Kepincut Cinta Om Duda

Kepincut Cinta Om Duda
34


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju ke kantor Leo, Marwa terus saja merasa gelisah. Bayangan ajep-ajep di kantor begitu menggoda pikirannya. Sungguh, Marwa merasa takut Leo benar-benar akan melakukan hal itu padanya.


"Silakan turun, Nona." Seorang anak buah Leo membuka pintu mobil dan menyuruh Marwa agar segera turun. Marwa pun berjalan gugup karena ini pertama kalinya dia ke perusahaan Leo setelah mereka resmi menjadi suami-istri.


Marwa merasa tidak nyaman saat melihat banyak pasang mata dari karyawan Leo yang terus menatap ke arahnya. Bahkan, ada beberapa dari mereka yang terlihat menatap risih. Membuat kenyamanan Marwa makin terganggu.


"Kupikir Tuan Leo akan menikah dengan wanita yang lebih baik daripada Nona Angel, tapi ternyata tidak."


Marwa memperlambat langkahnya saat samar-samar mendengar gosipan dari karyawan Leo yang tidak menyadari keberadaan Marwa di dekatnya karena mereka pikir Marwa sudah pergi.


"Benar. Justru sangat tidak sebanding dengan Nona Angel yang cantik dan tentu saja dari kalangan kelas atas," imbuh yang satunya.


"Entah pelet apa yang digunakan wanita itu sampai Tuan Leo begitu terpikat dengannya."


Hati Marwa serasa memanas saat mendengar ucapan tersebut. Tangannya terkepal erat dan rahangnya terlihat mengeras. Namun, di detik selanjutnya Marwa menghela napas panjangnya dan berusaha untuk meredam emosi jangan sampai naik. Dia tidak ingin lepas kontrol dan itu tidak baik untuknya.


Tidak ingin semakin mendengar gunjingan tentang dirinya, Marwa pun berjalan tergesa menuju ke ruangan Leo. Tanpa mengetuk pintu, anak buah Leo langsung membuka dan meminta Marwa agar segera masuk.

__ADS_1


"Kamu sudah sampai?" tanya Leo. Mengalihkan pandangannya sesaat ke arah Marwa. Lalu kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai.


Marwa tidak langsung menjawab, tetapi dia menghempaskan tubuhnya secara kasar lalu bersidekap erat. Melihat gerak-gerik istrinya, Leo pun mengalihkan pandangan dari layar komputer lalu bangkit dan berjalan mendekati Marwa. Tatapan Leo begitu menelisik wajah Marwa yang terlihat dipenuhi kekesalan.


"Kamu kenapa?" tanya Leo. Duduk di samping Marwa lalu mengusapkan ibu jarinya lembut di pipi istrinya.


"Tidak papa." Nada bicara Marwa begitu ketus seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Kamu yakin tidak papa? Kenapa aku tidak percaya." Leo beralih mengecup pipi itu hingga membuat senyum Marwa mulai terlihat meskipun tipis.


"Kalau kamu tidak percaya ya sudah. Em, ada perlu apa kamu menyuruhku ke sini?" Marwa berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tidak. Dasar bucin," cebik Marwa. Namun, itu hanyalah sebatas candaan karena di dalam hati Marwa bersorak kegirangan dengan sikap Leo yang sangat menyayanginya.


"Memangnya aku tidak boleh bucin dengan istriku sendiri? Atau aku harus bucin dengan wanita lain saja kalau kamu tidak suka," seloroh Leo. Dia pun tergelak saat melihat mata Marwa yang sudah melotot ke arahnya. "Jangan besar-besarin mata kamu gitu, nanti kalau copot gimana?"


"Kamu menyebalkan!"

__ADS_1


"Sudah, jangan ngambek. Nanti cantikmu hilang," rayu Leo.


Ya Tuhan, kenapa Om Duda begitu lembut. Kalau seperti ini terus, gue benar-benar tidak bisa marah sama dia.


"Aaaaa!" Marwa berteriak saat Leo tiba-tiba menindihnya. "Lepaskan aku. Nanti kalau ada karyawan kamu gimana?"


"Biarkan saja. Mereka juga pasti akan pergi." Leo menjawab enteng seolah tanpa beban sama sekali. Marwa masih berusaha meronta, tetapi Leo tetap saja menggerayangi Marwa hingga membuat Marwa pun terbuai dan mulai mengimbangi permainan Leo.


"Tuan maaf sa—"


Kegiatan Marwa dan Leo terhenti saat mendengar suara merdu dari seorang wanita yang baru saja hendak masuk dan saat ini berdiri melongo di ambang pintu. Beruntung, saat itu Leo dan Marwa masih menggunakan pakaian lengkap, hanya kaos Marwa saja yang sedikit tersingkap dan Leo langsung membantu membenarkan.


Pengantin baru itu pun duduk tegak, sedangkan karyawan wanita tadi hendak pergi karena merasa tidak enak sendiri. Namun, Leo menahan langkahnya dan meminta untuk masuk dan membicarakan soal pekerjaan. Ketika wanita itu berjalan di depan Marwa, tatapan Marwa tidak lepas sedikit pun dari buah durian yang menggantung besar dan terlihat sepertiga bagiannya karena dua kancing kemeja yang dikenakan wanita itu terlihat terbuka.


Busett! Gede amat tuh melon, punya gue kagak ada setengahnya. Kalau gue dan dia disandingkan pasti seperti buah jeruk disandingkan dengan semangka.


Lu gimana sih, Mar! Tadi katanya durian, sekarang melon habis itu semangka. Lu mau komen soal buah dada apa mau bikin es buah, Mar.

__ADS_1


Udah diem! Jangan berisik!


__ADS_2