
Sang surya masih malu-malu untuk menampilkan pesonanya. Begitu juga dengan tujuh gadis cantik yang sering menyebut dirinya sebagai personil Genk Ternak Duda. Ada-ada saja, ya. Mereka memiliki daya pikat melebihi anggota girl's band ataupun kumpulan nyonya-nyonya sosialita.
Dinginnya udara pagi membuat mereka masih betah bergelung di bawah selimut. Bahkan, seolah merasa enggan untuk beranjak bangun. Namun, Marwa menggerakkan kepala perlahan saat mendengar ponselnya berdering. Kedua matanya masih terasa berat untuk terbuka karena semalam dia dan para sahabatnya sehabis begadang melihat acara sinetron yang mampu membuat hati dongkol sendiri. Bahkan, Zaenab saking songkolnya hampir membanting televisi itu.
Tanpa melihat siapa yang menghubungi, Marwa menekan icon hijau lalu menaruh ponselnya tepat di atas telinga.
"Hallo ... Hoaamm." Marwa menguap lebar. Namun, beberapa detik selanjutnya gadis itu terbatuk karena tamparan tangan Juminten yang tidur di sampingnya. Dengan kesal, Marwa menyingkirkan tangan Juminten secara kasar. Marwa berbalik, tetapi dia mendengkus kasar saat melihat Juminten yang masih memejamkan mata. Marwa pikir Juminten sudah terbangun dan dia akan membuat perhitungan kepada gadis itu.
"Udah tidur usil banget, suka ngigau pukul orang sembarangan lagi. Kalah bukan sahabat gue aja udah gue tuker elu sama panci, Jum!" Marwa memainkan kepalan tangannya di depan wajah Juminten. Ingin sekali dia memukul gadis itu, tetapi Marwa merasa tidak tega sendiri. Bagaimanapun juga, Juminten adalah sahabatnya.
"Abang duda ... lope-lope buat kamu sekebon salak," igau Juminten. Marwa hendak menonyor kening sahabatnya, tetapi dia terdiam saat mendengar suara dari seberang telepon.
"Kenapa gue bisa lupa!" Marwa menepuk kening. "Ini siapa?" tanya Marwa karena saat melihat layar, yang menghubungi saat ini adalah nomor baru.
"Kutunggu kamu di taman kota. Dalam waktu dua puluh menit kamu tidak datang maka Catarina aku pecat!"
"Ini siapa, oe!"
Tuuuttt tuuttt
__ADS_1
Panggilan justru terputus secara sepihak. Marwa menaruh kasar ponsel di sampingnya dan bibir gadis itu terus saja menggerutu.
"Dasar orang enggak jelas! Masih pagi udah bikin gue kesel! Pakai ngancem mau mecat si Suketi pula! Catarina ... Catarina ... bagus amat Catarina." Marwa turun dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar.
Selama berjalan, Marwa terus saja mengomel. Bahkan, sampai pintu kamar tertutup rapat, omelan Marwa sama sekali tidak berhenti. Ketika sudah mendengar bunyi pintu yang tertutup, Juminten membuka sebelah mata untuk mengintip.
"Untunglah tuh manusia udah pergi. Bisa ribet kalau dia tahu gue barusan cuman pura-pura tidur." Juminten mengusap dada sembari mengembuskan napas lega.
Juminten sebenarnya sudah bangun dari tadi di saat ponsel Marwa berdering, tetapi Juminten sengaja berpura-pura untuk mengerjai sahabatnya itu. Setelah cukup lama Marwa tidak juga kembali, Juminten memutuskan untuk menarik selimut dan menutup sampai sebatas dada lalu melanjutkan tidur.
Sementara itu, Marwa yang baru selesai mandi, terkejut dan bergeming di ambang pintu saat berhadapan dengan Suketi. Ekor mata Marwa melirik tajam, tetapi Suketi justru menatap heran.
"Elu kenapa, Mar?" Marwa justru menirukan pertanyaan Suketi dengan nada dibuat-buat.
"Astaga, mulai gila nih anak!" Suketi menggeleng. Namun, Marwa justru mencebikkan bibir tepat di depan Suketi.
"Suk! Gara-gara elu, kenyamanan hidup gue terganggu! Harusnya gue bisa leha-leha, bangun siang. Lah, kalau bukan demi elu, gue bakal tolak tuh laki!" Marwa kembali merasa dongkol. Mengomel sepanjang rel kereta api membuat Suketi melongo.
"Apa maksud elu, Mar? Gue kagak paham. Ngomong yang jelas!" Suketi pun mulai ikutan kesal karena dia belum tahu duduk permasalahannya dan dirinya sudah langsung disalahkan begitu saja.
__ADS_1
"Elu tahu enggak, Suk?"
"Kagak!"
"Asem emang elu, Suk! Gue tuh lagi esmosi! Es-Mo-Si!"
"Ya, gue tahu itu. Kalau Esteller si Zaenab, noh!"
"Astaga, Suk! Gue pengen bunuh elu!"
"Jangan, gue belum kawin. Gue juga pengen dong ngerasain nikmatnya surga dunia! Oe!" Tubuh Suketi terhuyung karena Marwa mendorong cukup kencang.
"Elu tahu, Bos elu nyuruh gue datang ke taman kota sekarang. Kalau gue enggak datang, dia bakal mecat elu! Dan gue rela ke sana sekarang demi elu, Suk! Demi elu!"
"Wow! Amazing!" Suketi justru bertepuk tangan sembari bersorak saat mendengar ucapan Marwa, sedangkan Marwa hanya memutar bola mata malas dan mengumpati sahabatnya dalam hati.
"Tabahkan hati hamba tinggal bersama sahabat yang kadang enggak waras, Ya Tuhan," doa Marwa, tangannya menengadah.
"Yang sabar ya, Mar. Ini hanyalah ujian." Suketi terkekeh sembari menepuk bahu Marwa, setelahnya dia masuk ke kamar mandi meninggalkan Marwa yang kembali menggerutu.
__ADS_1
"Asem! Punya temen gini amat, yak!" Marwa menendang pintu kamar mandi untuk meluapkan kekesalan. Tanpa peduli pada omelan Suketi dari dalam kamar mandi.