
Leo merasa sangat gemas dengan ucapan Marwa yang tidak disaring sama sekali. Hampir saja Leo menelanjangi Marwa dan mengajaknya bercinta saat itu juga. Namun, dia masih menyadari sedang berada di mana mereka saat ini. Leo pun hanya mencium pipi Marwa satu detik karena Marwa langsung menjauh.
"Di rumah kamu boleh menciumiku sepuasmu, tapi tidak di sini." Marwa menahan tubuh Leo yang hendak maju lagi. "Aku malu dilihat orang."
"Baiklah. Aku akan memberimu pelajaran nanti." Leo pun pergi dari sana. Marwa langsung mengembuskan napas lega.
Akhirnya, laki gue pergi juga. Bisa bahaya kalau kelamaan di sini.
Marwa pun kembali bekerja. Marwa tidak menyadari kalau Anjas berdiri di sudut ruangan dan terus saja mengamati interaksi Marwa dan Leo barusan. Bahkan, tanpa disadari rahang Anjas terlihat mengetat dan jemarinya saling mengepal erat.
"Aku harus mencari tahu sebenarnya mereka ada hubungan apa," gumam Anjas. Lalu berjalan menjauh dan melanjutkan pekerjaannya.
***
"Edan! Ini beneran lu!"
Teriakan Zaenab melengking di ruang tamu rumah kontrakan hingga mengejutkan sahabatnya yang lain. Marwa tersenyum senang saat melihat betapa hebohnya Zaenab saat dirinya berkunjung ke sana.
"Emang lu pikir siapa, Zae?"
Marwa duduk di sofa, disusul Zaenab dan yang lainnya.
"Kami udah kangen banget sama elu, Mar," kata Juleha.
"Gue juga kangen banget sama kalian. Gue kemarin kagak bisa pergi karena orang tua gue masih di sini. Jadi, gue habisin waktu sama mereka. Tapi sekarang mereka udah balik ke kampung."
"Terus lu kagak sama Om Duda, Mar?" tanya Sumiatun.
"Heh! Dia bukan duda lagi. Udah jadi suami orang. Nih! Orangnya." Zaenab menangkup kedua pipi Marwa.
__ADS_1
"Lah kalau gue bukan orang terus apa, Zae." Marwa bersidekap kesal.
"Sudah. Jangan ngambek." Juminten yang baru selesai mandi pun ikut nimbrung bersama mereka.
"Habis mandi lu, Jum?" tanya Marwa menatap sahabatnya yang sedang sibuk mengeringkan rambut.
"Habis junub gue, Mar."
"Astaga. Mulut elu kalau ngomong asal jeplak aja, Jum." Marwa menggeleng. Otak Juminten ternyata belum juga beres sampai sekarang.
"Gimana, Mar? Lancar?" tanya Juminten tidak jelas hingga membuat Marwa mengerutkan keningnya dalam.
"Apanya?"
"Ajep-ajepnya, lah. Emang apalagi?" Juminten terkekeh apalagi saat melihat Marwa memutar bola mata malas.
"Astaga. Elu tetep kagak bisa jauh dari gituan ya. Baru juga gue dateng udah langsung ditodong pertanyaan gitu."
"Gue kagak mau cerita. Kalau sampai lu pengen 'kan repot, Jum. Kalian juga!" Marwa menunjuk sahabatnya satu persatu.
"Yaelah, kenapa mesti repot. Banyak jalan menuju puncak meskipun kita tidak memiliki pasangan. Main sendiri juga bisa," pekik Zaenab. Langsung mengaduh karena Marwa sudah menonyor kepalanya cukup kencang.
"Edan lu! Kalian masih perawan, tapi omongan kalian udah ngeri. Gue aja yang udah ngerasain sodokan benda tumpul, kagak berani ngomong sevulgar itu." Marwa menggeleng berkali-kali.
"Pret! Sekarang aja lu kalem karena udah biasa mengemut. Dulu mah mulut lu juga sama parahnya, Mar." Zaenab mendengkus kasar.
"Di mana si Edan? Dia sedang di sini?" Suketi yang barusan masuk pun langsung mencari keberadaan Marwa. Ketika melihat Marwa sedang duduk tenang, Suketi langsung merangkul lengannya dan menunjukan wajah imut. Marwa yang menyadari tatapan itu pun langsung memutar bola mata malas. Dia yakin Suketi memiliki maksud tersembunyi.
"Kenapa lu, Suk?" tanya Marwa curiga.
__ADS_1
"Mar, lu 'kan sekarang udah jadi Ibu Bos gue. Nah, gue yakin kalau lu adalah sahabat gue yang paling baik—"
"Jangan kebanyakan basa-basi. Gue tahu lu minta gue buat ngerayu laki gue, 'kan? Biar gaji lu naik," tukas Marwa. Suketi pun menghela napas panjang.
"Yahh, kok lu bisa tahu, sih, Mar."
"Udah bisa ketebak dari wajah lu."
"Asem emang elu, Mar." Suketi yang merasa kesal pun langsung memukul bahu Marwa. Bukannya membalas, Marwa justru terkekeh karenanya.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, terdengar pintu rumah diketuk cukup kencang. Zaenab yang paling dekat dengan pintu pun bergegas bangun dan langsung tersenyum saat melihat Leo sedang berdiri di ambang pintu.
"Di mana Brielle?" tanya Leo tanpa basa-basi.
"Mar, lu dicari sama penunggang lu," teriak Zaenab membuat Leo melongo.
"Astaga, mulut lu laknat amat, Zae." Marwa protes. Namun, saat baru saja sampai di pintu dia terkejut karena Leo langsung membopongnya bahkan tanpa aba-aba.
"Lepasin aku!" Marwa berusaha melepaskan diri, tetapi dia kalah tenaga.
"Sudah lebih baik diam, atau kamu akan kehabisan tenaga. ingat, setelah ini kita masih harus berolahraga." Leo menurunkan Marwa di kursi depan samping sopir. Lalu dirinya pun ikut masuk ke mobil tersebut.
Aku tidak bisa membayangkan akan sebrutal apa suamiku di ranjang nanti.
Marwa bergidik ngeri saat membayangkan Leo menggenjotnya tanpa ampun meskipun dia sudah berteriak keenakan, eh kesakitan.
"Kamu kenapa?" tanya Leo penasaran.
"Ti-tidak papa." Marwa menjawab gugup. Dia tidak ingin Leo sampai tahu kalau pikirannya sedang mesum saat ini.
__ADS_1
"Bersiaplah. Aku barusan sudah meminum obat kuat, jadi kemungkinan kita akan bermain lima ronde malam ini. Sebagai hukuman tadi siang."
"What! Kamu gila!" Marwa memekik tidak percaya. Namun, Leo justru tersenyum miring dan merasa senang melihat reaksi istrinya itu.