
Marwa sungguh tidak menyangka kalau dirinya akan secepat ini menyandang gelar sebagai Nyonya Leo. Sebuah hal yang bahkan belum pernah terpikirkan sebelumnya. Meskipun dirinya telah resmi menjadi seorang nona muda, tetapi Marwa tetap bekerja. Leo sudah melarang, tetapi Marwa tetap bersikeras karena dia tidak ingin hanya duduk manis dan menunggu suami pulang bekerja. Pasti itu sangat membosankan.
"Kenapa? Kamu mau marah padaku lagi? Aku sudah berusaha tidak membuat kesalahan di sini." Marwa memasang wajah ketus saat Anjas mendekatinya. Marwa sudah terbiasa jika Anjas datang, pasti ada saja yang salah dari dirinya di depan lelaki itu.
"Tidak. Cukup lumayan. Kamu sudah mulai banyak perubahan. Lebih baik tentunya." Anjas berbicara setengah tidak ikhlas.
"Ya. Kalau tidak ada maka menjauhlah. Aku tidak bisa bekerja jika ditunggu seperti ini. Yang ada nantinya pekerjaanku tidak ada yang beres karena grogi." Marwa berbicara setengah mengomel.
"Berani sekali kamu mengusirku." Suara Anjas meninggi, tetapi Marwa justru memutar bola mata malas. "Aku cuma mau tanya, siapa lelaki yang sering mengantarmu? Apa dia bapakmu? Atau kekasihmu?"
Marwa melirik Anjas tajam. "Memangnya kenapa? Kepo sekali!"
"Ya, tidak apa-apa. Aku cuma penasaran aja. Kalau dia bapak kamu sepertinya tidak mungkin. Terlalu muda, tapi kalau dia kekasih kamu ... masa iya, sih, kamu pacaran sama orang yang lebih tua. Sepertinya umur kalian selisih jauh." Anjas mengusap dagu dan berusaha menerka.
__ADS_1
"Dasar lelaki jiwa emak-emak. Kenapa kamu jadi orang kepo sekali, sih! Sok tahu pula." Marwa berjalan menghentak meninggalkan Anjas, tetapi lelaki itu justru mengejar di belakang.
"Aduh!" Marwa merintih saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh karena menabrak seseorang. Marwa terkejut saat mendongak dan melihat Leo sedang berdiri di depannya, tetapi sorot mata lelaki itu tampak menajam ke arah Anjas. Marwa pun segera bangkit dan berdiri sejajar di depan Leo.
"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusnya saat ini kamu sedang berada di kantor?" Marwa berbicara setengah kesal.
Leo tidak langsung menjawab, tetapi lelaki itu masih saling melemparkan tatapan tajam dengan Anjas. Leo baru kali ini berhadapan dengan Anjas, dan lelaki itu langsung bersiaga. Entah mengapa, Leo merasa kalau Anjas memiliki perasaan lain kepada istrinya dan Leo khawatir lelaki itu akan merebut Marwa darinya.
"Hei! Kenapa kamu malah melamun." Marwa menepuk lengan Leo untuk menyadarkan lelaki itu. Leo mendengkus kasar dan langsung memegang bahu Marwa, merangkulnya tepat di depan Anjas.
"Astaga. Ada Anjas di sini. Aku malu." Marwa berusaha meronta kembali.
"Biar. Memang kenapa? Kamu takut dipecat? Justru itulah hal yang kumau," kata Leo santai, sedangkan Marwa langsung menghempaskan tangan Leo secara kasar.
__ADS_1
"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Bukankah aku sudah bilang masih tetap ingin bekerja?" Marwa berusaha menahan kekesalan.
"Ya. Itu dulu. Tapi sepertinya sekarang aku mesti sedikit lebih ketat kepadamu," kata Leo tenang.
"Jangan membuatku terkekang. Bukankah kita sudah sepakat, sama-sama tidak akan terlalu mengatur." Marwa bersidekap. Leo mengembuskan napas kasarnya berkali-kali.
"Kalau kalian mau berantem, jangan di sini. Ini lingkungan kerja. Jadi, bersikaplah sebagaimana seorang karyawan yang baik," sindir Anjas. Dia pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Leo tampak geram dan hampir saja mengejar Anjas kalau saja Marwa tidak segera menahannya.
"Baru karyawan saja sudah belagu!" Leo mengumpat kesal.
"Lebih baik kamu pulang saja sana. Aku masih harus bekerja." Marwa berusaha mengusir Leo karena dia khawatir akan terjadi keributan di sana.
__ADS_1
"Berani sekali kamu mengusirku? Ingat, aku ini suami kamu." Leo berbicara penuh kekesalan.
"Tentu saja. Aku mana mungkin lupa kalau kamu ini suamiku, sedangkan setiap malam kamu selalu menggenjotku tanpa ampun."