
Leo terkekeh saat melihat Marwa yang terus saja memegang aset berharganya. Terlihat khawatir Leo akan menyentuh atau bahkan menyesap buah yang masih kecil itu.
Otak lu tolong kondisikan, Mar!
"Ternyata kamu baru sadar kalau milikmu masih kecil? Bahkan tidak ada dalam satu genggaman tanganku." Leo menunjukkan tangannya yang seolah sedang menggenggam sesuatu.
Badannya besar, s*s*nya kecil.
Kalau mendes*h, si kecil langsung bangun
Oe! Itu lagu apaan! Belum ngerasain digibeng lu ya!"
Cut! Kembali ke cerita.
Marwa berpura-pura marah karena Leo terus saja tersenyum meledek ke arahnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang lalu mengambil guling dan memeluknya erat. Padahal sebenarnya Marwa tidak benar-benar marah. Dia hanya menggunakan kesempatan itu agar bisa menikmati tiduran di atas ranjang empuk. Daripada ngiler ye, 'kan?
"Kenapa kamu malah duduk di situ. Mandi dulu baru naik ke sini," perintah Leo. Namun, Bukannya bangkit, Marwa justru menggoda dengan mengeratkan pelukannya pada guling empuk itu. Marwa senang sekali membuat Leo marah-marah agar lelaki itu cepat tua. Eh, tapi jangan! Kalau wajah Leo awet tua, nanti pas diajak kondangan bisa malu-maluin. Masa iya dia masih cantik jelita, gandengan sama aki-aki yang giginya tinggal dua.
Marwa pun segera bangkit sebelum Leo makin marah-marah. Namun, belum juga dirinya duduk tegak, Leo sudah menindihnya. Memasukan tubuh mungil Marwa dalam kungkungannya hingga Marwa pun tidak bisa lagi menghindar. Bahkan, guling yang barusan dipeluk Marwa pun sudah terlempar ke lantai.
"Aku mau mandi." Marwa berkilah, tetapi Leo justru tersenyum miring.
"Mandi nanti saja. Kita mandi keringat dulu baru setelah itu kita akan mandi air bersama," kata Leo. Bola mata Marwa membulat penuh seolah akan lepas dari tempatnya.
"A-aku tidak mau." Marwa berusaha mendorong Leo. Sepertinya dia lupa kalau usahanya hanya akan sia-sia. Terbukti beberapa kali kesempatan dia melakukan itu dan sama sekali tidak bisa menyingkirkan tubuh Leo.
"Kamu harus mau karena saat ini aku tidak akan melepaskanmu lagi." Leo menatap Marwa penuh napsu. Marwa pun menelan ludahnya susah payah saat membayangkan adegan ranjang yang sangat panas. Di mana Leo menggempurnya habis-habisan.
"Tolong, jangan kencang-kencang. Aku masih perawan."
Leo yang baru akan mulai mencium kening Marwa pun mengurungkannya saat mendengar teriakan Marwa. Mata gadis itu terpejam dan kepalanya berkali-kali menggeleng. Leo mendengkus kasar lalu menyentil kening Marwa hingga gadis itu pun membuka mata saat itu juga.
"Jangan kencang-kencang," rengek Marwa memasang wajah memelas.
"Apanya? Aku bahkan belum mencium kamu sama sekali." Leo berusaha menahan kekesalan.
__ADS_1
"Eh belum ya? Aku kira sudah," kata Marwa santai. Menunjukkan senyum seolah tanpa dosa.
"Astaga. Kamu benar-benar sangat menyebalkan." Leo yang sudah merasa sangat gemas pun langsung mendaratkan ciuman di leher Marwa bahkan menciptakan tanda kepemilikan di sana. Tidak peduli pada Marwa yang sudah mendes*h kesakitan eh keenakan dan jujur Marwa merasa ketagihan.
