tetapi dia dibuat terkejut dengan gerakan Leo yang membopongnya tanpa aba-aba. Marwa hendak meronta, tetapi saat mendengar teriakan riuh dari orang-orang, membuat Marwa merasa malu dan langsung membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Leo.


"Astaga, ini memalukan," gumam Marwa. Leo menurunkan Marwa di panggung lalu menyuruhnya menatap ke arah para tamu.

__ADS_1


"Jangan banyak tingkah agar kamu tidak semakin memalukan." Leo menggenggam tangan Marwa sangat erat. Lalu tersenyum ke arah kamera yang sejak tadi menyoroti mereka. "Tersenyumlah."


Marwa yang awalnya diam memasang wajah datar pun, akhirnya mengikuti Leo. Tersenyum ke arah kamera dan bahkan tanpa malu melambaikan tangan ke arah mereka. Seperti artis papan atas saja. Tingkah Marwa tersebut sontak mengundang gelakan tawa. Setelahnya acara pun dilanjutkan sampai sore.


***


Leo tidak memesan hotel ataupun kembali ke kontrakan setelah acara itu selesai. Namun, Leo pulang kembali ke rumahnya dengan memboyong Marwa, termasuk kedua orang tua Marwa sebelum mereka kembali pulang ke kampung. Marwa merasa canggung, tetapi bagaimanapun juga, dirinya sekarang adalah istri sah Leo dan harus menurut dengan lelaki itu.


Gila! Ini beneran gila! Kamar si Duda ternyata luas banget. Sama kaya rumah kontrakan aja.


Marwa terkesima saat baru pertama masuk ke kamar itu. Sebuah kamar dengan nuansa abu-abu dan terlihat sangat elegan. Marwa menatap ranjang berukuran besar yang berada di tengah ruangan. Rasanya, Marwa ingin sekali duduk di sana.


Pasti rasanya sangat empuk. Batin Marwa, membayangkan dirinya loncat-loncat di ranjang itu seperti sedang bermain trampolin.


"Kenapa kamu diam di situ? Apa kamu tidak ingin mandi?"


Suara Leo sontak membuat Marwa tergagap. Gadis itu tampak gugup saat Leo menatapnya lekat. Ahh, tatapan itu membuat hati Marwa seperti meleleh.


Jantungku dag Dig dug, Bestie.


"Hei! Kenapa kamu diam saja?" Suara Leo yang menggelegar membuat Marwa kembali terkejut, tetapi gadis itu bersidekap kesal setelahnya.


"Jangan galak-galak, sih! Atau aku adukan ke bapakku mumpung masih di sini." Telunjuk Marwa mengarah kepada Leo, dan hal itu sontak membuat Leo tertawa terpingkal-pingkal.


"Aku tidak menyangka benar-benar menikahi gadis kecil sepertimu."


"Kamu bilang aku kecil? Apanya yang kecil? Jangan ngeledek!" omel Marwa. Leo tidak menjawab dan hanya mengusap dada. Marwa yang paham tentang itu pun ikut memegang dadanya sendiri.


"Memang kecil sih," ucap Marwa cengengesan.

__ADS_1


__ADS_2