Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
16


__ADS_3

Astaga, otak gue kotor amat ya.


Marwa menepuk kening untuk mengusir pikiran mesum yang bersarang di otak. Sementara Leo menautkan kedua alisnya, menatap heran ke arah gadis itu.


"Kamu kenapa geleng-geleng sudah seperti orang dugem saja?" tanya Leo.


"Tidak papa!" sahut Marwa ketus. "Ada perlu apa kamu minta ketemuan?" tanyanya.


"Aku ke sini ingin memberimu penawaran agar hutangmu bisa lunas," ucap Leo. Marwa menoleh dan menatap penuh ke arah Leo yang saat ini sedang menunjukkan senyum seringainya.


"Penawaran apa? Kamu mau mengajakku nikah kontrak? Aku enggak mau!" Marwa bangkit berdiri lalu berkacak pinggang.


"Kalau kamu tidak mau kuajak nikah kontrak maka kebetulan sekali ... aku akan mengajakmu nikah resmi."


Marwa tercengang mendengar ucapan Leo yang terdengar tidak main-main. Bahkan bola mata gadis itu sampai melebar sempurna seperti hendak lepas dari tempatnya. Jangan tanya lagi bagaimana ekspresi Leo, tentu saja lelaki itu tersenyum tipis saat melihat raut wajah Marwa yang begitu menggemaskan.

__ADS_1


"Kamu jangan gila!" Marwa menghempaskan tubuhnya kembali di tempat tidur, dan menatap Leo tidak percaya.


"Aku memang gila. Gila karena—"


"Stop!" Marwa menaruh telunjuknya di mulut Leo hingga membuat lelaki itu bungkam seketika. "Jangan diterusin! Aku takut akan tergoda sama mulut manismu."


Marwa tersentak saat Leo menyingkirkan telunjuknya secara kasar. Kemudian, lelaki itu mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka sangatlah dekat. Marwa sedikit menyingkir karena takut Leo akan menerkamnya saat ini.


"Ja-jangan dekat-dekat." Marwa berusaha mendorong dada bidang Leo agar tubuh lelaki itu menjauh, tetapi dia kalah tenaga. Leo hanya bergeser sedikit saja.


"Dari mana kamu tahu kalau bibirku manis? Apa kamu pernah merasakannya?" tanya Leo lembut. Tepat di belakang telinga Marwa hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Kamu tidak mau jawab? Maka aku akan membuatmu merasakan manisnya bibirku ini dan kamu akan ketagihan. Aduh!"


Leo mengerang kesakitan saat tangan Marwa mendarat bebas di atas adik kecilnya yang baru saja hendak terbangun. Dia memegangi aset paling berharga miliknya dan merasakan nyeri karena pukulan gadis itu.


"Ma-maaf, Tuan. Aku memang sengaja melakukannya." Marwa bangkit berdiri lalu berlari sekencang mungkin meninggalkan Leo yang masih kesakitan. Dia tidak peduli pada teriakan Leo yang terus saja memanggil namanya.

__ADS_1


"Aaaghhh!! Sial! Lihat saja. Aku akan memberi balasan karena kamu sudah melukai adik kecilku!" sumpah Leo. Sungguh, dia tidak menyangka kalau Marwa akan seberani itu padanya.


***


"Haahhh haaahhh!!


Marwa mengatur napas yang tersengal saat baru saja masuk ke kontrakan. Dia berdiri di belakang pintu yang sudah dia kunci rapat-rapat. Marwa sesekali mengintip dari balik jendela dan mengembuskan napas lega saat tidak melihat Leo mengejarnya.


"Elu kenapa, Mar?" tanya Juleha yang baru keluar dari dapur.


"Gue ... habis ... anu ...." Marwa menjawab terbata karena napasnya masih belum beraturan.


"What! Kamu habis anu? Sama Om Duda?" tanya Juleha. Matanya melebar sempurna. Sedang berada di otak yang tidak konsen, Marwa justru mengangguk cepat.


"Astaghfirullah. Sumpah, Mar! Gue kagak nyangka ternyata elu mudah tergoda pesona duda sampai rela keperawanan elu terenggut olehnya." Juleha menggeleng. Merasa tidak percaya dengan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2