Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
53


__ADS_3

Marwa tampak sibuk mengabsen makanan yang tersaji di depannya, sedangkan sahabat wanita itu yang merupakan anggota GTD hanya berdiri sembari menelan ludah. Mereka ingin sekali melahap makanan tersebut, tetapi Marwa belum memberikan izin. 


"Mar, minta dikit napa, sih." Zaenab berbicara setengah kesal. Menahan rasa lapar sejak tadi. 


"Nanti dulu." Marwa masih terus sibuk bahkan dia mulai terus mengambil gambar dalam berbagai sudut. 


"Iya, sih, Mar. Gue juga pengen kali." Juminten mendengkus kasar. Ingin sekali dia merem*s sahabatnya yang menurutnya laknat itu.


"Iya, kalau lu cuma mau pamer. Mending sana bawa pulang aja. Jangan makan di sini." Zaenab mulai kehabisan kesabaran. 


"Hahaha. Jangan sensi, Zae. Lu lagi PMS?" Marwa dengan santai menghadapi Zaenab yang sedang kesal. "Dah, nih. Kalian makan aja, deh. Habisin dan jangan ada yang tersisa." 


Mendengar perintah Marwa. Mereka pun saling berebutan untuk mengambil makanan yang sejak tadi sudah jadi incaran. Marwa hanya tersenyum simpul ketika melihat sahabatnya yang begitu antusias. Rasanya ikut kenyang ketika melihat mereka makan. 


"Jangan lupa terima kasih sama anak gue," kata Marwa. Mereka pun bergantian mengecup perut Marwa hingga membuat wanita itu geli sendiri. 


***


Waktu terus berlalu. Perut Marwa pun sudah terlihat sangat buncit karena sudah memasuki trisemester ketiga. Marwa makin tidak bebas pergi karena Leo selalu melarang bahkan Leo menyiapkan pelayan yang selalu mengikuti ke mana pun Marwa pergi. 


"Perutku sakit sekali." Marwa terus mengusap perutnya yang mulai terasa nyeri bahkan terasa sampai pinggang. 

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Leo bingung. Pasalnya semalam Marwa baik-baik saja. Bahkan, wanita itu habis yang memimpin percintaan panas mereka.


"Entah, Mas. Apa mungkin aku akan melahirkan?" cetus Marwa. 


"Yang benar saja. Kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit." Leo pun tanpa menunggu lama langsung membopong Marwa. Tak lupa menyuruh pelayan untuk membawakan perlengkapan melahirkan yang sudah disiapkan sebelumnya. 


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Marwa terus saja meringis kesakitan. Kontraksi itu terkadang datang dan pergi begitu saja. 


Ketika diperiksa, ternyata Marwa memang sudah hampir melahirkan. Sudah pembukaan lima dan itu artinya mereka harus menyiapkan segalanya. 


"Kamu masih kuat, 'kan?" tanya Leo cemas ketika beberapa kali melihat Marwa yang merintih. Wajah Marwa pun sedikit terlihat pucat. 


Kecupan Leo pun mendarat di kening Marwa dengan sangat lembut. Namun, dia terkejut saat Marwa tiba-tiba merintih kesakitan dan ternyata sudah pembukaan lengkap. 


"Bersiaplah sebentar untuk mengejan, Nona," perintah dokter. 


"Tunggu dulu, Dok," kata Marwa. 


Dokter itu pun menatap heran saat Marwa justru meminta ponsel. Bahkan, bunyi memanggil terdengar menggema di ruangan itu. 


"Oe! Mar! Apaan." Suara Zaenab dari seberang terdengar menggema di sana. 

__ADS_1


"Mana yang lain. Kagak usah kelamaan bayi gue mau keluar." Marwa meringis. 


Mendengar itu pun Zaenab segera memanggil anggota GTD yang lain hingga wajah mereka memenuhi layar ponsel Marwa. Sementara Leo hanya bisa menggeleng saat melihat apa yang dilakukan sang istri tanpa melepaskan genggaman tangannya. 


"Dok, saya ingin mengejan." 


"Baiklah. Mengejanlah seperti Anda ingin buang angin besar karena sembelit," kata dokter itu. Marwa pun mengangguk mengiyakan. 


"Kalian dengar. Mengejan seperti sedang sembelit," kata Marwa. Mereka hanya mengiyakan. 


Ada hal yang membuat para perawat dan dokter itu tergelak. Ketika Marwa mengejan maka anggota GTD itu pun ikut mengejan seperti orang sedang paduan suara. Begitu kompak. 


Tiga kali Marwa mengejan, suara bayi pun terdengar di ruangan itu disusul oleh suara kentut yang sangat keras. 


"Astaga, Zae!! Lu ikut ngelahirin juga!" Teriakan itu terdengar begitu keras. Marwa juga terkekeh melihat Zaenab yang sedang ditonyor oleh yang lain. 


"Ya maaf, kelepasan. Anggap aja bayi gue juga udah lahir." Zaenab menjawab santai dan makin mengundang gelakan tawa. 


Ya Tuhan ... mereka sungguh—entahlah.


Leo tidak tahu lagi harus berbicara apa ketika melihat semua itu. Baginya yang lebih penting sekarang adalah melihat buah hatinya yang sedang dibersihkan dan tidak sabar ingin segera menggendongnya.

__ADS_1


__ADS_2