"Kok ciumnya cepat banget." Ucapan Marwa tersebut sontak membuat Leo terdiam sesaat. Leo pikir Marwa akan menolak dan memukuli dirinya, tetapi ternyata prasangkanya salah. Marwa justru menantang padanya.
"Kamu mau lagi? Mana yang ingin aku beri stempel kepemilikan? Di sini, sini, sini, atau sini?" Leo menunjuk pipi, bibir, leher, dan dada Marwa. Lelaki itu tersenyum puas rasanya.
"Akuโ"
Belum juga Marwa selesai berbicara, Leo sudah meraup bibir Marwa. Menciumnya mesra. Marwa begitu kaku bahkan belum bisa membalas ciuman itu sama sekali. Bagaimana tidak, ini adalah ciuman pertama Marwa yang langsung direnggut oleh Om Duda.
Semakin detik berlalu, Marwa makin terbuai pada ciuman Leo. Laki-laki itu benar-benar melakukannya dengan sangat lembut. Apalagi saat Leo mengakses seluruh rongga mulut Marwa menggunakan lidah. Menciptakan sebuah sensasi memabukkan yang membuat Marwa tidak mampu lagi menolak.
Klunting!
Klunting!
Klunting!
Ciuman itu terhenti saat ponsel Marwa berbunyi tanpa henti. Leo berusaha tidak peduli, tetapi Marwa langsung mendorong tubuh Leo. Kali ini berhasil karena Leo sedang dalam posisi yang tidak siap. Marwa pun mengambil ponsel untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan secara beruntun seperti itu. Saat melihat ternyata itu pesan dari para sahabatnya, Marwa pun hendak menaruh ponselnya kembali, tapi di sisi lain jiwa keponya meronta. Ingin tahu apa yang mereka obrolkan. Kenapa ramai sekali padahal Marwa yakin kalau sahabatnya saat ini sedang di kontrakan semua.
Zaenab :
Si Edan kira-kira udah jebol gawang belum, ya?
Sumiatun :
Mana gue tahu, Zae. Palingan juga udah.
Juleha :
Emangnya kenapa, Zae? Kepo amat lu.
Zaenab :
__ADS_1
Ya, gue penasaran aja. Secara gue belum pernah ngerasain terong coklat. Jangankan ngerasain, ngeliat secara langsung aja belum pernah kecuali punya adik gue pas kecil.
Martu :
Makanya nikah, Zae. Biar elu tahu ular kasur yang bisa membesar pas dipegang. Kalau lagi tidur mah paling segede jempol kaki.
Juminten :
Woi! Kalian bahas apa? Gue ikutan dong, kayaknya seru.
Zaenab :
Yaelah, ratu mesum datang. Suketi mana? Kenapa diam diem aja? 'Kan suaminya si Marwa bosnya Suketi.
Suketi :
Apa manggil-manggil? Gue habis berak. Pada bahas apa, sih?
Sumiatun :
Suk, kita lagi pada penasaran, si Edan udah diperawanin si Duda belum ya?
Suketi :
Pasti udahlah. Secara Bos Leo udah lama enggak main jungkat-jungkit, jadi begitu ada mangsa langsung diterkam.
Marwa merasa dongkol saat membaca obrolan absurd sahabatnya. Marwa pun membalas obrolan itu dengan kesal. Terlihat dari jarinya yang menekan layar dan terdengar bunyi saat mengetuk layar tersebut.
"Kenapa kamu terlihat sangat marah sekali?" tanya Leo merasa heran saat melihat raut wajah Marwa.
"Tidak papa." Marwa menjawab singkat.
Daripada kalian penasaran, mendingan kita video call dan gue bakalan tunjukkin gimana permainan gue sama Om Duda!
Marwa pun langsung meletakkan ponselnya secara kasar. Bibirnya menggerutu dan mengumpati sahabatnya satu persatu. Termasuk Othor.
__ADS_1
Tinggal kasih malam pertama, kenapa mesti banyak aral rintangan, sih, Thor!
Jangan lupa dukungan kalian selalu Othor tunggu guys ๐๐