
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Marwa berusaha terlihat tenang di depan suaminya.
"Aku? Tentu saja menjemput istriku. Memangnya apa lagi?" Leo menjawab ketus. Ekor matanya melirik Anjas dengan sengit. Terlihat jelas bahwa dia sangat tidak menyukai keberadaan lelaki itu di dekat istri tercintanya. Ciee istri tercinta dan satu-satunya. Ihiiir!! Marwa tiba-tiba terbang melayang, menembus bintang-bintang. Eee malah nyanyi.
"Ish! Aku belum puas. Aku masih ingin main sama teman-temanku," Marwa berbicara setengah merengek. Namun, dia langsung bergelayut manja saat melihat sorot mata Leo yang menajam. "Jangan marah. Lebih baik sekarang kita pulang."
Leo hanya menurut saat Marwa menarik tangannya pergi dari sana. Namun, sudut bibirnya tertarik saat melihat Anjas yang sedang berdiri sembari mengepalkan tangan.
"Woi, Mar! Katanya mau nraktir kita," teriak Zaenab.
"Utang dulu sama Anjas. Besok gue yang bakal lunasin!" balas Marwa juga berteriak, tidak peduli pada tatapan orang-orang yang sudah mengarah padanya.
Mendengar teriakan itu, Leo pun menghentikan langkahnya hingga Marwa juga ikut berhenti. Lalu Leo melambaikan tangan menyuruh Zaenab untuk mendekat padanya.
"Kenapa, Om?" tanya Zaenab heran. Gadis itu makin heran saat melihat Leo mengeluarkan dompet dan memberikan lima lembar uang seratus ribuan kepada Zaenab.
"Ini untuk kalian. Anggap saja traktiran dari Brielle. Jangan hutang, memalukan!" Wajah Leo tampak tidak bersahabat. Setelah menyerahkan uang tersebut, sekarang gantian Marwa yang ditarik oleh suaminya pergi dari tempat itu.
"Woi, Zae. Dapat traktiran kita. Asekkk." Juminten tanpa malu melenggokan pinggulnya, sedangkan Zaenab tergelak keras.
__ADS_1
Sungguh dua gadis yang tidak punya rasa malu!
Enggak papa yang penting punya ********.
Bayangkan saja Zaenab dan Juminten saling menjulurkan lidah.
"Ayo kita beli seblak aja daripada di sini," ajak Zaenab. Hendak pergi, tetapi Juminten segera menahan.
"Zae. Ngapain, sih, beli seblak. Bosen juga. Mumpung di sini kita makan enak aja." Juminten menatap Zaenab dengan wajah memelas. Sungguh, dia ingin sekali makan di mall seperti ini bukan di warung biasa yang jelas lidahnya sudah terbiasa. Dia ingin merasakan hal yang lain.
"Di sini mahal, Jum. Kagak kenyang." Zaenab berbicara jujur, sedangkan Juminten hanya mendengkus kasar. Namun, dalam hatinya membenarkan ucapan Zaenab kalau makanan di tempat seperti itu biasanya mahal, tetapi tidak mengenyangkan.
"Ntar kalau kita kalap, terus pesan banyak dan uangnya kurang, bisa-bisa elu disuruh cuci piring, Jum. Lu mau?" Zaenab berusaha menakuti.
"Mulut kalau udah kebanyakan nonton bokep, jadi gini, nih. Yang ada di pikiran cuma hal-hal yang berbau mesum," protes Zaenab.
"Bukan gitu, Zae. Gue cuma—"
"Dah, mendingan kita pulang aja. Sebelum kemaleman. Makan di sini ntar kalau kita udah gajian." Zaenab menarik tangan Juminten dan yang ditarik hanya menurut.
__ADS_1
"Tunggu!" teriak Anjas. Menghentikan langkah dua gadis somplak itu. Zaenab dan Juminten pun berbalik dengan gaya yang dibuat slowmotion sembari mengibaskan rambut seperti di film-film. Lagi-lagi, Anjas dibuat tersenyum oleh tingkah mereka.
"Zae, kita seperti lagi main film ya," bisik Juminten. Zaenab mengangguk saja karena tatapannya tertuju pada sosok Anjas yang sedang berjalan mendekat.
"Aku akan menraktir sepuas kalian makan di sini," tawar Anjas. Kedua gadis itu pun membulatkan mata penuh. Menatap Anjas dengan tidak percaya.
"Kamu serius?" pekik mereka bersamaan.
"Tentu saja. Gratis untuk kalian." Anjas berbicara yakin. Zaenab dan Juminten pun bersorak kegirangan seperti anak kecil yang diajak ke pasar malam. "Tapi ada syaratnya."
Mendengar kata 'syarat' sontak membuat Zaenab dan Juminten langsung terdiam saat itu juga. Senyum yang barusan mengembang pun kini memudar seketika.
"A-apa syaratnya? Jangan aneh-aneh." Juminten berbicara terbata karena pikirannya masih berusaha menerka.
"Iya, jangan minta dibuatkan seribu candi, kita tidak akan sanggup. Kecuali kalau bubur candi kita masih bisa," seloroh Zaenab diiringi gelakan tawa.
"Heh, itu bubur candil. Bego' lu!" hina Juminten. Namun, Zaenab hanya menunjukkan senyum seolah tanpa dosa.
"Sudah. Aku tidak akan memberikan syarat itu. Aku cuma ingin bertanya tentang Brielle karena dari yang aku lihat, kalian sangat dekat dengan Brielle," tutur Anjas.
__ADS_1
Zaenab dan Juminten mendes*hkan napas ke udara secara kasar. "Markonah lagi, Markonah lagi. Hoki banget dia di cerita kali ini."
Author said : Diem! Jangan pada protes.