
Ting!
Pintu lift terbuka. Leo bergegas keluar dari sana dan hendak menuju ke parkiran. Namun, langkah Leo terhenti saat melihat seseorang yang baru saja masuk ke lobby kantor. Jantung Leo berdebar kencang bahkan wajahnya tampak terlihat begitu gugup.Tubuh Leo terpaku di tempatnya saat melihat gadis yang sedang berjalan pelan sembari celingak-celinguk. Seperti maling yang sedang mengawasi keadaan.
Sudut bibir Leo tertarik saat melihat tingkah gadis itu lalu dia pun berjalan mendekat dengan gaya gagah. Bahkan, Leo terlihat beberapa kali merapikan jas yang dikenakan. Menyugar rambut menggunakan jari yang membuat aura ketampanannya makin terpancar. Dehaman Leo terdengar cukup keras saat mereka berdiri berhadapan. Hal itu pun sontak membuat kedua mata Marwa terbelalak lebar.
"Ka-kamu." Marwa tergagap. Namun, dalam hati dia begitu terpukau melihat betapa tampannya seorang Leonard dengan setelan jas tersebut. Terlihat menawan seperti CEO-CEO yang sering digambarkan dalam sebuah novel maupun drama.
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Leo. Suaranya terdengar tegas. Lelaki itu berusaha jaga image di depan karyawannya.
"Gagah sekali," gumam Marwa tanpa sadar. Bahkan, dia tidak menjawab pertanyaan Leo karena masih terpikat dengan ketampanan lelaki itu. Sementara Leo yang mendengar pujian itu meskipun samar pun lantas berusaha menahan senyumnya. Tidak ingin sampai Marwa menyadari itu atau dirinya akan menjadi bahan ledekan.
"Ehem!" Lagi-lagi Leo berdeham cukup keras.
"Eh iya!" Marwa tersentak saat mendengar dehaman tersebut karena dia masih sibuk dengan pikirannya. Marwa pun berusaha menetralkan debaran jantungnya yang begitu kencang. "Untung gue kagak punya penyakit jantung."
"Katakan ada apa kamu mencariku?" tanya Leo lagi. Kali ini terdengar begitu menuntut jawaban.
"Aku ke sini nyariin kamu," sahut Marwa malas.
"Mencariku?" Leo menatap Marwa lekat, dan dengan cepat Marwa mengangguk mengiyakan. "Ada perlu apa? Kamu ingin berkenalan denganku?" Leo tersenyum meledek.
__ADS_1
"Cih! Pede sekali. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas bingkisan yang kemarin kamu kirim ke rumah. Aku sangat tidak menyangka mendapat kejutan yang sangat luar biasa seperti itu," kata Margaretha. Leo menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum simpul.
"Tidak perlu berterima kasih karena semua aku berikan dengan ikhlas," ujar Leo. Senyuman di bibirnya berubah menjadi sebuah seringai tipis.
"Kalau ikhlas berarti tidak dihitung utang 'kan?" Wajah Marwa tampak berbinar bahagia.
"Bukan, tetapi kamu tetap harus memuaskanku untuk membuat hutang sebelumnya lunas."
"Kenapa kamu plin-plan sekali!" Marwa mulai kehilangan kesabaran. Bahkan, ketakutan dan kegugupan yang baru dirasakan kini lenyap begitu saja. Berubah menjadi rasa dongkol yang membuat gadis itu bersungut-sungut.
Marwa berkacak pinggang lalu menatap Leo dengan tajam. Sementara Leo justru menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum miring. Marwa tidak menyadari kalau dirinya saat ini sudah menjadi pusat perhatian para karyawan di area sekitar. Banyak dari mereka yang berbisik-bisik karena baru kali ini melihat Marwa apalagi gadis itu langsung menantang Leo.
"Tuan! Aku sudah sangat sabar! Lebih baik aku bayar makananku kemarin di kafe daripada harus berurusan dengan lelaki sepertimu! Untuk makanan yang kamu kirim kemarin, lebih baik kamu minta ganti rugi kepada Martu dan Juminten karena mereka yang mengembatnya!" sergah Marwa. Telunjuknya tepat berada di depan wajah Leo. Namun, Leo sama sekali tidak menghindar. Tetap berdiri gagah pada posisinya.
Bukannya takut, tetapi Leo justru tersenyum sinis. Dalam hati dia merasa terhibur dengan tingkah Marwa itu. Seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"Sudah marah-marahnya?" tanya Leo santai sembari tersenyum meledek.
"Sudah. Aku laper." Marwa melipat tangan di depan dada dan bergaya sok cantik.
"Apa peduliku? Kamu bukan istriku yang harus kuingatkan makan," timpal Leo.
__ADS_1
"Ish! Dasar pria menyebalkan!"
Leo terkekeh, "Makanlah. Kalau kamu mau sarapan di ruanganku maka aku dengan senang hati mempersilakan."
"Ogah! Aku enggak mau kamu manfaatin lagi. Bilang saja kamu ngajak sarapan karena ingin ngerjain aku lagi 'kan? Mau menambah beban hidupku eh maksudku utangku 'kan?" tukas Marwa. Menatap Leo penuh kecurigaan.
"Ngerjain bagaimana? Kamu jangan suka berburuk sangka dengan orang lain."
"Aku enggak berburuk sangka, tapi—"
"Edan!"
Marwa terkejut saat mendengar seseorang memanggilnya. Gadis itu makin kaget saat melihat sahabatnya sedang berjalan cepat mendekat sembari berusaha mengatur napas.
"Mesis Ceres!" balas Marwa. Suketi yang mendengar itu pun hanya memutar bola mata malas.
"Jangan malu-maluin gue, Mar! Ini di kantor," dengkus Suketi. Menyenggol pinggang Marwa pelan menggunakan siku.
"Yang bilang ini di kebon siapa? Gue lupa kalau elu kerja di sini, Suk." Marwa menggeleng tidak percaya melihat sahabatnya yang tampak anggun saat berada di kantor. Memakai setelan kemeja berbalut blazzer. Rambut hitam panjang yang digerai. Penampilannya sangat berbeda dengan di rumah yang seperti anak kampung.
"Ya iyalah. Anak kantoran 'kan harus cantik gini." Dengan centil, Suketi mengibaskan rambut ke belakang.
__ADS_1
"Kenalin gue sama bos elu, dong. Tajir 'kan pastinya? Mau gue jadiin Sugar Daddy," bisik Marwa, tetapi masih bisa didengar oleh Leo yang saat ini tersenyum penuh ironi.